Mondex Chip 666, Tanda Setan/Antikris Yang Diwahyukan Dalam ALKITAB "Sudah Ada"


Mondex Chip 666, tanda satan yang akan datang

Mondex
Mondex adalah nama sebuah perusahaan yang menyediakan sistem pembayaran tanpa uang tunai. Sistem ini telah dibeli oleh lebih 20 negara besar. Sistem ini diciptakan pada tahun 1990 oleh seorang bankir London bernama Tim Jones yang bekerja sama dengan Graham Higgins dari Natwest Coutts, sebuah bank pribadi dari keluarga Kerajaan Inggris. Sistem ini didasarkan atas teknologi Smart Card (teknologi yang dipakai oleh SIM Card pada handphone) yang memanfaatkan microchip yang dilekatkan pada kartu plastik (kartu kredit) dan mampu menyimpan informasi elektronik seperti pembayaran, identifikasi maupun bermacam-macam informasi penting lainnya. Semua transaksi dimungkinkan melalui penerapan SET (Secure Electronic Transaction / Transaksi Elektronik yang Aman).Mondex singkatan dari Monetary and Dexter. Berdasarkan Webster’s Dictionary Encylopedia (kamus Webster), arti kata-kata tersebut adalah: Money: Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang… Dexter: Menunjukkan lokasi yang adadi tangan kanan manusia.Microchip yang ada dalam “card Mondex” mengandung lambang angka (bar code). Lambang atau kode garis ini mewakili angka antikris yaitu 666 (GIA WebMaster: untuk penjelasan bar code dapat dibaca pada artikel “Tanda binatang ada di kehidupan kita”). Sistem Mondex akan menjadi solusi yang tepat untuk perekonomian dunia yang sedang dilanda krisis mata uang. Mondex merupakan satu sistem yang mendukung terciptanya satu mata uang dunia tanpa uang tunai. Mungkin sistem ini pula yang akan mewujudkan penguasaan antrikris atas dunia ekonomi di masa akan datang.Microchip Mondex yang tertanam dalam tubuh manusia menyimpan kode 666. Mereka yang memakai microchip ini mendapat fasilitas khusus. Mereka tinggal meletakkan tangan mereka di atas scanner komputer dan semua transaksi jualbeli dapat dilakukan dengan otomatis tanpa menggunakan uang tunai. Di masa yang akan datang, untuk melakukan kegiatan transaksi jual beli, setiap orang harus mempunyai tanda ini. Di kepala (dahi) atau di tangan kanannya. Kata bahasa Yunani dalam Alkitab untuk “tanda” binatang tersebut adalah “Charagma” yang berarti cap (stempel), lencana atau tanda perbudakan,perhambaan atau kerja paksa. Bilangan 666 adalah ungkapan Yunani untuk “stigma” yang berarti menusuk atau menggores sebuah tanda sebagai tanda kepemilikan. Jadi mereka yang menggunakan tanda 666 secara tidak langsung dicap sebagai budak antikris.
pokoknya, kalo dikasi jangan mau.. meskipun dipaksa pun saya tidak akan gunakan barang ini,,
Menurut Webster’s Dictionary Encyclopedia Edition artinya::
* monetary – uang
* dexter – located on the right hand
* SET – the Egyptian god of evil or Satan
Pada saat VeriChip ini sudah diberlakukan secara hukum, semua orang hanya akan bisa melakukan transaksi melalui chips yang ditanamkan di tangan atau dahi mereka. Artinya:
No Chips, NO buy!
No Chips, No Sell!
No Chips, No Food!
Revelation 13:16-18
He causes all, small and great, rich and poor, and the free men and
the slaves, to be given a mark on their right hand or on their
forehead, and he provides that no one will be able to buy or sell,
except the one who has the mark, either the name of the beast or the
number of his name. Here is wisdom. Let him who has understanding
calculate the number of the beast, for the number is that of a man;
and his number is 666.
