Kebenaran yang terungkap


Alkitab memberikan kita sarana untuk dapat membedakan mana nabi yang benar dan mana nabi yang palsu:
“Tetapi nabi yang lancang berkata-kata di dalam nama-Ku, yang tidak aku perintahkan untuk mengatakannya dan yang berkata dalam nama ilah yang lain, maka nabi itu harus mati. Dan apabila kamu berkata di dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak YAHWEH katakan? Yaitu, Apabila seorang nabi berkata demi nama YAHWEH dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak menjadi kenyataan, itulah perkataan yang tidak YAHWEH katakan – nabi itu telah berbicara dengan lancang, maka janganlah takut kepadanya” Ulangan 18:20-22.
Berdasarkan apa yang dikatakan Tuhan dalam ayat-ayat sebelumnya, kita akan menguji beberapa prediksi yang dibuat Muhammad dalam Qur’an dan tradisi-tradisi Islam untuk melihat apakah ia lulus dari pengujian Tuhan. 
Berkenaan dengan Penaklukkan Roma Terhadap Persia  
Sura 30:2-4: “Telah dikalahkan bangsa Rumawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi).”   
Sebagaimana dinyatakan dalam nubuatan tersebut, Kerajaan Byzantium memang mengalami kemenangan terhadap bangsa Persia yang pada awalnya telah mengalahkan mereka. Namun ada beberapa permasalahan mendasar sehubungan dengan nubuatan ini:
  • Menurut Yusuf Ali, bahasa Arab untuk “dalam beberapa tahun lagi”, yaitu  Bidh'un, mengandung pengertian suatu periode antara 3 sampai 9 tahun (bukan sepuluh atau belasan keatas); namun menurut catatan sejarah kemenangan itu tidak mereka alami hingga hampir 14 tahun kemudian. Orang Persia mengalahkan Byzantium dan menawan Yerusalem pada sekitar tahun 614 atau 615 M. Serangan balasan Byzantium tidak dimulai hingga 622 M dan kemenangan itu tidak dicapai sepenuhnya hingga 628 M, sehingga seluruhnya menjadi suatu periode antara 13 hingga 14 tahun, bukan hanya “beberapa tahun” seperti yang dikemukakan Qur’an.  
  • Sejarawan dan komentator Muslim yang terkemuka, al-Tabari, berpendapat kemenangan Roma terjadi pada 628 M (6 Hijriah), tepat setelah penandatanganan perjanjian  Hudaiybiya:
Menurut Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b. Ishaq – Ibn Shihab al-Zuhri -'Ubaydallah b. 'Abdullah b. 'Utbah b. Mas'ud – ‘Abdullah b. 'Abbas – Abu Sufyan b. Harb, yang mengatakan: “Saudara-saudara, kami hanyalah pedagang. Perang antara kami dengan Rasul Allah telah menghalangi perjalanan kami, sehingga kesehatan kami merosot. Setelah perjanjian damai antara kami dengan Rasul Allah, kami takut kami tidak akan mendapatkan keamanan. Saya pergi ke Syria dengan sekelompok pedagang  Quraysh. Tujuan utama kami adalah Gaza, dan kami tiba pada saat Heraclius menang atas orang Persia yang ada di negerinya – ia mengusir mereka dan mengambil kembali Salib Besarnya dari mereka, yang telah mereka rampas. Setelah menyelesaikan semuanya ini dan setelah menerima berita bahwa salibnya telah diselamatkan dari mereka (saat itu ia tinggal di Hims), ia pergi kesana berjalan kaki sambil bersyukur kepada Tuhan yang telah mengembalikan salib itu kepadanya, dan dapat berdoa di Yerusalem. Karpet-karpet digelarkan baginya, dan dedaunan wangi ditebarkan di atasnya. Ketika ia tiba di Yerusalem dan melaksanakan ibadah – ia disertai para komamndan militernya dan kaum bangsawan Roma – ia bangun dengan bersusah hati di suatu pagi sambil memandangi langit...” (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, diterjemahkan oleh Michael Fishbein [State University of New York Press, Albany 1997], Volume VIII, h. 100-101; penekanan dengan huruf tebal oleh redaksi)
Catatan kaki penerjemah berbunyi:
436. “Pada 627 Heraclius menginvasi kekaisaran Persia, dan pada bulan Desember tahun itu memperoleh kemenangan yang besar dekat Niniweh kuno, tetapi harus mundur tidak lama setelah itu. Namun demikian, pada Februari 628, Kaisar Persia dibunuh, dan putranya yang menggantikannya menginginkan damai. Tetapi sekitar 628 Heraclius menganggap dirinya sendiri telah menang, namun negosiasi mengenai evakuasi kekaisaran Byzantium oleh bangsa Persia tidak selesai hingga Juni 629. Pada September 629 Heraclius memasuki Konstantinopel sebagai pemenang, dan pada Maret 630 mengembalikan Jalan Suci ke Yerusalem" (Watt, Muhammad at Medina, 113-114). Lihat juga Ostrgorsky, History of the Byzantine State, 103-4. (Ibid., penekanan oleh penulis).
Kumpulan Hadis al-Bukhari memberikan keterangan lebih lanjut bahwa kunjungan Abu Sufyan dengan Heraclius terjadi setelah penandatanganan perjanjian Hudaiybiya:
Dikisahkan oleh  Abdullah bin 'Abbas: 
Bahwa Abu Sufyan bin Harb memberitahukannya bahwa Heraclius memanggilnya dan para anggota karavan dari Quraysh yang telah berangkat ke Sham sebagai pedagang, selama kesepakatan damai yang dibuat Rasul Allah dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.  (Sahih al-Bukhari, Volume 4, Buku 53, Nomor 399)
Watt mengemukakan kemenangan utuh Roma pada 630 M, limabelas hingga enambelas tahun setelah nubuatan Muhammad!
  • Teks asli Qur’an tidak mempunyai huruf hidup. Jadi, kata Arab Sayaghlibuna, “mereka akan mengalahkan,” dapat dengan mudah tertukar artinya, dengan mengubah dua huruf hidup, menjadi Sayughlabuna, “mereka (yaitu bangsa Roma) akan dikalahkan.” Oleh karena huruf hidup tidak ditambahkan beberapa waktu setelah peristiwa ini, sangatlah mungkin si penulis dengan sengaja bermain-main dengan teks tersebut, memaksakan teks tersebut seolah menjadi sebuah pernyataan profetis (nubuatan ilahiah).     
Kenyataan ini diperkuat oleh komentator Muslim al-Baidawi. C.G. Pfander menyebutkan komentar Baidawi dalam berbagai bacaan di seputar teks ini:
“Tetapi Al Baizawi mengaburkan keseluruhan argumen orang Muslim dengan memberi informasi pada kita mengenai beberapa varian pembacaan ayat-ayat dari Suratu'r Rum. Ia mengatakan pada kita bahwa ada yang membaca غَلَبَتِ  dan bukannya seperti biasanya, غُلِبَتِ, danسَيُغْلَبُونَ  alih-alih سَيَغْلُبُونَ. Maknanya kemudian akan menjadi: ‘Orang-orang Byzantium telah menaklukkan bagian terdekat negeri itu, dan mereka akan dikalahkan dalam beberapa tahun’. Jika ini adalah pembacaan yang tepat, maka kisah pertemuan Abu Bakr dengan Ubai pasti hanya sebuah dongeng, oleh karena Ubai sudah wafat jauh sebelum orang Muslim mulai mengalahkan Byzantium, dan bahkan jauh sebelum kemenangan-kemenangan Heraclius atas Persia. Ini menunjukkan betapa tradisi-tradisi semacam itu tidak dapat dipercayai. Penjelasan yang diberikan Al Baizawi adalah, orang-orang Byzantium menjadi para penakluk ‘negeri Syria yang terairi dengan baik’ (على ريف آلْشام), dan teks tersebut menubuatkan orang Muslim segera akan mengalahkan mereka. Jika artinya seperti ini, maka tradisi yang mencatat ‘turunnya’ ayat-ayat itu sekitar 6 tahun sebelum Hijrah pastilah salah, dan teks itu paling awal bertanggal 6 Hijriah. Sudah jelas bahwa, oleh karena huruf hidup tidak digunakan ketika Qur’an pertama kalinya ditulis dalam huruf Kufik, tidak seorangpun dapat memastikan yang manakah dari dua pembacaan tersebut yang benar.
Kita telah melihat ada banyak ketidakpatian mengenai: (1) Tanggal ayat-ayat tersebut ‘diturunkan’, (2) Pembacaan yang benar, dan (3) Maknanya, sehingga sangat mustahil untuk menunjukkan bahwa teks tersebut memuat nubuatan yang telah digenapi. Oleh karena itu, teks tersebut tidak dapat dijadikan bukti nubuat kenabian Muhammad”.  (C. G.  Pfander, Mizan-ul-Haqq – The Balance of Truth, revised and enlarged by W. St. Clair Tisdall [Light of Life P.O. Box 18, A-9503, Villach Austria], h. 279-280; penekanan oleh penulis)   
Dengan keadaan ini, seorang Muslim tidak dapat dengan yakin mengatakan pada kita pembacaan teks mana yang benar dan dengan demikian tidak dapat meyakinkan kita bahwa ayat ini aslinya menubuatkan kemenangan Byzantium atas Persia. Bahkan ini memberikan kita nubuat yang (ternyata) palsu dalam Qur’an.
  • Kita menjadi heran melihat nubuat dari Tuhan tidak dapat memerinci waktu kemenangan yang dialami, mengingat Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, yang telah menetapkan akhir dari sebuah permulaan. Ketika Tuhan memerinci suatu kerangka waktu sebagai sebuah bagian yang penting dari nubuatan maka kita mengharapkan ketepatan waktu, bukan menerka-nerka tanpa juntrung. Apabila Tuhan menebak orang Byzantium pada suatu ketika akan menang, yaitu dalam “beberapa tahun” (yang ternyata nyasar kebelasan tahun) dan bukannya menetapkan tahun yang pasti, itu tidaklah konsisten dengan keyakinan akan Dia yang Maha Kuasa dan Maha Hadir. Dengan demikian, tidak mungkin Tuhan yang sejati membuat nubuatan semacam itu.
Menariknya, frase “beberapa tahun” malahan semakin mendiskreditkan nubuatan ini. Abu Bakr meyakini istilah “beberapa tahun” berarti orang-orang Byzantium akan memperoleh kemenangan dalam waktu 3 tahun:  
“Teks ini berkenaan dengan kekalahan orang-orang Byzantium di Syria oleh orang Persia di bawah Khusran Parvis (615 M, enam tahun sebelum Hijrah). Namun demikian, kekalahan orang Persia segera akan terjadi ‘dalam satu atau dua tahun’. Berdasarkan prediksi ini, Abu Bakr membuat taruhan dengan Ubai-ibn-Khalaf  bahwa prediksi ini akan digenapi dalam tiga tahun, tetapi ia dikoreksi oleh Muhammad yang menyatakan bahwa ‘satu dua tahun’ artinya antara 3 dan 9 tahun (Al-Baizawi)”. Orang Muslim mengatakan pada kita bahwa orang Byzantium mengalahkan musuh-musuh mereka dalam tempo 7 tahun. Namun demikian, kenyataannya orang Byzantium mengalahkan Persia pada 628 M (komentari Al-Baizawi). Ini 12 tahun tahun setelah nubuat Muhammad. Akibatnya teks ini tidak memenuhi kualifikasi sebuah nubuat, terutama lagi peristiwanya sangat mudah ditebak”. (Gerhard Nehls, Christians Ask Muslims [Life Challenge, SIM International; Africa, 1992], h. 70-71)   
Saat memasuki Mekkah Sura 48:27 memberikan janji berikut ini:
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” 
Ayat ini diwahyukan sehubungan dengan kegagalan usaha orang Muslim masuk ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf (ritual dalam ibadah Haji yaitu berlari di antara 2 gunung yang dianggap sebagai peringatan peristiwa Hagar menimba air untuk Ismail). 
Dalam perjalanan mereka ke Ka’bah, mereka bertemu dengan utusan Mekkah yang dipimpin Suhail b. Amr yang melarang orang Muslim menyelesaikan perjalanan mereka. Pertemuan ini kemudian berujung pada penandatanganan perjanjian Hudaibiya. 
Beberapa permasalahan timbul dari keseluruhan insiden ini. Pertama, pada penandatanganan perjanjian Hudaibiya, Muhammad sepakat dengan kaum pagan Mekkah untuk mengembalikan pada mereka orang-orang yang telah memeluk Islam. Pada saat yang sama Muhammad juga tunduk kepada tuntutan mereka untuk menggantikan tanda tangannya ‘Muhammad, Rasul Allah’ dengan ‘Muhammad, putra Abdullah’ sehingga ia diijinkan untuk berziarah ke Mekkah pada tahun berikutnya. Berikut ini diambil dari Sahih al-Bukhari, Volume 3, Buku 50, Nomor 891:   
“Ketika Suhail bin Amr datang, Nabi berkata, ‘Kini masalahnya sudah menjadi mudah’. Suhail berkata kepada Nabi, ‘Buatlah perjanjian damai dengan kami’. Jadi, Nabi memanggil juru tulis dan berkata kepadanya, ‘Tulislah: Demi nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah’. Suhail berkata, ‘Mengenai kata Maha Pemurah, demi Allah, aku tidak tahu apa artinya. Jadi tulislah: Demi nama-Mu ya Allah, seperti yang biasa kau tulis sebelumnya’. Orang Muslim berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan menulisnya kecuali: Demi nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah’. Nabi berkata, ‘Tulislah: Demi nama-Mu ya Allah’. Kemudian ia mendikte, ‘Inilah perjanjian damai yang telah dibuat Muhammad, Rasul Allah’. Suhail berkata, “Demi Allah, jika kami tahu engkau adalah Rasul Allah kami tidak akan mencegahmu mengunjungi Kabah, dan tidak akan memerangimu. Jadi, tulislah: ‘Muhammad bin Abdullah’. Nabi berkata, ‘Demi Allah! Aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian tidak mempercayaiku. Tulislah: ’Muhammad bin Abdullah.’ (Az-Zuhri berkata, ‘Nabi menerima semuanya, karena sebelumnya ia telah mengatakan bahwa ia akan menerima semua tuntutan mereka jika itu sejalan dengan ketetapan Allah’, (yaitu dengan mengijinkannya dan para sahabatnya untuk melaksanakan Umroh). Nabi berkata kepada Suhail, ‘Dengan syarat engkau mengijinkan kami mengunjungi Rumah (yaitu Kabah) supaya kami dapat melakukan Tawaf di sekelilingnya’.   Suhail berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan (mengijinkanmu tahun ini) agar tidak memberi kesempatan kepada orang-orang Arab untuk mengatakan bahwa kami telah menyerah kepada kalian, tetapi kami akan mengijinkan kalian tahun depan’. MAKA, NABI MENYURUH UNTUK MENULISKAN HAL ITU.
“Kemudian Suhail berkata, ‘Kami juga mendesak agar kalian mengembalikan pada kami siapapun yang datang pada kalian dari kami, sekalipun ia telah memeluk agama kalian’. Orang Muslim berkata, ‘Dimuliakanlah Allah! Bagaimanakah orang seperti itu dikembalikan kepada pagan setelah ia menjadi Muslim?’” (penekanan dengan cetak tebal oleh penulis). 
Salah seorang yang dari mereka yang dipaksa kembali ke Mekkah dengan kaum pagan adalah Abu Jandal. Dalam  Sirat Rasulullah (The Life of Muhammad, terj.  Alfred Guillaume, Oxford University Press), h. 505, karangan Ibn Ishaq, dikatakan:  
‘Ketika Suhayl (perwakilan orang Mekkah dan tokoh dalam perjanjian tersebut) melihat Abu Jandal, ia berdiri dan menampar wajahnya dan mencengkeram kerah bajunya, dan berkata, ‘Muhammad, kesepakatan diantara kami telah disetujui sebelum orang ini datang kepadamu’. Ia menjawab, ‘Engkau benar’. Ia mulai menariknya dengan kasar dengan mencengkeram kerah bajunya dan menyeretnya, mengembalikannya kepada Quraisy, sementara Abu Jandal menjerit sambil tercekik, ‘Apakah aku akan dikembalikan kepada para penganut politeis supaya mereka dapat membuat aku berpaling dari agamaku wahai orang Muslim?’ Dan itu menambah kemarahan orang banyak’” (penekanan oleh penulis).
Dan:
‘Sementara mereka dalam keadaan ini Abu–Jandal bin Suhail bin ‘Amr datang dari lembah Mekkah gemetaran dan tersungkur di tengah orang Muslim. Suhail berkata, ‘Wahai Muhammad! Inilah persyaratan pertama dalam perjanjian damai kami dengan engkau, yaitu engkau akan mengembalikan Abu Jandal kepadaku’. Nabi berkata, ‘Perjanjian damai itu masih belum ditulis’. Suhail berkata, ‘Aku tidak akan pernah mengijinkanmu tetap menahannya’. Nabi berkata, ‘Ya, lakukanlah’. Ia berkata, ‘Aku tidak akan melakukannya: Mikraz berkata, ‘Kami mengijinkanmu (menahannya)’. Abu Jandal berkata, ‘Wahai orang Muslim! Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang pagan walaupun aku telah menjadi Muslim? Tidakkah kalian melihat betapa aku telah menderita?’
Sebelumnya Abu Jandal telah disiksa dengan sangat berat demi tujuan Allah (Sahih al-Bukhari, Volume 3, Buku 50, Nomor 891)
Kita harus bertanya  apakah Musa pernah mengembalikan seorang petobat (terutama seorang Mesir) kembali kepada Firaun yang menyembah berhala untuk menyenangkannya dan mendapatkan apa yang diinginkannya? Apakah Yesus pernah mengkompromikan kebenaran Tuhan dengan bersepakat dengan orang Farisi dan mengembalikan para pencari kebenaran yang bukan Yahudi agar Ia dapat diterima oleh dewan pemerintahan Yahudi? Apakah Musa atau Yesus akan bertindak sejauh itu dengan menyangkali kerasulan mereka untuk memuaskan tuntutan kaum pagan? Akankah orang-orang ini menolak memuliakan Tuhan yang sejati dalam cara yang diperintahkan Sang Pencipta dan tunduk kepada permintaan orang-orang yang tidak percaya untuk menyebut nama Tuhan sesuai kehendak mereka, seperti yang dilakukan Muhammad? 
Seperti dugaan kita, orang Muslim menjadi marah, terutama Umar b. al-Khattab yang menghardik Muhammad:   
‘Umar bin al-Khattab berkata, ‘Aku menemui Nabi dan berkata, “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” Nabi berkata, “Ya, benar”. Aku berkata, “Bukankah jalan kita benar dan jalan musuh kita tidak benar?” Ia berkata, “Ya”. Aku berkata, “Jadi mengapa kita harus rendah hati dalam agama kita?” Ia berkata, “Aku adalah utusan Allah dan aku tidak melanggar perintah-Nya, dan Ia akan membuat aku berkemenangan”’ (Sahih al-Bukhari, Volume 3, Book 50, Number 891)   