Bagi mereka yang sudah mengetahui kebenaran akan Firman Tuhan, saya yakin mereka akan menolak chips ini. Tak sedikit orang yg tertipu dengan chips ini, menurut saya mereka (Antikris) datang kedunia ini dengan menawarkan berbagai kemudahan bagi dunia. Seperti halnya kartu kredit, mereka menwarkan hal yang lebih spektakular yakni Cashless System Payment. Tetapi apa yang tidak diketahui kebanyakan orang yang tidak tahu kebenaran adalah bahwa ini hanya kemajuan teknologi yang pesat. Tetapi bagi orang Kristen yang sudah mengetahui kebenaran firman Tuhan, pemakaian chips ini adalah hal yang melanggar firman Allah.. Karena semuanya telah disebutkan didalam kitab Wahyu dan nubuatan sedang digenapkan. Ingat, penanaman chips ditangan maupun dahi Anda adalah merupakan kekejian bagi Tuhan, penanaman Chips ditangan maupun dahi Anda adalah merupakan suatu bentuk dari penyembahan kepada AntiKris.
Revelation 14:9-11
Then another angel, a third one, followed them, saying with a loud
voice, “If anyone worships the beast and his image, and receives a
mark on his forehead or on his hand, he also will drink of the wine
of the wrath of God, which is mixed in full strength in the cup of
His anger; and he will be tormented with fire and brimstone in the
presence of the holy angels and in the presence of the Lamb.
DO NOT take this chip!
Thou shalt have NO other GOD before ME,
saith the LORD GOD JEHOVAH
Exodus 20
DO NOT take a mark to buy or sell. Revelation 13
If you do you CANNOT enter heaven! Revelation 14
Digital Angel dan Verichip yang ditanamkan didalam tubuh manusia akan membawa suatu trend terbaru yakni GLOBAL CASHLESS SOCIETY. Institusi keuangan dunia akan segera mengumumkan Global Cashless Society setelah penyebaran Chips ini merata. Sistem keuangan yang diterima didunia sekarang ini akan segera terganti oleh teknologi microchips dan mata uang elektronik.
________________________________________________________________
Chip 666!!!
Jauh-jauh hari sebelum ada perkembangan teknologi seperti sekarang ini, Tuhan telah menyampaikan pesan nubuatan melalui hamba-hambaNya. Bahwa akan ada satu penguasa yang akan memerintah dunia ini dengan kekuasaan sangat besar. 
Allah telah menyingkapkan kejadian masa depan ini supaya umat-Nya menjadi waspada dan sadar terhadap rencana-rencana iblis. Dia ingin semua umat-Nya diselamatkan dalam Yesus Kristus, luput dari aniaya besar yang akan terjadi. Gereja Tuhan hendaknya menggunakan hikmat Allah dalam bertindak, tekun dalam menuruti perintah Allah dan beriman teguh kepada Yesus.
Teknologi yang berkembang dengan luar biasa ini sedang mempersiapkan munculnya satu tokoh baru yang akan memerintah dunia ini. Dia adalah antikristus. Alkitab menjelaskan dalam Wahyu 13:18, antikris mempunyai bilangan seorang manusia yang berjumlah 666. “… karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam”. Ia memiliki kekuasaan yang sangat besar di bumi dan menguasai perekonomian dunia. Ia akan menyebabkan semua orang besar dan kecil masuk dalam sistem keuangan yang ditetapkannya. Mereka yang tidak mau mengikuti aturan mainnya, tidak dapat melakukan bisnis apapun. Orang ini tidak bisa membeli barang-barang di supermarket, tidak bisa berbelanja, tidak bisa
membeli ataupun menjual. Hanya yang memakai tanda 666 pada tangan atau dahinya saja yang bisa berbisnis, membeli dan menjual. “… Dan tidak ada seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya…” (Wahyu 13:16)
Penggunaan 666
Nubuatan Alkitab sedang digenapi. Pemakaian tanda 666 yang ada di dalam microchip sudah mulai dipakai di beberapa negara. Di Hongkong telah dipromosikan microchip Mondex yang ditanamkan dalam tubuh manusia. Sekitar 120.000 orang Hongkong diberi tanda ini. Mereka yang mempunyai tanda ini mendapat fasilitas dan kelebihan khusus. Di bandara Belgia ada tempat lounge (ruang tunggu) yang istimewa. Hanya orang yang menggunakan tanda 666 bisa masuk ke dalam ruangan ini. Cukup dengan menempelkan tanda pada scanner komputer, mereka mendapatkan fasilitas yang lebih. Sistem seperti Mondex dengan basis kode bar 666 ini sepertinya akan dipakai antikris dalam mengontrol dan menguasai keuangan perekonomian dunia.