Kemarahan orang-orang Muslim dapat dibenarkan ketika kita menyadari bahwa Muhammad menjanjikan para pengikutnya akan mempunyai akses ke Mekkah pada tahun itu juga. Ketika hal itu tidak terjadi, Muhammad berusaha membenarkan pernyataannya dengan mengatakan, “Ya, apakah pernah aku mengatakan padamu bahwa kita akan pergi ke Kabah tahun ini?” (Ibid) 
Dengan kata lain, oleh karena ia tidak memerinci kapan mereka akan memasuki Mekkah, ini tidak dapat dipandang sebagai nubuat palsu! Ini semata-mata hanyalah sebuah kesalahan oleh karena rombongan orang Muslim sedang dalam perjalanan menuju ke Mekkah ketika perwakilan kaum pagan Arab menghentikan mereka. Pada kenyataannya, salah satu tuntutan Muhammad dalam menandatangani perjanjian itu adalah justru agar kaum pagan mengijinkan orang Muslim menuntaskan perjalanan mereka ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf. Suhail  menolak permintaan Muhammad dan malah membuat kesepakatan sehingga orang Muslim dapat masuk ke Mekkah pada tahun berikutnya. Ibn Kathir kemudian mendukung hal ini dalam komentarinya terhadap Sura 48:27 berikut:
“Dalam sebuah mimpi, Rasul Allah melihat dirinya sendiri memasuki Mekkah dan melaksanakan Tawaf di sekitar Rumah. Ia menceritakan pada para sahabatnya mimpi ini ketika ia masih di Al-Madinah. Ketika mereka pergi ke Mekkah pada tahun Al-Hudaybyyah, tak seorangpun di antara mereka meragukan penglihatan Nabi AKAN MENJADI KENYATAAN TAHUN ITU JUGA. Ketika perjanjian damai itu telah disepakati dan mereka harus kembali ke Al-Madinah pada tahun itu, dan diijinkan kembali ke Mekkah pada tahun berikutnya, BEBERAPA ORANG SAHABAT NABI TIDAK MENYUKAI APA YANG TELAH TERJADI. ‘Umar bin Al-Khattab bertanya mengenai HAL INI, dan berkata, ‘Bukankah engkau telah mengatakan pada kami bahwa kita akan pergi ke Rumah dan melaksanakan Tawaf di sekitarnya?’” (Tafsir Ibn Kathir, Abridged, Volume 9, Surat Al-Jathiyah to the end of Surat Al-Munafiqun, Dirangkum oleh sekelompok sarjana di bawah pengawasan Shaykh Safiur-Rahman Al-Mubarakpuri [Darussalam Publishers & Distributors, Riyadh, Houston, New York, London, Lahore; edisi pertama, September 2000], h. 171; penekanan cetak tebal oleh penulis).
Al-Tabari menulis:
“Sementara Rasul Allah menulis dokumen itu – ia dan Suhayl b. ‘Amr – tiba-tiba Abu Jandal, anak Suhayl b. ‘Amr, datang dengan langkah-langkah pendek tergopoh-gopoh. Ia telah berhasil meloloskan diri menemui Rasul Allah. Para sahabat Rasul  Allah TIDAK RAGU mereka akan menaklukkan, karena ada visi yang dilihat Rasul Allah. Oleh karena itu, ketika mereka melihat apa yang ada di depan mata mereka – perdamaian, langkah mundur, dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan Rasul Allah – mereka sangat berduka akan hal itu sehingga mereka hampir putus asa. Ketika Suhayl melihat Abu Jandal, ia mendatanginya, menampar wajahnya, dan mencengkeramnya pada bagian atas jubahnya. “Muhammad”, katanya, “perjanjian itu ditandatangani antara aku dan engkau sebelum orang ini datang kepadamu”. “Engkau benar”, jawabnya. Suhayl mulai menarik dan menyeret [anaknya Abu Jandal] pada bagian atas jubahnya untuk mengembalikannya pada kaum Quraysh. Abu Jandal mulai berteriak sekuat tenaganya, “Wahai orang-orang Muslim, akankah aku dikembalikan kepada para politeis agar mereka menyiksaku oleh karena agamaku?” Ini membuat orang-orang merasa semakin marah. Rasul Allah berkata: “Abu Jandal, anggaplah sebagai pahala, karena Allah akan memberimu dan juga orang-orang yang tertindas bersamamu, kelepasan dan jalan keluar. Kami telah mengadakan perjanjian dan damai antara kami dengan orang-orang ini; kami telah berjanji pada mereka dan mereka pun telah berjanji pada kami, dan kami tidak akan berkhianat terhadap mereka”. (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, Volume VIII, h. 86-87; penekanan oleh penulis).
Ini membuktikan bahwa Muhammad sebenarnya percaya ia akan memasuki Mekkah, sebuah rencana yang tidak pernah terwujud. Untuk menyelamatkan mukanya, ia harus menyangkal bahwa ia mengatakan orang Muslim akan masuk ke Mekkah pada tahun itu juga!  
Kedua, keadaan diperburuk ketika Muhammad membatalkan perjanjian dengan orang Mekkah dengan menolak mengembalikan petobat-petobat Muslim dari kaum Quraisy. Penolakan ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hal-hal yang tercantum dalam dokumen yang telah disetujui Muhammad dan yang ditandatanganinya:  
“Umm Khulthum Uqba b. Mu’ayt berpaling kepada Rasul dalam periode ini. Kedua saudaranya ‘Umara dan Walid anak-anak ‘Uqba, datang dan meminta Rasul untuk mengembalikannya kepada mereka sesuai dengan kesepakatan antara ia dengan kaum Quraysh di Hudaybiyya, tetapi ia menolak. Allah melarangnya” (Sirat Rasulullah, p. 509; penekanan oleh penulis). 
Dengan demikian Muhammad membenarkan pembatalan sumpahnya dengan mengklaim bahwa itu adalah kehendak Allah. Malangnya bagi orang Muslim, ini akan membuktikan bahwa Tuhan yang disembah Muhammad bukanlah Tuhan dalam Alkitab yang suci, oleh karena mengingkari sumpah sangat tidak diperbolehkan (bdk. Bilangan 30:1-2). 
Berdasarkan semua ini kita harus mempertimbangkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut. Pernahkah Musa tunduk pada permintaan Firaun agar dapat membawa orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir? Pernahkah Yesus menyangkali status-Nya sebagai Mesias agar mendapatkan akses ke Bait Suci? Adakah nabi Tuhan yang sejati berkompromi dengan orang-orang tak beriman agar dapat menggenapi kehendak Tuhan? Apakah para nabi ini terus membatalkan sumpah dan janji mereka agar memperoleh keuntungan yang tidak adil terhadap orang-orang yang tak beriman? 
Satu masalah terakhir berkenaan dengan semua ini adalah, orang Muslim mengklaim bahwa setiap kata dalam Qur’an diwahyukan secara langsung oleh Allah kepada Muhammad melalui Jibril. Berdasarkan asumsi ini selanjutnya orang Muslim berpendapat tidak ada orang yang dapat menemukan perkataan Muhammad tumpang tindih dengan perkataan Allah. Jika demikian, bagaimana orang Muslim menjelaskan kenyataan bahwa Sura 48:27 memuat pernyataan insya Allah, yaitu “jika Allah menghendaki?” Apakah Allah tidak tahu apa kehendak-Nya? Jika demikian, apakah Ia tidak yakin apakah tujuan-Nya akan tercapai atau tidak sehingga Ia harus melengkapi pernyataan-Nya sendiri dengan frase insya Allah?  
Kita dapat mengerti betapa lemahnya manusia yang tidak mengetahui tujuan Tuhan itu boleh melengkapi pernyataan mereka dengan ekspresi “jika Tuhan berkehendak” (bdk. Yakobus 4:13-15). Tetapi jikalau Tuhan sendiri yang membuat kualifikasi semacam itu, ini sangat tidak layak dan tidak masuk akal. 
Lebih jauh lagi, jika Allah pada kenyataannya adalah pihak yang sedang berbicara, lalu siapa yang dimaksudkan-Nya ketika Ia mengatakan “jika Allah menghendaki”? Apakah Ia sedang berbicara mengenai diri-Nya sendiri atau orang lain? Jika Ia sedang berbicara mengenai orang lain, lalu ada berapa Allah? Atau barangkali Allah adalah Sosok yang berkepribadian banyak mengingat ada lebih dari satu Pribadi yang membentuk keesaan Allah? 
Ini membawa kita pada kesimpulan bahwa nubuat Muhammad bukan hanya tidak terwujud, tetapi motivasi-motivasinya dalam menyampaikan wahyu adalah kekuasaan, uang dan ketenaran. Ayat ini juga sekaligus membuktikan bahwa Allah bukanlah pembuat Qur’an.
Mengenai munculnya Antikristus dan akhir dunia  
Muhammad terang-terangan mengklaim bahwa Antikristus (yang disebut Dajjal), akan muncul tidak lama setelah orang Muslim menaklukkan Konstantinopel. Tradisi-tradisi berikut ini diambil dari Sunan Abu Dawud:
Dikisahkan oleh Mu'adh ibn Jabal:   
Nabi (SAW) berkata: Kejayaan Yerusalem akan terjadi ketika Yathrib tinggal reruntuhan, kehancuran Yathrib akan terjadi ketika perang besar datang, hasil akhir perang besar adalah penaklukkan Konstantinopel dan penaklukkan Konstantinopel ketika Dajjal (Antikristus) datang. Ia (Nabi) memukul paha atau pundaknya dengan tangannya dan berkata: hal ini benar sebagaimana engkau ada disini atau saat engkau sedang duduk (artinya Mu'adh ibn Jabal)???    
Dikisahkan oleh Mu'adh ibn Jabal:   
Nabi (SAW) berkata: Perang yang terbesar, penaklukkan Konstantinopel dan kedatangan Dajjal (Antikristus) akan terjadi dalam waktu tujuh bulan.
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Busr:   
Nabi (SAW) berkata: Waktu antara perang besar dan penaklukan kota (Konstantinopel) adalah tujuh tahun, dan Dajjal (Antikristus) akan datang pada tahun ketujuh. 
Berdasarkan hal itu, orang Muslim menaklukkan Yerusalem pada 636 M. Konstantinopel diambil alih oleh orang Muslim pada Mei 1453 M. tetapi nubuat mengenai Yathrib (Medinah) porak poranda dan kedatangan Antikristus yang akan terjadi pada bulan ketujuh setelah penaklukkan Konstantinopel tidak terwujud. Berdasarkan tradisi-tradisi terdahulu, Antikristus diharuskan muncul pada November 1453. 
Boleh jadi ada yang ingin berargumen bahwa peristiwa-peristiwa ini mengacu kepada penaklukan-penaklukan di masa depan. Sebagai contoh bisa jadi ada yang mengatakan bahwa Konstantinopel digunakan sebagai sebuah sinonim bagi kekaisaran Kristen Roma. Oleh karena itu, ini menubuatkan orang Muslim akan mengambil alih Roma sebelum Antikristus muncul.
Masalahnya adalah jika Muhammad berbicara mengenai Roma, sederhananya ia hanya menggunakan kata Roma (bahasa Arab: Ar-Rum). Kenyataannya, Roma/Ar-Rum adalah nama untuk Sura ke 30 dalam Qur’an. Jika ia menyebut Konstantinopel atau bahkan Byzantium ia justru akan membuat kesalahan anakronistik (penempatan peristiwa/ orang/benda pada masa yang salah). Lihat pembahasan di atas. 
Dengan demikian, berdasarkan faktor-faktor yang ada, kita terpaksa menyimpulkan bahwa nubuat-nubuat Muhammad gagal terwujud, sehingga ini mendiskualifikasinya dari klaim kenabiannya.  
Muhammad juga percaya bahwa dunia ini berusia muda dan akan berakhir tidak lama setelah kedatangannya. Kutipan-kutipan berikut ini diambil dari The History of al-Tabari, Volume 1 - General Introduction and from the Creation to the Flood (terj. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), penekanan dengan huruf cetak tebal oleh penulis:  
“Menurut Ibn Humayd-Yahya b. Wadih – Yahya Ya’qub – Hammad – Sa’id b. Jubayr – Ibn Abbas: Dunia ini adalah salah satu dari sekian banyak minggu dunia yang lain – tujuh ribu tahun. Enam ribu dua ratus tahun telah berlalu. (Dunia ini) pasti akan mengalami ratusan tahun, yang dalam masa itu tidak ada orang yang beriman kepada keesaan Allah. Yang lainnya mengatakan bahwa total lamanya waktu adalah enam ribu tahun”.  (Tabari, h. 172-173; penekanan oleh penulis). 
“Menurut  Abu Hisham- Mu'awiyah b. Hisham- Sufyan- al-A'mash- Abu Salih- Ka'b: Dunia ini berusia enam ribu tahun”. (Ibid.)   
“Menurut Muhammad b. Sahl b. 'Askar- Isma'il b. 'Abd al-Karim- 'Abd al-Samad b.   Ma'qil I- Wahb: Lima ribu enam ratus tahun usia dunia ini telah berlalu. Saya tidak tahu raja-raja dan nabi-nabi mana yang telah hidup dalam tiap periode  (zaman) dalam tahun-tahun itu. Saya bertanya pada Wahb b. Munabbih: Berapa lama (durasi total) dunia ini? Ia menjawab: Enam ribu tahun”. (Tabari, h. 173-174; penekanan oleh penulis). 
Menurut at-Tabari Muhammad percaya bahwa akhir dunia akan terjadi 500 tahun setelah kedatangannya:
“Menurut Hannad b. al-Sari and Abu Hisham al-Rifa'i- Abu Bakr b. 'Ayyash- Abu Hasin- Abu Salih- Abu Hurayrah: Rasul Allah berkata: Ketika aku diutus (untuk menyampaikan pesan ilahi), aku dan Waktu bagaikan dua ini, sambil menunjuk jari tengah dan jari telunjuknya”. (Tabari, p. 176; penekanan oleh penulis, lihat juga h. 175-181). 
Tradisi-tradisi serupa ditemukan dalam Sahih Muslim:
Hadis ini telah dilaporkan oleh Sahl b. Sa'd  bahwa ia mendengar Rasul Allah (SAW) berkata: aku dan Waktu Terakhir (sangat erat) seperti ini (dan ia, untuk menjelaskan hal itu) menunjuk (dengan menyatukan) jari telunjuk (yaitu jari) yang dekat dengan jempol dan jari tengah (bersama-sama).
Shu'ba melaporkan: Aku mendengar Qatada dan Abu Tayyab bercerita bahwa keduanya mendengar Anas ketika bercerita bahwa Rasul Allah (SAW) berkata: Aku dan Waktu Terakhir telah diutus seperti ini, dan Shu'ba  mengacungkan jari telujuk dan jari tengahnya saling berdekatan ketika ia sedang menceritakannya.
Anas melaporkan Utusan Allah (SAW) berkata: Aku dan Waktu Terakhir telah diutus seperti ini dan (ketika ia melakukannya) menggabungkan jari telunjuk dengan jari tengah.
At-Tabari mengomentari makna Waktu yang dekat dengan Muhammad bagaikan jari tengah dan jari telunjuknya:  
“Dengan demikian, (bukti mengijinkan adanya) konklusi sebagai berikut: Permulaan hari adalah terbitnya fajar, dan akhirnya adalah terbenamnya matahari. Selanjutnya, tradisi mengenai otoritas Nabi adalah benar. Seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, ia berkata setelah sembahyang siang: apa yang tersisa dari dunia ini dibandingkan dengan apa yang telah berlalu darinya bagaikan sisa hari ini dibandingkan dengan apa yang telah berlalu darinya. Ia juga berkata: Ketika aku diutus, aku dan Waktu bagaikan jari tengah dan jari telunjuk ini terjalin bersama; aku mengumpamakannya seperti ini – yaitu jari tengah – melampaui yang satunya – yaitu jari telunjuk. Selanjutnya, lamanya (waktu) antara sembahyang siang – yaitu, ketika bayangan dari segala sesuatu dua kali lebih besar dari ukuran aslinya, berdasarkan asumsi yang terbaik ('ala al-taharri) – (hingga matahari terbenam)  adalah lamanya waktu satu setengah dari sepertujuh hari, diberi atau diambil sedikit. Demikian pula, ekses panjangnya jari tengah yang melebihi jari telunjuk adalah kira-kira atau serupa dengan hal itu. Ada juga tradisi yang benar mengenai otoritas Rasul Allah, seperti yang dikisahkan Ahmad b. 'Abd al-Rahman b. Wahb kepadaku – yaitu paman kandungnya 'Abdallah b. Wahb- Mu'awiyah b. Salih- 'Abd al-Rahman b. Jubayr b. Nufayr- ayahnya  Jubayr b. Nufayr – sahabat Nabi, Abu Tha'labah al-Khushani: Rasul Alah berkata: Sesungguhnya, Allah tidak akan membuat bangsa ini tidak mampu (bertahan) setengah hari – sehubungan dengan hari dalam seribu tahun.  
“Semua fakta ini jika digabungkan akan memperjelas dua pernyataan yang telah saya sebutkan berkenaan dengan totalitas jangka waktu, satu dari Ibn Abbas, dan yang lainnya dari Ka’b, yang nampaknya lebih tepat sesuai dengan informasi dari Rasul  Allah yaitu yang diteruskan Ibn ‘Abbas kepada kami dengan otoritasnya: Dunia ini adalah satu dari minggu-minggu dunia lain – tujuh ribu tahun”. 
“Akibatnya, oleh karena demikian adanya dan laporan mengenai otoritas Rasul  Allah adalah benar – yaitu, ia melaporkan apa yang tersisa dari waktu yang dimiliki dunia ini selama masa hidupnya adalah setengah hari, atau lima ratus tahun, oleh karena lima ratus tahun adalah setengah hari dari hari-hari itu, dimana satu hari adalah seribu tahun – konklusinya adalah, waktu yang dimiliki dunia ini telah berlalu hingga ke saat pernyataan Nabi berkaitan dengan apa yang telah kami teruskan dengan otoritas Abu Tha'labah al-Khushani dari Nabi, dan adalah 6500 tahun atau kira-kira 6500 tahun. Allah lebih tahu!” (Tabari, h. 182-183, penekanan dengan cetak tebal oleh penulis)
Oleh karena itu, berdasarkan tradisi-tradisi ini Muhammad meyakini bahwa tidak hanya dunia ini berusia kurang dari 7000 tahun tetapi dunia ini akan berakhir pada hari ketujuh, atau tujuh ribu tahun sejak dunia ini diciptakan! 
Dengan demikian, dunia ini mestinya sudah berakhir kira-kira antara tahun 1070-1132 M, kurang lebih 500 tahun setelah kelahiran dan kematian Muhammad. Ini berdasarkan pada kenyataan bahwa menurut at-Tabari dan yang lainnya, kedatangan Muhammad terjadi kira-kira 6500 tahun sejak waktu penciptaan. Jelas ini lagi-lagi adalah nubuat palsu.  
Namun tanggal ini bertentangan dengan tanggal yang diperkirakan Abu Dawood dalam Sunannya. Disana, kita melihat bahwa Antikristus akan muncul tujuh bulan setelah penaklukkan Konstantinopel, sebuah peristiwa yang terjadi pada 1453 M. jika demikian, bagaimana Muhammad dapat mengklaim bahwa dunia akan berakhir 500 tahun setelah kelahiran dan kematiannya? Yang memperburuk adalah tradisi Islam yang mengklaim bahwa Antikristus benar-benar akan muncul dalam masa hidup Muhammad. Kenyataannya berdasarkan tradisi-tradisi, Antikristus adalah seorang pria bernama Ibn Saiyad:
Dikisahkan oleh Ibn 'Umar:   
‘Umar pergi bersama Nabi (SAW) dengan sekelompok orang menemui Ibn Saiyad hingga mereka melihatnya sedang bermain dengan anak-anak laki-laki dekat perbukitan Bani Mughala. Pada waktu itu Ibn Saiyad sedang memasuki masa remajanya dan tidak memperhatikan (kami) hingga nabi memukulnya dengan tangannya dan berkata kepadanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Ibn Saiyad memandangnya dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Utusan bagi orang yang buta huruf”. Kemudian Ibn Saiyad bertanya kepada Nabi (SAW), “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Rasul (SAW) menolaknya dan berkata, “Aku percaya kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya”. Kemudian ia berkata (kepada Ibn Saiyad), “Apa pendapatmu?” Ibn Saiyad menjawab, “Orang-orang benar dan para pembohong mengunjungiku”. Nabi berkata, “Engkau telah bingung dengan masalah ini”. Kemudian Nabi berkata kepadanya, “Aku memikirkan sesuatu tentang engkau, (dapatkah kau mengatakannya padaku apakah itu?)”. Ibn Saiyad berkata, “Itu adalah Al-Dukh (asap)”. (2) Nabi berkata, “Biarlah engkau ada dalam ketidaktahuan. Engkau tidak dapat melewati kekurangan-kekuranganmu”. Mendengar hal itu ‘Umar berkata, “Wahai Rasul Allah! Ijinkan aku memenggal kepalanya”. Tetapi nabi (SAW) berkata, “Jika ia adalah dia (yaitu Dajjal), maka engkau tidak dapat mengalahkannya, dan jika ia bukan, maka tidak ada gunanya membunuhnya”. (Ibn ‘Umar menambahkan): Kemudian Rasul Allah (SAW) sekali lagi pergi bersama Ubai bin Ka’b ke (kebun) pohon-pohon Kurma dimana Ibn Saiyad tinggal. Nabi (SAW) ingin mendengar sesuatu dari Ibn Saiyad sebelum Ibn Saiyad dapat melihatnya, dan nabi (SAW) melihatnya berbaring ditutupi sehelai kain dan mendengar ia menggerutu. Ibu Ibn Saiyad melihat Rasul Allah ketika ia sedang bersembunyi di balik daun-daun pohon Kurma. Ia berkata kepada Ibn Saiyad, “Wahai Saf! (inilah nama Ibn Saiyad) ada Muhammad disini”. Mendengarnya Ibn Saiyad bangun. Nabi berkata, “Suruh perempuan ini meninggalkannya (jangan ia mengganggunya), kemudian Ibn Saiyad akan menyatakan realitas kasusnya”.
Tradisi-tradisi terus mengidentifikasi Ibn Saiyad sebagai Antikristus:  
Dikisahkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir:   
Aku melihat Jabir bin 'Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn Saiyad adalah Dajjal. Aku berkata kepada  Jabir, “Bagaimana engkau bisa bersumpah demi Allah?” Jabir berkata, “Aku telah mendengar 'Umar bersumpah demi Allah berkenaan dengan hal ini di hadapan Nabi dan Nabi menyetujuinya”.
Dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah:
Muhammad ibn al-Munkadir mengatakan bahwa ia melihat Jabir ibn Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn as-Sa'id adalah Dajjal (Antikristus). Aku menunjukkan keterkejutanku dengan berkata: Engkau bersumpah demi Allah! Ia berkata: Aku mendengar Umar bersumpah mengenai itu di hadapan Rasul Allah (SAW), tetapi Rasul  Allah (SAW) tidak berkeberatan mengenai hal itu.  
Namun tradisi-tradisi ini bertentangan dengan tradisi-tradisi berikut dimana Antikristus digambarkan sebagai seorang bermata satu dan dirantai:
Dikisahkan oleh Ibn Umar:   
Suatu ketika Rasul Allah berdiri di antara orang-orang, memuliakan dan memuji Allah karena itu layak bagi-Nya dan kemudian menyebut Dajjal berkata, “Aku memperingatkan kamu akan dia (yaitu Dajjal) dan tidak ada nabi yang memperingatkan bangsanya mengenai dia. Tidak diragukan lagi, Nuh memperingatkan bangsanya mengenai dia tetapi aku mengatakan padamu mengenai sesuatu yang tidak dikatakan nabi manapun kepada bangsa ini sebelum aku. Kamu harus tahu bahwa ia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu”.
Berkisahlah Ubadah ibn as-Samit: Nabi (SAW) berkata: Aku telah mengatakan begitu banyak padamu mengenai Dajjal (Antikristus) sehingga aku takut kamu tidak mengerti. Antikristus itu pendek, berjari pendek, berambut ikal, buta, dan tidak berdiri tegak dan juga tidak berpendirian keras. Jika kamu bingung mengenai dia, ketahuilah bahwa Tuhanmu tidak bermata satu.  
Dikisahkan oleh Fatimah, anak perempuan Qays:   
Rasul Allah (SAW) pernah menunda malam sembahyang berjamaah. Ia keluar dan berkata: perkataan Tamim ad-Dari menahanku. Ia meneruskannya kepadaku dari seorang yang ada di pulau-pulau di laut. Tiba-tiba saja ia mendapati seorang perempuan yang sedang menyerat rambutnya. Ia bertanya: Siapakah engkau?
Ia berkata: Aku adalah Jassasah. Pergilah ke kastil itu. Jadi aku pergi kesana dan menemukan seorang pria yang sedang menyeret rambutnya, ia dirantai dengan besi, dan melompat-lompat antara Surga dan bumi.  
Aku bertanya: Siapakah engkau? Ia menjawab: Akulah Dajjal (Antikristus). Apakah Nabi orang-orang yang buta huruf kini telah datang? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: apakah mereka menaatinya atau tidak? Aku berkata: Tidak, mereka telah menaatinya. Ia berkata: Itu lebih baik bagi mereka.
Disini mungkin ada yang menyela dan mengklaim bahwa tradisi-tradisi menyebutkan ada 30 Antikristus yang akan datang ke dunia:
Dikisahkan oleh Abu Hurayrah:   
Nabi (SAW) berkata: Waktu Terakhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh Dajjal (para penyesat), setiap orang menganggap dirinya sendiri sebagai Rasul Allah. (lihat juga Sahih al-Bukhari, Volume 9, Buku 88, Nomor 237)   
Ini mengakibatkan Ibn Saiyad hanyalah satu dari 30 Antikristus, dan bukan SANG Antikristus yang akan datang tepat sebelum akhir dunia.  
Ada beberapa permasalahan dengan pendapat ini. Pertama, tidak satupun dari tradisi-tradisi ini yang mengklaim bahwa Ibn Saiyad adalah satu dari 30 Antikristus yang akan muncul. Melainkan, tradisi-tradisi mengemukakan bahwa dialah SANG Dajjal atau Antikristus. Kedua, jika kita mengambil tanggal-tanggal baik yang diusulkan at-Tabari atau Abu Dawood, ke-30 Dajjal itu, semuanya, harus muncul baik sebelum 1070-1132 atau 1453 M. Akhirnya berdasarkan Perjanjian Baru, Muhammad sesungguhnya adalah salah satu dari Antikristus-antikristus tersebut:
“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. ... Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa” (1 Yohanes 2:18, 22-23) 
Oleh karena Muhammad menyangkali Yesus adalah Putra Tuhan, maka ia adalah salah satu dari banyak Antikristus yang akan datang, menurut Rasul Yohanes. 
Jika yang sudah-sudah tidak terlalu buruk, tradisi-tradisi lainnya mengatakan Muhammad menubuatkan bahwa akhir segala sesuatu akan datang dalam masa hidup para pengikutnya:
'A'isha melaporkan bahwa ketika orang-orang Arab di gurun menemui  Rasul Allah (SAW) mereka bertanya mengenai Waktu Terakhir, yaitu kapankah datangnya. Dan ia memandang yang termuda di antara mereka dan berkata: Jika ia hidup ia tidak akan menjadi sangat tua sehingga ia akan melihat Waktu Terakhir mendatangimu, ia akan melihatmu sekarat.
Anas menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Rasul Allah (SAW) kapankah Waktu Terakhir akan datang. Di hadapannya ada seorang anak laki-laki dari kaum Ansar yang bernama Mahammad. Rasul Allah (SAW) berkata: Jika anak laki-laki ini hidup, ia tidak akan menjadi sangat tua hingga (ia akan melihat) Waktu Terakhir mendatangimu.
Anas b. Malik menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Utusan Allah (SAW) kapankah Waktu Terakhir akan datang? Maka Utusan Allah (SAW) berdiam diri sejenak, kemudian melihat seorang anak laki-laki di hadapannya yang berasal dari suku Azd Shanilwa dan berkata: Jika anak laki-laki ini hidup, ia tidak akan menjadi sangat tua hingga (ia akan melihat) Waktu Terakhir mendatangimu. Anas mengatakan bahwa anak laki-laki ini seusia kita pada hari-hari itu.  
Anas menceritakan: Seorang anak laki-laki dari Mughira b. Shu'ba tidak sengaja melewati (nabi suci) dan ia seusia saya. Kemudian Rasul Allah (SAW) berkata: Jika ia berumur panjang ia tidak akan menjadi sangat tua hingga datangnya Waktu Terakhir (kepada orang-orang tua dari generasi ini). 
Muhammad dengan jelas mengatakan bahwa anak laki-laki ini tidak akan menjadi sangat tua sebelum Waktu Terakhir mendatangi orang-orang. Marilah sekarang kita bermurah hati dan beranggapan bahwa anak laki-laki itu berusia 10 tahun dan hidup hingga berusia 110 tahun, sehingga Waktu Terakhir akan terjadi ratusan tahun setelah Muhammad membuat pernyataan-pernyataan ini. Namun, berabad-abad telah berlalu dan Waktu Terakhir masih belum mendatangi kita.
Tapi tunggu, masih ada lagi! Berdasarkan kisah-kisah al-Bukhari, Muhammad mengumumkan bahwa semua orang akan mati dalam waktu seratus tahun:
Dikisahkan oleh 'Abdullah bin 'Umar: 
Suatu ketika nabi memimpin kami sembahyang ‘Isya’ selama lima hari terakhir hidupnya dan setelah menyelesaikannya (sembahyang itu) (dengan Taslim) ia berkata: “Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”.
Dikisahkan oleh Abdullah: 
“Suatu malam Rasul Allah memimpin kami bersembahyang ‘Isha dan itulah yang disebut orang Al-‘Atma. Setelah menyelesaikan sembahyang, ia menghadap kami dan berkata: ‘Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah seratus tahun mulai malam ini’” (Lihat Hadis No. 575). 
Hampir 14 abad telah berlalu dan masih ada makhluk hidup di bumi ini! Hadis ini sangat bermasalah sehingga narasi lainnya berusaha untuk menjelaskannya dengan berargumen bahwa Muhammad benar-benar bermaksud tak satupun dari generasinya yang masih hidup setelah seratus tahun:
Dikisahkan oleh 'Abdullah bin 'Umar: 
Nabi melakukan sembahyang ‘Isha’ pada hari-hari terakhirnya dan setelah menyelesaikannya dengan Taslim, ia berdiri dan berkata, ““Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”. 
Orang-orang melakukan kesalahan dalam memahami pernyataan Rasul Allah dan mereka berkutat dalam hal-hal yang dikatakan mengenai para narator tersebut (yaitu ada yang mengatakan bahwa Hari Kebangkitan akan terjadi setelah 100 tahun, dll). Tetapi Nabi berkata, “Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”; maksudnya, “Ketika abad itu (orang-orang dalam abad itu) akan berlalu”. 
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari laporan khusus ini. Pertama, perhatikan bagaimana para narator langsung mengemukakan bahwa orang Muslim memahami perkataan Muhammad yang menyatakan bahwa dunia akan berakhir dalam waktu seratus tahun. Ini memberikan bukti bahwa makna sesungguhnya dari apa yang disebut Muhammad sebagai nubuat adalah hari terakhir yang akan terjadi dalam seratus tahun. 
Kedua, perhatikan betapa tidak masuk akalnya penjelasan ad hoc ini. Orang yang mengumpulkan Hadis mengharapkan para pembacanya untuk percaya bahwa apa yang dimaksudkan Muhammad adalah tidak satupun dari generasinya yang tetap hidup dalam seratus tahun, sedangkan tidak ada yang mengherankan dari klaim semacam ini. Untuk  mengatakan satu generasi akan mati semua dalam waktu seratus tahun tidak membutuhkan pengetahuan supranatural. Satu-satunya yang dibutuhkan untuk membuat klaim semacam itu hanyalah akal sehat oleh karena harapan hidup pada jaman itu sangat rendah. Hampir-hampir tidak ada orang yang hidup lebih dari seratus tahun. Jika itu dimaksudkan sebagai sebuah pernyataan (“nubuat ilahi”) mengenai harapan hidup orang-orang di sekelilingnya, maka hal ini tentu sangat sepele, tak ada yang penting. Jadi apa tujuannya? 
Walaupun janggal, pernyataan itu sudah pasti salah. Muhammad mengatakan “di atas bumi” – itu adalah tempat yang sangat luas. Walaupun jarang ada orang yang berusia seratus tahun, kemungkinan besar mereka selalu ada sepanjang masa. Bahkan dalam masa hidup Muhammad setidaknya ada satu orang yang setua itu. Abu Afak dilaporkan mencapai usia 120 tahun:
SARIYYAH  SALIM IBN ‘UMAYR 
Lalu muncullah sariyyah Salim Ibn ‘Umayr al-‘Amri terhadap Abu ‘Afak, orang Yahudi itu, pada bulan Syawal pada permulaan bulan keduapuluh sejak hijrah Rasul Allah, semoga Allah memberkatinya. Abu ‘Afak, berasal dari banu ‘Amr Ibn ‘Awf, dan adalah seorang yang tua yang telah mencapai usia seratus dua puluh tahun. Ia adalah seorang Yahudi, dan suka menghasut orang untuk melawan Rasul Allah, semoga Allah memberkatinya, dan membuat syair-syair (satiris). Salim Ibn ‘Umayr  yang adalah salah satu peratap agung dan yang berpartisipasi dalam Perang Badr, berkata: Aku bersumpah aku akan membunuh Abu ‘Afak atau aku mati sebelum dia mati. Ia menunggu kesempatan hingga datanglah suatu malam yang panas, dan Abu ‘Afak tidur di tempat terbuka.  Salim Ibn ‘Umayr mengetahuinya,  lalu ia menusukkan pedangnya ke hatinya dan menekannya hingga menembus tempat tidurnya. Musuh Allah itu menjerit dan orang-orang yang adalah para pengikutnya bergegas mendekatinya, membawanya ke rumahnya dan merawatnya. (Ibn Sa'ad's  Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir, Terjemahan Inggris oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D didampingi H.K. Ghazanfar M.A. [Kitab Bhavan Exporters & Importers, 1784 Kalan Mahal, Daryaganj, New Delhi - 110 002 India), Volume II, h. 31; penekanan cetak tebal oleh penulis). 
Apakah Muhammad benar-benar ingin mengatakan: seratus tahun mulai dari sekarang, tidak ada lagi orang yang usianya lebih dari seratus tahun? Sekali lagi: apa tujuan pernyataan semacam itu? Apa kaitannya dengan berita Islam? 
Lebih jauh lagi, Muhammad menyampaikan pernyataannya itu dengan kata-kata ini: “Tahukah kamu apa pentingnya malam ini?” Untuk alasan utamanya, penafsiran alternatif yang diberikan oleh narator hanya sedikit yang masuk akal. Lagipula, dalam hal apa observasi suatu masa diperlukan, jika tidak seorangpun akan berusia lebih dari seratus tahun menjadi hal yang penting bagi orang Muslim atau Islam? Ini sama sekali tidak relevan, dan tidak relevan adalah lawan dari hal yang penting.  
Di sisi lain, proklamasi Hari Kebangkitan dan penghakiman Allah atas semua orang adalah bagian yang mendasar dalam Islam. Jika itu telah diwahyukan kepada Muhammad dalam doanya bahwa dunia akan berakhir tepat dalam tempo seratus tahun, wahyu semacam itu akan menandai malam ini, dan tidak perlu ditanyakan lagi itu adalah sesuatu yang sangat penting. 
Hanya penafsiran inilah yang benar-benar membuat pernyataan itu masuk akal. Namun demikian, masalahnya, satu-satunya penafsiran yang berarti dari pernyataan itu membawa konsekuensi bahwa Muhammad membuat nubuat yang palsu. Orang Muslim telah berusaha untuk mengalihkan hal ini dengan cara menaruh pernyataan yang tidak penting, tidak relevan – dan kemungkinan besar masih tidak tepat – ke dalam mulut Muhammad.  
Akhirnya, harus selalu diingat bahwa imam al-Bukhari mengumpulkan tradisi-tradisi ini secara kasar 250 tahun setelah perpindahan Muhammad ke Medinah (kira-kira 622/623 M), lama setelah Muhammad mengatakan bahwa dunia akan berakhir. Berdasarkan hal ini, tidaklah mengejutkan jika ia atau orang lain akan memberikan penjelasan untuk menghindar dari keharusan untuk mengakui bahwa Muhammad adalah seorang nabi palsu atau dengan sesat mengklaim bahwa Hari Kebangkitan akan terjadi seratus tahun setelah masa hidupnya.  
Oleh karena itu, tak peduli dari sudut manapun orang melihatnya, kita tetap ditinggalkan dengan kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat diperbaiki dan prediksi-prediksi palsu.
KONKLUSI    
Kita telah menguji Qur’an dan juga tradisi-tradisi Islam dan mendapati bahwa kedua sumber tersebut memuat prediksi-prediksi palsu. (Itu hanyalah bualan spekulatif yang mengatasnamakan Allah, namun yang tidak menjadi kenyataan). Berdasarkan kriteria kenabian yang diberikan Tuhan dalam Ulangan 18 kita menemukan bahwa Muhammad gagal dalam tes ini. Ini berarti bahwa Muhammad bukanlah nabi yang benar dan ia juga bukan nabi seperti Musa.
Dalam melayani Tuhan dan Juruselamat kita yang Agung, Yesus Kristus, Tuhan kita yang bangkit dan hidup selamanya. Amin. Datanglah Tuhan Yesus. Kami selalu mengasihi-Mu.

SEJARAH BONGKAR PASANG KA'BAH

SEJARAH
BONGKAR PASANG
KA’BAH




Jangan mengira bahwa bangunan Ka’bah yang sekarang ada di Mekah adalah bangunan yang sama yang ada di jaman Muhammad di abad ke 7 Masehi.
Denah Ka'bah:

Ukuran dan pembangunan kembali Ka'bah:
Ukuran tinggi Ka’bah yang ada saat ini adalah 39 kaki 6 inci (kira-kira 11 meter;1 kaki = 12 inci = 30 cm), dan ukuran total adalah 627 kaki persegi. Ukuran dalam Ka’bah adalah 42,64x29,52 kaki (atau kira-kira 12,7x8,85 m). Tebal tembok adalah 3,26 kaki (kira2 97,8 cm). Lantai di bagian dalam lebih tinggi 7,22 kaki (kira2 2,1m) dari dasar tanah di mana orang-orang melakukan Tawaf.
Langit-langit dan atap terbuat dari kayu teak yang ditutup dengan baja stainless. Tembok terbuat dari batu. Batu-batu bagian dalam tidak dipoles, sedangkan bagian luar dipoles.
Para ahli sejarah berkata bahwa Ka’bah dibangun kembali berkali-kali sekitar lima sampai 12 kali. Ukuran pertama Ka’bah di jaman Muhammad adalah:
▪ tembok timur 48 kaki, 6 inci (berisi batu hitam)
▪ tembok Hateem berukuran 33 kaki
▪ sisi tembok antara batu hitam dan sudut Yemeni adalah 30 kaki
▪ tembok barat 46.5 kaki

INILAH DAFTAR BONGKAR PASANG KA’BAH
Pembangunan ulang Ka'bah oleh pagan Quraish:
Muhammad berpartisipasi dalam pembangunan kembali Ka’bah sebelum dia mengklaim dirinya sendiri sebagai nabi. Setelah banjir hebat --rumah auwloh kebanjiran-- Ka’bah jadi rusak dan temboknya retak. Harus dibangun lagi nih. Kewajiban membangun Ka’bah dibagi diantara 4 suku Quraish. Muhammad ikut dalam pembangunan ini. Ketika tembok-tembok sudah dibangun sebagian, maka dimasukkanlah Batu Hitam (al-Hajar al-Aswad) di bagian tembok sebelah timur Ka’bah.
Karena suku Quraish tidak punya cukup dana, mereka tidak membangun kembali seluruh Ka’bah. Karena itulah bentuknya jadi bujur sangkar dan tidak serupa dengan bentuk aslinya yang pesegi panjang. Daerah bagian dasar Ka’bah yang tidak dibangun kembali disebut Hatim.
Pembangunan Kembali Ka’bah oleh Abdullah ibn Zubair:
Tentara Syria pimpinan Yazid menghancurkan rumah auwloh Ka’bah di bulan Muharram 64 Hijrah, setahun setelah dia membantai keluarga Muhammad di Karbala. Akan tetapi, jangan khawatir, sebab Haj Abdullah ibn Zubair (saingan Kalifah Bani Umayyah) membangun kembali Ka’bah dari dasar.
Ibn Zubair ingin membangun Ka’bah persis seperti yang diinginkan Muhammad. Ibn Zubair berkata, “Aku mendengar Aisyah (bini muda kesayangan Muhammad) berkata, “Sang Nabi berkata:”Jika orang-orangmu tidak baru saja meninggalkan kepercayaan paganmu, dan jika aku punya cukup dana untuk membangun Ka’bah, aku akan tambahkan beberapa kaki di atasnya dari Hijr. Juga, aku akan pasang dua pintu; satu pintu agar orang-orang dapat masuk ke dalam dan pintu satunya lagi untuk ke luar.” (Bukhari). Ibn Zubair berkata, “Hari ini, aku punya dana untuk melakukan itu dan aku tidak takut akan orang-orang.”
Ibn Zubair membangun atap di tiga pilar dengan kayu Aoud (kayu wangi Arabia). Dia meletakkan dua pintu, satu menghadap timur dan satu lagi menghadap barat, sama seperti apa yang diinginkan Muhammad dulu.
Dia juga membangun daerah Hateem yang terletak di sekitar Ka’bah yang dikelilingi oleh tembok rendah separuh lingkaran.
Ibn Zubair juga meletakkan empat pilar di sekeliling Ka’bah dan menggantungkan kain di atasnya sampai seluruh bangunan selesai dibangun.
Pembangunan Kembali Ka’bah di Jaman Abdul Malik:
Di tahun 74H (693M) Al-Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi, atas persetujuan Kalifah Bani Umayyah bernama Abdul Malik menghancurkan apa yang dibangun Ibn Zubair. Dia mengembalikan struktur bangunan persis seperti yang ada di jaman pagan Quraish. Inilah perubahan yang dilakukannya:
1. Ka’bah diperkecil jadi sama ukurannya dengan yang ada saat ini
2. Membongkar Hatim
3. Menutup pintu barat dengan tembok
4. Meruntuhkan tembok di daerah Hatim
5. Membuang tangga kayu yang ditempatkan Ibn Zubair di dalam Ka’bah
6. Mengurangi ketinggian pintu sampai 7 kaki
Struktur ini tetap sama selama 966 tahun, dengan perubahan kecil di sana sini.
Pembangunan Kembali Ka’bah di Jaman Sultan Murad:
Di tahun 1039H (1629 Masehi), lagi-lagi rumah auwloh kebanjiran, melanda sehingga dua tembok bagian timur dan barat Ka’bah rubuh. Kejadian ini terjadi di 19 Sha’ban tahun 1039H. Banjir mencapai ketinggian 10 kaki (3m) dari tanah.
Setelah usai banjir, maka Ka’bah dibangun kembali di bawah pengawasan Sultan Murad. Bentuknya persis sama dengan Ka’bah di jaman Quraish sebelum Muhammad mengklaim dirinya sendiri sebagai nabi.
Pembangunan Kembali Ka’bah di tahun 1996:
Bongkar pasang besar-besaran dilakukan terhadap Ka’bah dari bulan Mei 1996 sampai Oktober 1996. Ini dilakukan setelah 400 tahun Ka’bah dibangun kembali oleh Sultan Murad.
Dalam pembangunan kembali kali ini, bagian yang masih asli hanyalah batu-batu Ka’bah saja. Semua bagian lainnya diganti, termasuk bagian langit-langit dan atapnya yang terbuat dari kayu.


Apa sih isi dalam Ka’bah?
Ketua Islamic Society of North America (ISNA = Masyarakat Islam Amerika Utara) punya kesempatan masuk ke dalam Ka’bah di tahun 1998. Inilah keterangannya:
▪ di dalamnya terdapat dua pilar (orang lain menyebut 3 pilar).
▪ ada meja untuk meletakkan parfum.
▪ terdapat dua lampu lentera yang digantungkan dari langit-langit.
▪ ruangan cukup untuk menampung 50 orang.
▪ tidak ada lampu listrik di bagian dalam.
▪ tembok dan lantai terbuat dari marmer.
▪ tidak ada jendela di bagian dalam.
▪ hanya ada satu pintu.
▪ bagian atas tembok-tembok di bagian dalam ditutupi gorden.
Jangan pula mengira bangunan kotak keramat itu adalah asli dari budaya Islam. Lihatlah batu kotak yang dibangun untuk makam keramat para Kaisar Persia di abad ke 5 sebelum Masehi ini:
Mirip, bukan?
Budaya Persia merupakan budaya terunggul di Timur Tengah sampai pertengahan abad Masehi. Jadi tidak heran jika pengaruh budayanya menyebar ke mana-mana dan bentuk makam keramat ini lalu ditiru oleh masyarakat Timur Tengah, termasuk masyarakat pagan Quraish.
Masih ada lagi nih kotak-kotak batu Jin yang banyak terdapat di kota kuno Petra di Yordania:
Kotak batu ini melambangkan Dewa Dushara yang disembah masyarakat kuno Nabasia.
Kemudian ini lagi bangunan masyarakat kuno Nabasia penyembah dewi Al Uzza di Timur Tengah:
Kotak tempat dewa nih. Sama seperti Ka'bah tempat dewa bulan Allah ta-alla.
Belum lagi dewa-dewa kotak yang ini:

Dewa bulan beserta lambang bulan sabitnya dari Mesir:
Penyembahan terhadap dewa bulan merupakan hal biasa dalam masyarakat kuno Timur Tengah dan hal ini sudah berlangsung sejak jaman Abraham (kira-kira 4.000 tahun sebelum Masehi).

Yang ini kuil Dewa Bulan dari Mesir:

Yang ini kuil Dewa Bulan dari Yemen:

Wahai, non-Muslim, jangan pernah terjebak dan masuk Islam, ya?

Menurut Ensiklopedia Britannica and Ensiklopedia Islamia, masyarakat Arab tidak mencatat sejarah mereka sendiri sebelum jaman Islam. Anehnya, mereka bahkan menyebut jaman itu sebagai jaman jahiliyah yang penuh nista dan kegelapan. Mungkin tiada satu pun negara di dunia yang terang-terangan menghapus sejarahnya sendiri selama 2.500 tahun dengan secara sistematis menghancurkan segala yang berhubungan dengan masa lalu. Mereka telah menghapus segala kenangan era sebelum Islam dalam benak mereka. Jika mereka memilih untuk jadi bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka, maka sungguh ironis bahwasanya mereka menuduh jaman sebelum Islam sebagai jaman bodoh dan tidak tahu apa-apa.

Siapa Yang Pengecut???



SIAPA YANG PENGECUT?
Saifan Taruc vs. Ali Sina



Saifan Taruc wrote:
Saya cuma mau komentar sedikit saja karena tidak ada untungnya berdebat dengan orang yang sudah menetapkan pendapatnya.

Anda bolak balik dengan posisi anda mengenai tuhan utk membuat argumen yang cocok buat anda. Anda bilang anda percaya agama itu cuma mitos, tapi begitu seorang muslim bilang dia akan menemui anda di neraka, anda mengatakan bahwa merekalah yang akan masuk neraka. Sangat Konsisten betul
.

Saya bicara pada tiap orang dalam bahasa yang mereka mengerti. Apa anda bicara pada balita anda dengan bahasa yang sama spt anda bicara pada boss anda? Apa ini berarti anda tidak konsisten? Saya telah menetapkan posisi saya dengan jelas mengenai Tuhan, neraka dan surga waktu bicara hal ini.

Tapi, kalau pengertian seorang muslim terbatas, dan dia mengancam saya dengan nerakanya karena saya memilih jadi kafir, saya tidak melihat ada gunanya berdebat dengan dia apa neraka itu ada atau tidak. Orang ini tidak bisa mengerti ide demikian. Jadi saya bicara dengan bahasa dia sendiri agar dia bisa melihat bahwa meskipun neraka itu ada, muslimlah yang harus takut akan itu dan bukan non-muslim.

Muslim memakai Tuhan sebagai “red herring” (pengalih perhatian) utk menghindari diskusi tentang Muhammad. Meski tidak sulit melihat fallacy dari konsep demikian, strategi ini membuat mereka bisa sembunyi dibelakang agama dan menghindar utk membela Muhammad. Saya tahu akan taktik ini dan tidak akan masuk perangkap mereka.

Utk menunjukkan fallacy ala Muslim, saya anggap saja Allah itu ada. Kadang bahkan saya setuju Allah itu pemarah dan tanpa ampun, persis seperti yang digambarkan oleh Muhammad. Dengan dasar pikiran itu saya buktikan bahwa islam itu sebuah kebohongan dan oleh karena itu, muslimlah yg akan terjerumus neraka karena percaya pada doktrin yang palsu.
Sekali benih keraguan tertanam dalam pikiran mereka, proses pencerahan bisa dimulai. Mereka bisa dengan mudah menemukan kebenaran-kebenaran lain. Benih-benih pencerahan itu adalah keraguan.
Saifan wrote:
“Hadiah US$50.000”-mu cuma tipuan menyedihkan belaka. Anda hanya melihat segala sesuatu dalam sudut pandang anda saja, jadi apapun “bukti” yang dijabarkan, anda tidak akan menganggapnya sebagai bukti.


Ah, nggak tuh ! Saya tidak bertindak sebagai juri. Para pembacalah yang menilai. Bisakah anda tunjukkan argumen mana yang disampaikan oleh lawan saya yang telah menyanggah tuduhan-tuduhan saya terhadap Muhammad? Bisakan anda melihat argumen yang membuktikan bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan? Jika anda tidak dapat menemukannya, maka jelas tantangan saya belum dipenuhi. Jika sudah, tolong post-kan dalam forum ini agar semua orang tahu.
Saifan wrote:
Saya ingat mengambil kelas ENGL 1301 dan salah satu ajaran yang saya dapat dalam penulisan tentang makalah argumentasi adalah bahwa saya harus menghargai lawan agar membuat diri tidak berat sebelah dihadapan pembaca. Seluruh situs anda berpihak pada satu sisi saja, saya akan heran jika orang tidak melihat hal ini sebagai materi-materi propaganda/berat sebelah belaka. Berapa banyak saya lihat kata ‘evil’ disini? Okay, kalau orang tak berwujud ini bilang itu ‘evil’, pastilah ‘evil’. Please.

Saya menghargai lawan jika ia pantas dihargai. Contoh, saya hargai anda karena anda sopan, (hal ini jarang diantara para muslim disini) dan surat anda logis serta inggris anda bagus. Tapi saya tidak bisa menghargai argumen anda yang jelas-jelas salah.

Evil (jahat) itu tidak subjektif. Perkosaan, perampokan, penjarahan, kebencian pada wanita dan pelanggaran HAM itu jahat. Ini bukan karena saya yg bilang tapi karena semua itu bertentangan dengan Aturan Emas (The Golden Rule). Memakai Aturan Emas sebagai standar, kita bisa melihat islam itu sangat jahat. Para muslim tidak mau diperlakukan seperti mereka memperlakukan pihak lain. Ini saja bukti yang cukup utk menunjukkan bahwa islam itu jahat.

Baru-baru ini seorang Iran yang masuk Kristen dipukuli dan toko mesin jahitnya dirusak. Hakim mengatakan, itu salah dia sendiri karena dia mencoba menyebarkan injil.

Perempuan ini berusaha menopang hidupnya dgn menjahit pakaian dan secara sukarela mengajar keahlian menjahit kdp tiga orang perempuan. Selagi ngobrol, dia berbicara tentang iman Kristennya dan mulai mengajar mereka tentang agama Kristen. Tapi salah seorang pertempuan, yang kabarnya berasal dari keluarga muslim, marah. Ia melaporkan hal ini dan akhirnya, toko si perempuan ini dirusak, peralatan-peralatannya dihancurkan dan dia dipukuli dan diancam utk dibunuh. Perempuan ini bahkan diseret ke pengadilan, dan hakim bilang para penuntutnya berhak menyerang dia dan merusak toko dia. Ini sumbernya: Klik Disini

Apa Muslim dinegara non-Muslim menderita penganiayaan dan diskriminasi yang sama? Apa yang terjadi pada perempuan itu bukan sesuatu yg aneh. Minoritas dinegara islam dianiaya terus menerus dan keadilan disangkal bagi mereka, khususnya jika mereka mencoba mengkhotbahkan agama mereka. Ini jahat. Jika Islam itu tidak jahat, maka perkataan ini tidak ada artinya.

Ketidakadilan dan perlakuan jahat ini tidak terjadi karena muslim salah mengerti tentang Islam, tapi karena mereka mengerti benar dan mencoba mempraktekkannya. Jangan berasumsi karena anda tidak langsung terlibat dalam kejahatan yang dilakukan para mullah dan teman-teman muslim anda itu, anda lalu bebas dari dosa-dosa tsb. Jauh dari itu! Ajaran islam andalah yang memberi mereka alasan utk berbuat jahat. Jika anda meninggalkan Islam, mereka akan tidak berdaya dan meninggalkan Islam juga. Anda memberi mereka kekuatan dan itulah yang diinginkan para bajingan ini.
Para muslim mengikuti iman setan dan sepanjang anda tetap jadi muslim, anda salah satu dari mereka. Jika ada neraka, sepantasnyalah neraka berisi muslim. Sudah waktunya anda bangun dan keluar dari kesintingan ini. Ketidaktahuan bukan lagi alasan. Anda sudah tahu sekarang.
Saifan wrote:
Nasihat saya dalam membuat argumen anda lebih kredibel:
- kurangi kata-kata yang menghina, atau sarkasme, tidak membantu argumen (seperti keluhan anda tentang “muslim gila”)
- Konsisten dengan posisi anda
- Adil, hargai lawan anda. (anda membicarakan sebuah agama dengan 1 milyar lebih pengikut, pastilah ada hal baik tentang agama ini, benar? Atau hanya sebuah sekte jahat semua?)

Ini semua nasihat yang baik. Tapi tolong anda lebih spesifik, jadi saya tahu argumen yang mana yang melanggar hal diatas.

Tak ada yang absolut. Hitam tidak hitam total dan putih tidak total putih. Baik dan jahat diungkap dalam tahapan, seperti gradasi. Bahkan nazisme, punya hal baik. Bahkan Hitler dan Saddam Hussein punya kebaikan. TAPI kebaikan dalam nazisme, Islam, Hitler, Saddam dan Muhammad begitu kecilnya hingga hampir tidak berarti.
Minus 10 derajat celcius itu dingin, tapi lebih hangat dari minus 30 derajat celcius. Ketika saya bilang islam itu jahat, ini dibandingkan dengan hampir seluruh agama lain. Saya yakin jika saya menggali lagi, saya akan bisa menemukan doktrin yang lebih jahat lagi. Lord’s Resistance Army, agama yang diciptakan oleh Joseph Koni terlintas dipikiran saya. Ya, Koni bahkan lebih jahat dari Muhammad. Apa itu membuat anda sedikit lebih lega kalo tahu bahwa ada yang lebih jahat dari Muhammad dimuka bumi ini?
Saifan wrote:
- buat percakapan terbuka alih-alih berpikiran tertutup. Terbuka utk ide bahwa mungkin anda salah.

Saya terbuka akan ide itu. Saya berdiskusi sekarang ini dengan pikiran terbuka dan saya menantang siapapun yang bisa membuktikan saya salah. Bandingkan dengan apa yang dilakukan Muhammad. Dia tidak pernah memberi bukti apapun mengenai pengakuannya. Dia menuntut penyerahan diri total dan tidak mentoleransi penolakan.
Saya tidak membuat pengakuan apapun, saya tidak menuntut apapun dari orang lain dan saya menjabarkan arguman secara publik dan menyambut baik segala perdebatan. Muhammad tidak jujur. Saya jujur! Dia tantang orang utk buat Surat Quran seperti yang dia buat (http://www.faithfreedom.org/faq/65.htm) dan lalu memerintahkan orang yang menentang dia utk dibunuh. Saya telah menunjukkan kejujuran saya dengan mengundang semua orang utk menyanggah saya dimuka umum. Kok anda tidak bisa menangkap kesalahan-kesalahan saya?
Saifan wrote:
- jangan pengecut. Menyembunyikan identitas anda dan memastikan andalah yang membuat argumen paling akhir, itu semua pathetic/menyedihkan (saya yakin anda akan membuktikan ini segera).

Good day

Saya bukan pengecut. Malah, saya sangat berani. Seorang pengecut adalah orang yang takut pada hal-hal bohong, seperti monster dibawah tempat tidur. Muslim bersifat pengecut karena mereka ketakutan dan takut utk meragukan kebohongan Muhammad. Bahkan jika anda memberi mereka bukti-bukti yang tidak bisa mereka sangkal, argumen satu-satunya yang mereka punya adalah, kau akan masuk neraka karena tidak percaya. Satu-satunya yang menahan muslim dalam islam adalah rasa takut – takut akan auwloh, raksasa lalim dalam pikiran mereka. Itulah tindakan pengecut.

Anda tidak bisa menyebut orang yang tahu bahaya dan mencoba menghindarinya sebagai seorang pengecut. Orang yang berhati-hati agar tetap hidup, bukan pengecut. Jika ada seseorang berjalan dengan gagah dihadapan sekelompok singa lapar, dia bukan orang berani tapi orang gwuoblok.

Kepercayaan pada Muhammad telah menurunkan derajat orang tsb menjadi binatang buas. Perintah Muhammad utk membunuh mereka yang menentang islam sudah jelas dan dunia tidak kekurangan orang patuh yang tanpa ragu akan mengikuti perintah tsb. Bodoh sekali saya jika mempertaruhkan nyawa saya, padahal tahu benar realitas seperti ini.

Tolong jangan salah mengerti (keliru) akan kebuasan dan keberanian. Dalam dunia manusia, keberanian artinya punya kemauan utk berpikir, utk berenang melawan arus dan menolak konsepsi yang salah meski konsep itu mayoritas. Galileo orang yang berani karena berani berpikir berbeda. Tak seorangpun pikir dia itu pengecut karena menarik pernyataan bumi bergerak memutari matahari hanya agar tidak dibakar hidup-hidup. Bodoh sekali meregang nyawa utk memuaskan zombie-zombie haus darah dan otak mati yang telah kehilangan kemanusiaan dan telah turun harkat jadi binatang buas.

Justru MUHAMMAD SEORANG PENGECUT TULEN ! Tahukah anda, meski dia memanas-manasi hati para pengikutnya agar menghadap kematian dan dengan berani bertempur serta mengambil harta jarahan bagi Auwloh dan utusan-Nya, dia sendiri tidak pernah ikut bertempur?! Muhammad tidak pernah bertempur secara langsung, kecuali ketika dia masih muda (20 thn) dan ketika semua pamannya ikut berperang dalam perang Keramat di Mekah. Si pengecut ini cuma berani memunguti anak-anak panah setelah perang berakhir/gencatan senjata.

Dalam semua perang yang dia kobarkan, si pengecut ini berdiri paling belakang, memakai baju baja, bukan satu lapis baju baja, tapi dua lapis, ini membuat dia harus dibantu ketika mau berdiri, duduk atau berjalan. Dalam keadaan demikian, ketika perang berkobar jauh didepannya, dia hanya meraup pasir, melemparkan kearah musuh dan mengutuk mereka. Inilah yang dilakukan si pengecut ketika anak buahnya berperang.

Berperang, sebenarnya perkataan yang berlebihan. Dia melakukan Ghazwa (perampokan). Anda pikir seorang pengecut bukan orang yang menyerang orang tidak bersenjata dan lengah? Korban-korban Muhammad tidak mendapat peringatan apa-apa, tahu-tahu diserang. Bahkan di tengah malam buta. Ini yang Muhammad lakukan dan yang saudara-saudara muslim kalian lakukan sekarang. Para pejihad juga menyerukan serangan mendadak dan Ghazwa terhdp orang-orang sipil. (apakah ada yg lebih pengecut dari ini? –admin)

Menjadi muslim itu memalukan. Menjadi muslim itu menjijikan. Tidak ada namanya Muslim yang baik. Yang ada hanya muslim yang tidak tahu dan muslim yang jahat. Siapapun yang baca artikel ini dan masuk ke situs ini, tidak bisa lagi mengaku tidak tahu. Meski sudah tahu kenyataan, tapi masih jadi muslim, dia bukan lagi orang yang baik.

Tidak ada manusia yang baik yg masih sudi disebut muslim setelah tahu kenyataan tentang Muhammad. Muslim yang tidak tahu adalah mereka yang tidak mengetahui kenyataan. Dengan kebenaran kita akan memisahkan baik dari jahat seperti memisahkan gandum dari ilalang.

Karena mayoritas muslim adalah muslim yang tidak tahu, saya berharap bahwa begitu kebenaran menyebar, jutaan muslim akan murtad meninggalkan kultus kebencian ini. Islam akan menemukan kematiannya dan seperlima dari umat manusia akan dibebaskan. Ini sudah dimulai.

Saya bukan pengecut hanya karena tidak menawarkan nyawa saya dihadapan sekelompok zombie tak berotak. Para muslim-lah yang pengecut karena tidak berani memakai otak mereka, karena tidak berani utk ragu-ragu, karena percaya pada kebohongan dukun klenik dan takut mempertanyakan iman buta mereka.

Muslim = pengecut karena melakukan terorisme dan membunuh orang tak bersalah. Muslim-muslim spt anda = pengecut karena berdiam diri bengong kosong melompong saat muslim-muslim lain dan mullah-mullah menganiaya dan melanggar HAM para murtadin dan minoritas disekitar anda. Anda serta orang-orang tua, saudara, istri dan anak-anak anda hanya melongok bak kambing, tanpa melakukan apa-apa.

Muslim = pengecut karena takut mempertanyakan kebohongan Muhammad. Pengecut karena tidak berani berpikir, dan karena, meski tahu islam tidak masuk akal, tetap saja tidak punya nyali utk meragukannya.

Kemampuan terbesar (anugerah dr Tuhan. –admin) yang dimiliki manusia adalah kemampuan berpikir. Tanpa itu kita tidak lebih dari binatang. Para muslim-lah yang tidak punya kemampuan itu, mereka takut memakainya. Hasilnya sama saja seperti tidak punya otak. Saya tidak bilang setiap muslim itu berbahaya. Terang saja itu tidak benar karena mayoritas muslim adalah orang-orang baik. Saya dibesarkan diantara mereka dan merasakan kebaikan mereka secara langsung. Tapi, semua muslim itu pengecut karena mereka takut pada “gergaji” yang disebut auwlloh dan takut utk meragukan. Islam akan jadi tinggal sejarah begitu muslim mulai berani meragukannya.


MITOS-MITOS ISLAM

Muslim sering merengek bhw pihak Barat/non-Muslim kurang memahami agama mereka. PADAHAL MUSLIM SENDIRI tidak mengerti agama mereka dan bahkan termakan kebohongan/mitos Islam.
Ini mitos-mitos yg dipercaya kuat oleh Muslimin sedunia yg mereka coba paksakan kpd dunia kafir :

  1. Islam berarti 'Damai'
  2. Islam menghargai bhw perempuan adl sama [emansipasi perempuan]
  3. Jihad berarti 'peperangan didlm batin'
  4. Islam adalah agama damai
  5. Islam itu agama yg toleran dgn agama lain
  6. Islam-lah yg menghantarkan kpd Zaman Keemasan dr penemuan-penemuan Ilmu Pengetahuan
  7. Islam menentang perbudakan
  8. Islam itu bkn teroris
  9. Islam itu sama dgn demokrasi

Ayo kita bedah satu per satu..


1. ISLAM BERARTI 'DAMAI'
Mitos:
Muslim yg kurang berpendidikan sering main klaim bhw akar dr kata 'Islam' adl 'Al-Salaam', yg berarti 'Damai' didlm bhs Arab.

The Truth:
Akar kata dr 'Islam' adl 'al-Silm,' yg berarti 'penyerahan' atau 'menyerah/tunduk' sepenuhnya (kpd Auwloh). Ini disetujui secara luas oleh cendekiawan Islam.

Penyerahan dan damai memiliki konsep berbeda, tapi damai versi Islam juga bisa dicapai lewat kekerasan yg dipaksakan kpd pihak lain agar menyerah (kpd Islam).

Quran tdk hanya menyuruh Muslim utk tunduk kpd Auwloh, ttp juga memerintahkan mereka utk memaksa orang dr agama lain utk tunduk kpd hukum Islam. Ini dibuktikan oleh Sejarah Islam yg penuh dgn peperangan berdarah utk menundukkan org lain.


2. ISLAM MENGHORMATI PEREMPUAN

Mitos:
Quran menempatkan laki-laki dan perempuan sama dihadapan Auwloh. Setiap org dihakimi menurut perbuatannya (amal-sholeh) sendiri. Hukum Islam memberikan perempuan hak yg sama dgn laki-laki.
The Truth:
Bhw setiap org (baik laki-laki maupun perempuan) dihakimi oleh Auwloh tdk berarti bhw mereka punya hak yg sama dan peran yg sama, atau dihakimi dgn standar yg sama. Faktanya, Surah 37:22-23 menyatakan pd Hari Kiamat kaum perempuan akan dihakimi sesuai dng dosa-dosa yg mrk lakukan terhdp suami mrk, ttp tdk sebaliknya, laki-laki dihakimi sesuai dng kelakuan mereka thd istri-istri mereka.

Quran dgn sangat jelas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa perempuan adalah dibwh laki-laki.

Setelah menang perang, Muhammad sering memberikan para perempuan tawanan sebagai hadiah bagi para begundal/tentaranya. Sedikitnya dalam satu kasus, Muhammad memberi saran kepada tentaranya utk memperkosa para perempuan dihadapan para suami mrk. Para tahanan perempuan dijadikan budak seks oleh laki-laki yg membunuh suami dan saudara laki-laki mrk.

Sedikitnya ada 3 ayat di Quran yg menyatakan bhw Auwloh berfirman bhw Muslim mempunyai hak seksual penuh atas para budak perempuan dan tdk ada satupun ayat Quran yg melarang pemerkosaan.

Quran mengijinkan laki-laki Muslim utk memukul istri mereka kalau mereka tidak taat. Dgn sangat jelas dikatakan bhw suami adalah “satu derajat diatas” istri. Hadis Sahih menyatakan bhw perempuan itu inteleknya setengah dr laki-laki dan bhw mereka adalah penghuni neraka.

Dibwh hukum Islam, laki-laki bisa menceraikan istrinya semaunya. Dan jika dia mau menikahi istrinya lagi, istrinya hrs berhubungan seks terlebih dahulu dgn laki-laki lain sebelum boleh kembali rujuk dgn suaminya. Para laki-laki tdk perlu melakukan hal itu.

Perempuan Muslim tdk bebas menikahi siapapun yg mereka suka, lain dgn laki-laki Muslim. Suami mereka bisa menikahi perempuan lain kapanpun dan siapapun. Perempuan harus siap setiap saat melayani suaminya, kapanpun suaminya menginginkan hubungan seks ( “spt ladang siap utk dikerjakan”, sesuai kalimat Quran )

Perempuan Muslim tdk mewarisi warisan harta yg sama dgn para laki-laki. Kesaksian mereka di pengadilan nilainya setengah dari kesaksian laki-laki. Tdk spt para laki-laki, perempuan hrs menutup kepala mereka dan bahkan wajah mereka.

Jika perempuan mengatakan bhw mereka telah diperkosa, mereka hrs dpt menghadirkan empat saksi laki-laki utk mendukungnya. Sebaliknya jika ia tdk dpt menghadirkan para saksi laki-laki, justru sang perempuan yg akan dituduh berzinah dan hukuman maksimalnya adalah perajaman sampai mati.

Dgn bukti-bukti ini, sangatlah sulit utk mengatakan bhw perempuan dan laki-laki adl sama dibwh hukum Islam. Mereka yg ingin memoles Islam agar terlihat modern dihadapkan pada kenyataan-kenyataan hukum dan sejarah Islam yg sangat bertentangan.


3. JIHAD BERARTI PERGULATAN/PERJUANGAN BATIN

Mitos:
Muslim sering bersikeras bhw didalam bahasa Arab, Jihad yg berarti “bertarung/perang” atau “bergumul”, lebih menunjuk kpd “peperangan batin” daripada Perang Suci secara fisik.

The Truth:
Mengaku bahwa Jihad digunakan hanya dlm konteks perjuangan batin sama dgn mengubur kepala dlm tanah. Anda pikir Muhammad menggunakan perintah jelas dlm Quran, spt memotong jari dan memenggal kepala kafir hanya demi 'perjuangan batin' ?
Menghadapi kenyataan-kenyataan ini, Muslim sering berputar-putar plintat-plintut ngalor ngidul, mengaku bhw jihad mengandung dua arti; bhw “perjuangan batin” adalah “Jihad yg lebih besar” dan oleh karena itu “Perang Suci secara fisik” itu “lbh kecil”. Ini hanya pernyataan politically correct (pembenaran) yg dicari-cari yg didasarkan pada Hadis dg jumlah sangat sedikit, lemah dan sangat tdk bisa dipercaya.

Sebaliknya, Hadis yang paling bisa dipercaya yakni Hadis Bukhari menyatakan bhw kata Jihad, yang disebutkan lebih dari 200 kali oleh Muhammad dan setiap kali diucapkan, selalu menunjuk kepada Perang Suci secara fisik (Holy War). Dan ironisnya, Hadits Bukhari TIDAK sekalipun menunjuk pada kata Jihad dalam konteks “perjuangan/ pergumulan batin.”

4. ISLAM ADALAH AGAMA DAMAI

Mitos:
Muhammad adl org yg penuh damai yg mengajarkan para pengikutnya utk mencintai sesama. Muslim telah hidup damai selama berabad-abad, hanya berperang utk membela diri ketika dibutuhkan dan bahwa Muslim yg sejati tdk pernah berlaku agresif.
The Truth:
Dlm 10 tahun terakhir hidupnya, Muhammad mengepalai 65 aksi militer, 27 diantaranya ia terjun secara langsung. Semakin kuat pasukan Muhammad, semakin kecil alasan dia utk memimpin perang secara langsung. Muhammad menyerang suku-suku di jazirah Arab hanya karena mereka tidak mau menerima Auwloh atau dirinya sbg rasulullah.

Setelah Muhammad mati karena racun, para pengikut setianya dan bahkan anggota keluarganya saling baku hantam dlm peperangan berdarah. Dlm 25 thn pertama, ada 4 Kalif (pemimpin). 3 dari 4 Kalif terbunuh oleh sesama Muslim dalam perebutan kekuasaan. Kalifah ketiga dibunuh oleh anak dari Kalif pertama. Kalif keempat dibunuh oleh Kalif kelima yg juga berakhir secara mengerikan dgn pembunuhan massal yg dilakukan oleh sesama keturunan Muhammad.

Anak perempuan Muhammad sendiri, Fatimah dan suaminya/menantu Muhammad, Ali, tetap tidak luput dari peperangan didalam tubuh Islam. Fatimah mati setelah dianiaya selama 3 bulan dan Ali juga dibunuh. Anak mereka (cucu Muhammad-Hussein) juga dibunuh dalam peperangan dengan kelompok Islam yg pada akhirnya bernama Islam Sunni, sedangkan kelompoknya diberi nama Islam Syiah. Pada akhirnya keluarga keturunan Muhammad saling berperang dan memecah belah Islam dari dalam tubuhnya sendiri.
Muhammad sendiri meninggalkan pesan sebelum meninggal agar Muslim memerangi Yahudi, Kristen dan orang Persia. Dan 4 abad berikutnya, tentara Muslim menaklukkan wilayah dgn cara menjarah, merampok, memperbudak dan memaksa orang-orang yg ditaklukkan utk memeluk Islam atau membayar pajak yg sangat tinggi (jizyah).

Para sahabat Muhammad meneruskan pesan Muhammad dan memerintahkan pengikut agar berjihad fisik terhdp semua agama besar dunia saat itu – Hindu, Kristen, Zoroastrian dan Buddhis.

Pada saat munculnya Kaum Salibi/The Crusades (ketika Eropa mulai melawan penjajahan Islam), Muslim sudah menaklukkan 2/3 dari dunia Kristen dengan pedang dan kekerasan, dari Spanyol sampai ke Syria, bahkan sampai ke Afrika Utara. Pasar perdagangan budak yg dilakukan oleh orang-orang Arab berjalan sampai 1300 tahun, sampai akhirnya negara-negara mayoritas Kristen menekan negara-negara Islam utk menyatakan bhw perbudakan itu illegal.
Pada kenyataannya, saat ini tidak ada agama lain didunia yg secara konsisten dapat menghasilkan teroris dan kekerasan atas nama agama, seperti yg dilakukan oleh Islam. HANYA ISLAM yg dapat memproduksi teroris yg dgn bangga menyatakan bhw dia melakukan terror karena cinta kepada Islam. Orang Islam yg paling berbahaya adalah mereka yang menafsirkan Quran secara apa adanya, tanpa kemunafikan. Mereka itu adalah Muslim yg paling murni imannya (muslim sejati) dan tidak menambah-nambahkan tafsiran apapun atas Quran. Mereka ini yakin bahwa perintah Muhammad adalah utk menyebarkan Islam dengan pedang dan membinasakan mereka yg tidak mau tunduk, dan kedamaian hanya dapat dicapai 'saat tidak lagi ada fitnah,' alias : sampai akhirnya seluruh dunia tunduk dibawah Islam.

Quran sendiri dipenuhi dengan ayat-ayat kekerasan dan kebencian terhdp mereka yg berada diluar Islam. Sangat berbeda dgn kitab-kitab sebelumnya, dimana Perjanjian Lama dipenuhi dgn kekerasan pula tetapi kemudian diubah oleh Perjanjian Baru dgn ajakan kasih dan damai. Quran adalah kebalikannya, pada awalnya keluar ayat-ayat Mekah (saat Muhammad masih belum punya power) yg dipenuhi dengan pesan damai. Tetapi lambat laun saat Islam dan Muhammad menjadi kuat di Medinah, pesan-pesannya menjadi sangat penuh dengan kekerasan, kebencian dan perintah utk memerangi orang lain.

Sementara kisah-kisah di Perjanjian Lama Alkitab yg ada pula kisah perang dan darah, hanya berlaku utk konteks saat itu spt yg dinyatakan di dalam Alkitab, sebaliknya pesan-pesan kekerasan dan kebencian di Quran berlaku terbuka (universal) tanpa batas waktu.


5. ISLAM AGAMA YG TOLERAN ATAS AGAMA LAIN

Mitos:
Agama minoritas berkembang dibawah hukum Islam. Muslim diperintahkan utk melindungi dan tidak menyakiti orang Yahudi dan orang Kristen (kaum Ahlul Kitab)

The Truth:
Agama minoritas TIDAK PERNAH berkembang dibawah hukum Islam. Faktanya, selama berabad-abad agama minoritas selalu ditekan penganiayaan dan diskriminasi. Banyak dari mereka yg dipaksa murtad dari agama asli mereka dan dipaksa memeluk Islam, yang lainnya hidup sebagai masyarakat kelas dua (dhimmi), yang mana harus membayar pajak lebih tinggi dan hrs rela hidup di-diskriminasi.
Ini memang kebohongan yg PALING disukai Muslim utk menarik minat kafir kpd Islam. TAPI apa yg disebut oleh Muslim sebagai “toleransi”, oleh orang lain disebut sebagai “diskriminasi yang dilembagakan”. Begitu Yahudi dan Kristen menjadi dhimmi di bawah hukum Islam, mereka dianggap setuju utk menjadi masyarakat kelas dua yang tidak mempunyai hak dan kebebasan beragama sederajad spt yg dipunyai oleh Muslim. Mereka tidak dapat menunjukkan agama mereka, mereka tidak dapat memperbaiki ataupun membangun rumah ibadah tanpa seijin para Muslim.

Sejarah membuktikan bahwa kaum dhimmi harus mengenakan pakaian dan potongan rambut mereka secara berbeda yang menandakan posisi rendah mereka. Mereka tidak mempunyai hak-hak hukum yg sama dgn Muslim, bahkan mereka dipaksa utk membayar pajak tambahan khusus (Jizyah). Mereka wajib dibunuh atau merelakan anak mereka diambil Muslim bila mereka tidak mampu memuaskan para penagih pajak.

Selama ratusan tahun, anak-anak orang Kristen Eropa yg dijajah oleh Islam direbut dan dipaksa utk menjadi Tentara Islam (Jannisaries) dibawah pemerintahan Ottoman Turki.

[Catatan : Baru-baru ini -Februari 2008- PM Australia meminta maaf kpd orang Aborigin karena anak-anak mereka direbut dan dipaksa berasilimasi dgn orang kulit putih. Jangan harapkan permintaan maaf spt ini dari Muslim!]

Akibat diskriminasi dan status warga kelas dua/kelas tiga, banyak orang yang tidak tahan lalu kemudian memeluk Islam. Toleransi kpd mereka yg bukan “Ahlul Kitab”, seperti orang Hindu dan Ateis, jauh lebih parah lagi. Quran sendiri memerintahkan Muslim utk “berperang di jalan Auwloh” sampai tidak lagi ada fitnah, yaitu “agama hanya utk Auwloh.” Masyarakat yg telah ditaklukkan menghadapi hukuman mati jika mereka tidak shalat dan memberi sedekah (zakat) sesuai dgn tradisi Islam.

Raja-raja Islam spt Tamerlane (Timur Lang) membantai ratusan ribu orang Hindu dan Budha memaksa jutaan orang utk memeluk Islam.

Islam menerapkan standar ganda terhadap agama-agama lain. Disatu sisi mereka mengatakan bhw orang dari agama lain dikutuk Auwloh, tetapi disisi lain mereka membual dgn indahnya toleransi terhadap agama lain. Ada lebih dari 500 ayat di dlm Quran yg berbicara ttg kebencian Auwloh terhadap non-Muslim dan hukuman bagi mereka yg tidak percaya. Sebaliknya ada beberapa ayat yang mengatakan toleransi, tetapi jelas sekali bhw kebanyakan ayat-ayat yang awalnya toleransi itu pada akhirnya dibatalkan dan diganti dengan ayat-ayat kekerasan dan kebencian yang diturunkan lebih belakangan dari ayat-ayat toleransi tersebut.

Jika toleransi berarti pebantaian massal bagi mereka yg berbeda agama, maka Islam pada umumnya memenuhi standar toleransi. Tetapi jika toleransi berarti membiarkan orang utk bebas memeluk dan menjalankan agamanya, maka Islam secara fundamental adalah agama yang paling tidak toleran yang ada dimuka bumi.

6. ISLAM DAN JAMAN KEEMASAN ILMU PENGETAHUAN

Mitos:
Muslim sering bersikeras bahwa Islam berperan tinggi dalam penemuan ilmu pengetahuan, teknologi dan obat-obatan. Mereka sering menunjuk kpd periode abad ke 7 dan abad ke 13, ketika Eropa mengalami “Abad Kegelapan” dan Muslim membawa budaya yg baru.

The Truth:
Meskipun harus diakui bahwa dunia Muslim saat itu lebih maju dibandingkan dengan dunia “Kristen,” kemajuan itu BUKAN karena Islam, tetapi justru karena Islam DIABAIKAN oleh warga-warga 'Muslim' yg dipaksa masuk Islam. Faktanya, agama Islam sering mengecilkan pengetahuan dari luar Islam.

Pertama, dunia Muslim banyak mendapat warisan dari ilmu pengetahuan Yunani yang diterjemahkan oleh orang-orang Kristen dan Yahudi (yg dipaksa masuk Islam). “Muslim-muslim terpaksa” inilah yg menjaga ilmu-ilmu Yunani tsb yg kemudian - saat Muslim menjajah Eropa- ditransfer kpd org Eropa.

Kedua, banyak penemuan science yg diakui Islam sebenarnya dicaplok dari budaya bangsa lain yg ditaklukkan oleh tentara Islam. Contoh, konsep algoritma “zero” (angka 0), secara seenaknya diakui sebagai kontribusi Islam, PADAHAL angka 0 pertama ditemukan oleh org Hindu.

Faktanya, banyak komunitas yang djajah Islam mempunyai kontribusi besar dalam sejarah “ilmu pengetahuan Islam” karena secara perlahan tapi pasti komunitas itu di-Islamisasi (daripada jadi Dhimmi dan bayar pajak yg tinggi ). Islam sendiri hanya berperan kecil dalam penemuan ilmu pengetahuan tersebut.

Ketiga, bahkan ilmuwan Islam pada saat itu sering diakui sebagai orang sesat atau bid'ah. Sebagai contoh, satu dari penemu terbesar di dunia Islam adalah ilmuwan dan ahli filsafat Persia, al-Razi. Karya-karyanya yg sgt menakjubkan sering digunakan sbg bukti prestasi Islam. PADAHAL al-Razi dikutuk sbg penghujat Islam oleh kaum Islam konservatif sendiri.

Keempat, bahkan kontribusi yg sering disangkutpautkan dgn Islam
kebanyakan tdk begitu dramatis. Ada penemuan spt kata-kata khusus, spt ALchemy, ALjabar dan Elixir, tetapi tdk bnyk yg berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan modern.
Contoh lagi: Islam mengklaim penemuan kopi, karena biji kopi ditemukan di Afrika (pada saat itu, Afrika adalah sumber penting bagi pedagangan pasar budak bagi Islam) dan pertama diproses di Timur Tengah. Hal ini adl benar adanya, tetapi jangan lupa juga menyebutkan bahwa zat pewarna merah yg digunakan di berbagai macam produk makanan, mulai dari jus stroberi sampai ke permen, berasal dari semacam kumbang betina yg hanya dpt ditemukan di Amerika Selatan. Dan tidak ada satupun orang Katolik yg mengaku bahwa zat pewarna merah adalah 'penemuan Katolik' !

Faktanya, byk 'penemuan Muslim' yg sering diceritakan terlalu hiperbola (berlebihan) dan sudah kadaluwarsa. Pencapaian ilmu pengetahuan, obat-obatan dan teknologi adalah sesuatu yang mana pembela Muslim tdk mau dibandingkan dgn dunia Kristen (krn kalah telak kalau dibandingkan). Hari ini para pengembang Islam hanya dikenal semata-mata krn mengubah teknologi Barat (spt cell phone dan pesawat terbang) menjadi senjata pembunuh massal.

Singkatnya, meskipun dunia Islam mempunyai peran dalam sejarah ilmu pengetahuan, tetapi SALAH BESAR kalau anda mengatakan bahwa karena Islam-lah semua ilmu pengetahuan modern itu ada sekarang ini. Banyak pencapaian ilmu pengetahuan yg dikatakan berasal dari dunia Islam ternyata berasal dari non-Muslim yg tinggal di negara Islam atau berasal dari Muslim KTP yg mana tdk mempunyai ketertarikan terhadap agama sama sekali.


7. ISLAM MENENTANG PERBUDAKAN

Mitos:
Islam menentang segala bentuk perbudakan. Islam menghancurkan segala bentuk perbudakan, kita hrs berterima kasih kepada prinsip-prinsip yg ditanamkan oleh Muhammad yg adalah seorang penentang perbudakan.

Truth:
Tidak ada satupun ayat Quran yg menentang perbudakan. Faktanya, buku “suci” umat Islam ini secara tegas memberikan kebebasan kepada para pemilik budak utk berhubungan seksual dgn budak mereka – bukan hanya di satu ayat, tetapi sedikitnya di 4 Surah yang berbeda. Di dalam hukum Islam sendiri bertebaran hukum mengenai cara memperlakukan budak, tetapi tdk ada yg membatasi secara ketat cara memperlakukan budak secara manusiawi.

Hukum Islam yg ada (& kenyataan bhw Muhammad memiliki dan berdagang budak) mendukung dan melegalkan perdagangan budak. Sebagai contohnya adalah bhw kesengsaraan manusia sdh menjadi bagian dari tradisi Islam sejak jaman Muhammad dan menjadi situasi yg tdk menguntungkan bagi para non-Muslim di Sudan, Mali, Niger dan Mauritania, dsb.

Tdk pernah ada gerakan utk berusaha menghapus perbudakan di dalam sejarah Islam. Penghapusan perbudakan yg dimulai di negara-negara Islam disebabkan oleh tekanan politik negara-negara Eropa. Bila memang islam anti perbudakan, maka tidak dibutuhkan tekanan sedikitpun dari negara-negara Eropa agar negara islam menghapuskan praktek perbudakan.

Meskipun sampai saat ini masih terjadi banyak kekerasan sangat mengerikan terhadap budak (baca: TKW) yg terjadi di dunia Muslim, tetapi hanya sedikit yg peduli maupun menyesali apalagi merasa bersalah atas fakta tersebut. Itu jelas menunjukkan bahwa Muslim menganggap perbudakan ala Islam sbg sesuatu yg NORMAL !

BAHKAN banyak Muslim percaya bhw perempuan, laki-laki dan anak-anak yg diperbudak setelah kalah perang, sebenarnya harus berterima kasih bahwa mereka tidak dibunuh jihadis yg menawan mereka!
Rasa malu dan permintaan maaf tidak pernah ditemukan dlm Darul Islam. Para kalif dan para pemimpin agama memiliki ribuan gundik, gadis dan perempuan yg ditangkap dari Eropa yg dijadikan budak seks. Gadis-gadis Hungaria dikejar-kejar spt binatang oleh tentara Ottoman Turki, yang menjadikan lebih dari 3 juta orang menjadi budak selama lebih dari 150 tahun kekuasaan mereka.

Para budak Afrika sering dikebiri oleh para majikan Muslim mereka. Ini alasan mengapa tidak ditemukan byk keturunan Afrika di Timur Tengah, meskipun perbudakan dari Afrika di tanah Arab berlangsung selama 1300 tahun dibandingkan dgn 300 thn perbudakan di tanah Eropa.

Tdk ada org spt William Wilberforce atau Bartoleme de las Casas (orang-orang Kristen yg memulai penghapusan perbudakan di Eropa) di dalam sejarah Islam. Kalau kita minta Muslim menyebutkan satu saja nama orang Islam yg menjadi pelopor penghapusan perbudakan, mereka cuma mampu menyebutkan nama Muhammad seseorang. Tetapi, kalau seorg pemilik budak dan juga pedagang budak, yg memerintahkan penangkapan dan ekplorasi seksual terhadap budak dan meninggalkan warisan 13 abad perbudakan, adalah yg terbaik yg bisa ditawarkan oleh Islam, tidak banyak yg bisa diharapkan dari Islam.

8. ISLAM TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DGN TERORIS

Mitos:
Islam tidak ada sangkut pautnya sama sekali dgn aksi terorisme. Pembunuhan terhadap orang yg tidak bersalah adalah bertentangan dgn Islam.

The Truth:
Meskipun byk orang Islam yg percaya bhw agama mereka melarang pembunuhan terhdp org yg tidak bersalah oleh aksi terorisme, kebenarannya ternyata lbh rumit dari itu. Itulah kenapa Jihadis dan penentang mereka bisa sama-sama saling menuduh satu sama lain bahwa mereka bukanlah Islam yg sejati.

Faktanya, definisi dari “orang yg tdk bersalah” adalah tidak mudah dijelaskan oleh para pembela Islam, begitu juga definisi dari “terorisme”

Pertama, kita hrs mempertimbangkan bhw siapapun yg menolak Muhammad sbg rasul Tuhan adalah dianggap bukan “orang yg tidak bersalah (innocent people)” dibawah hukum Islam. Kelompok yg paling dilindungi dan dihargai dari semua orang yg non-Muslim adl dhimmi. Ini termasuk didalamnya yaitu orang Yahudi dan Kristen yg menyetujui utk hidup dibawah hukum Islam dan membayar the Jizya (pajak kpd Muslim). Tetapi kata “Dhimmi” berasal dari akar kata bhs Arab yg berarti “bersalah” atau “dipersalahkan”.

Jadi kalau orang Dhimmi mempunyai status bersalah yg menempel pada status mereka (krn menolak hukum Islam yg “sepenuhnya”), bagaimana mungkin non-Muslim tdk mau tunduk pada hukum Islam sama sekali atau menolak membayar pajak bisa dikategorikan sebagai “orang yg tdk bersalah / innocent people ?”

Didlm komunitas Islam sendiri ada kategori dari orang Muslim yg juga dikatakan bersalah – bahkan dikatakan lebih berdosa dari para non-Muslim. Kelompok ini adalah kelompok orang munafik atau Munafikin, yg mana Muhammad menunjuk kelompok ini sebagai golongan yg paling hina. Kelompok Munafikin ini adl kelompok Islam KTP. Mereka dpt dikatakan Munafikin krn tidak mau melakukan Jihad atau krn secara sengaja mengacaukan komunitas Muslim.

Ketika Muslim membunuh sesama Muslim atas nama Auwloh (misal, antara sunni dan shiah), mereka yg melakukannya biasanya percaya bhw korban mereka adl Munafikin atau org kafir, dan ini sebenarnya merupakan bagian dari hukum Islam yg bernama Takfir, yg mana jika ada Muslim yg murtad dan kemudian dieksekusi.

Sebagai tambahan dari tidak jelasnya definisi “org yg tdk bersalah”, adanya masalah bagi kita utk membedakan antara terorisme dan Jihad. Teroris Islam tdk pernah menyebut diri mereka sbg teroris, tetapi selalu menyebut diri mereka sebagai Pejuang Suci (Mujahidin, Syahid atau Fedayeen). Mereka menganggap aksi mereka sbg bagian dari Jihad (berperang di jalan auwloh).

Jihad adl sesuatu yg Muhammad perintahkan di dlm Quran dan Hadith. Di Surah 9:29, Muhammad memberikan prinsip bhw org kafir hrs diperangi sampai mereka memeluk Islam atau menerima/tunduk kpd hukum Islam (shariah). Hal ini dikonfirmasikan di Hadith oleh Sahih Muslim dan Bukhari.

Di banyak tempat, Muhammad berkata bhw Jihad adl jalan yg ideal bagi Muslim dan bhw Muslim hrs “berperang di jalannya Auwloh”. Ada puluhan pesan terbuka di Quran yg mendorong peperangan dan pembunuhan – lebih dari damai dan toleransi. Sangatlah naïf kalau kita berpikir bhw ayat-ayat Quran yg katanya berlaku sepanjang masa ini hanyalah kita ambil nilai sejarahnya saja dan tidak ada relevansinya pada Muslim saat ini, khususnya ketika tdk ada petunjuk di dalam text tersebut yg menjelaskan ttg hal ini.

Mengabungkan perintah Quran ttg Jihad dgn ketidak jelasan ttg siapa org yg tdk bersalah (innocence) menimbulkan masalah yg tidak dapat dijelaskan hanya dgn permainan dan akrobatik kata-kata. Bukan hanya krn diijinkannya kekerasan di dlm Islam, tetapi juga krn adanya ketidaksetujuan dan ketidaktulusan yg membenarkan kekerasan tsb… dan juga sasaran dari kekerasan itu.
Jadi meskipun bnyk Muslim meng-klaim bhw mereka tdk setuju kpd terorisme tetapi disisi lain mereka mendukung aksi-aksi perlawanan yg terjadi di Iraq, sbg contohnya, dan sering menyatakannya sbg “perang melawan Islam”. Meskipun pasukan Amerika di Iraq adl utk melindungi orang sipil dan membantu membangun kembali Iraq, tetapi Muslim di seluruh dunia dan bahkan Muslim di Barat percaya bhw adl benar bagi org Islam Sunni utk membunuh pasukan Amerika di Iraq.

Krn merasa didukung oleh Islam-lah, para Mujahid merasa bhw adl benar utk menyerang sesama org Iraq – yg telah membantu pasukan Amerika… bahkan bila mereka adl bagian dari pemerintah Iraq yg terpilih secara demokratis. Baik sipil ataupun tentara, mereka adl “Munafikin” apabila mereka membantu musuh mereka: “The Crusaders”

Meskipun kita menggunakan Iraq sbg contoh disini, bnyk contoh yg lain yg menggunakan alasan dan dasar yg sama dibalik semua terror yg dilakukan oleh Islam, dari Filipina sampai ke Thailand. Dimanapun agama Islam sebagai minoritas, selalu ada org Muslim yg percaya bhw kekerasan adl dibenarkan utk membawa mereka kepada dominasi – spt yg diajarkan oleh Muhammad dgn teladannya sewaktu menaklukkan Mekah dan tanah al-Hirath.

Dan bagaimana dgn yg disebut “orang yg tidak bersalah” yg menjadi korban dari pemboman dan penembakan? Bahkan di masa Muhammad masih hidup, pembunuhan terhadap mereka juga tdk dpt dielakkan. Bahkan didlm Hadits yg mana Muhammad melarang pembunuhan terhadap para perempuan, juga terindikasi bhw ada korban perempuan disetiap perang yg diperintahkan oleh Muhammad. (Btw, perempuan dilarang dibunuh dalam perang muslim bukan karena alasan kemanusiaan, tetapi justru karena alasan syahwat semata. Bila ditanya, mungkin dari kebanyakan perempuan tawanan begundal-begundal muhammad itu akan lebih memilih dibunuh daripada jadi slave sex kaum bersorban. -adm)

Peristiwa ketika orang Muhammad memperingati dia bhw penyerangan di malam hari terhadap markas musuh dapat mengakibatkan terbunuhnya perempuan dan anak-anak dpt kita jadikan contohnya. Krn Muhammad tetap melaksanakan penyerangan tersebut.

Faktanya, Islam secara terbuka membenarkan Jihad. Persepsi awal yg dikatakan ttg pembelaan diri terhadap ancaman, perlahan tapi pasti berubah menjadi kampanye kekerasan yg bertujuan utk menegakkan hukum Islam (syariah).

Islam didirikan tdk utk menjadi setara dgn agama-agama lain, Islam didirikan utk mendominasi, dgn Syariah-nya sbg hukum yg terutama. Hukum Islam hrs ditegakkan sampai ke ujung bumi dan utk melaksanakan Islam dpt menghalalkan semua cara.

Para pembela Islam di dunia Barat sering mengatakan bhw bnyk ayat-ayat kekerasan di Quran hanya relevan di “waktu perang”. Utk hal ini, para teroris Islam sangatlah setuju dgn mereka, bhw saat ini mereka menganggap sedang di dalam situasi peperangan.


9. ISLAM ADALAH DEMOKRATIS

Mitos:
Islam itu sejalan dgn prinsip-prinsip demokrasi. Islam itu sendiri adl demokrasi.

The truth:
Demokrasi adl sistem dimana semua orang adl sama kedudukannya dihadapan hukum, tdk peduli ttg ras, agama atau jenis kelamin. Pendapat semua org dihargai spt juga pendapat org lain. Keinginan bersama dari masyarakat yg akan menentukan kebijaksanaan dari masyarakat itu.

Dibawah hukum Islam, hanya laki-laki Muslim yg dpt menikmati hak-hak penuh. Keberadaan perempuan sendiri sering dihitung hanya setengah dari hak laki-laki, kadang-kadang tidak sampai setengahnya. Non-muslim sama sekali tdk mempunyai hak spt yg dipunyai Muslim.

Negara Islam dituntun oleh hukum Islam, yg diambil dari Quran dan Sunnah. Lembaga Ulama bertugas utk menafsirkan hukum tsb dan mengaplikasikannya disemua situasi sosial, budaya dan politik.

Adalah pertanyaan yg sulit dijawab, apakah ada negara di dunia Islam yg memenuhi kualifikasi demokrasi yg sesungguhnya. Dan bagaimanapun tdk dapat disangkal bhw di dalam negara demokrasi sering terjadi bentrokan krn beda kepentingan antara pemerintah dan para pemimpin rohani, yg mana pada akhirnya selalu pemerintah dikatakan kafir krn tdk menuruti para pemimpin rohani.

Kesimpulannya: Islam bukanlah demokrasi.

Total Pageviews

Subscribe via Email