Saudara bisa membayangkan apabila suatu hari ada satu bank besar di Indonesia yang mengumumkan untuk promosi penanaman microchip secara gratis dibatasi hanya 1.000.000 orang saja. Kira-kira apa yang terjadi? Sepertinya yang sudah Saudara ketahui di seluruh bank yang ada di Indonesia sekarang ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan penggunaan kartu kredit dan kartu ATM. Mereka yang ingin memiliki kartu ATM bisa mendaftarkan diri dan mengajukan permohonan tanpa dipungut biaya sama sekali asal menabung di bank tersebut. Kemudahan dalam transaksi bisnis karena adanya perkembangan teknologi smart card ini menarik minat semua orang. Apalagi untuk mendapatkannya gratis. Bagaimana jika yang gratis itu adalah penanaman microchip Mondex ini? Mereka yang memakai tanda 666 di dahinya atau di tangannya memang akan mendapat fasilitas yang lebih. Itulah yang Alkitab katakan bahwa “… tidak ada seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya”.
Mondex
Mondex adalah nama sebuah perusahaan yang menyediakan sistem pembayaran tanpa uang tunai. Sistem ini telah dibeli oleh lebih 20 negara besar. Sistem ini diciptakan pada tahun 1990 oleh seorang bankir London bernama Tim Jones yang bekerja sama dengan Graham Higgins dari Natwest Coutts, sebuah bank pribadi dari keluarga Kerajaan Inggris. Sistem ini didasarkan atas teknologi Smart Card (teknologi yang dipakai oleh SIM Card pada handphone) yang memanfaatkan microchip yang dilekatkan pada kartu plastik (kartu kredit) dan mampu menyimpan informasi elektronik seperti pembayaran, identifikasi maupun bermacam-macam informasi penting lainnya. Semua transaksi dimungkinkan melalui penerapan SET (Secure Electronic Transaction / Transaksi Elektronik yang Aman).
Mondex singkatan dari Monetary and Dexter. Berdasarkan Webster’s Dictionary Encylopedia (kamus Webster), arti kata-kata tersebut adalah: Money: Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang… Dexter: Menunjukkan lokasi yang ada
di tangan kanan manusia.
Microchip yang ada dalam “card Mondex” mengandung lambang angka (bar code). Lambang atau kode garis ini mewakili angka antikris yaitu 666 (GIA WebMaster: untuk penjelasan bar code dapat dibaca pada artikel “Tanda binatang ada di kehidupan kita”). Sistem Mondex akan menjadi solusi yang tepat untuk perekonomian dunia yang sedang dilanda krisis mata uang. Mondex merupakan satu sistem yang mendukung terciptanya satu mata uang dunia tanpa uang tunai. Mungkin sistem ini pula yang akan mewujudkan penguasaan antrikris atas dunia ekonomi di masa akan datang.
Microchip Mondex yang tertanam dalam tubuh manusia menyimpan kode 666. Mereka yang memakai microchip ini mendapat fasilitas khusus. Mereka tinggal meletakkan tangan mereka di atas scanner komputer dan semua transaksi jual
beli dapat dilakukan dengan otomatis tanpa menggunakan uang tunai. Di masa yang akan datang, untuk melakukan kegiatan transaksi jual beli, setiap orang harus mempunyai tanda ini. Di kepala (dahi) atau di tangan kanannya. Kata bahasa Yunani dalam Alkitab untuk “tanda” binatang tersebut adalah “Charagma” yang berarti cap (stempel), lencana atau tanda perbudakan,
perhambaan atau kerja paksa. Bilangan 666 adalah ungkapan Yunani untuk “stigma” yang berarti menusuk atau menggores sebuah tanda sebagai tanda kepemilikan. Jadi mereka yang menggunakan tanda 666 secara tidak langsung dicap sebagai budak.
____________________________________________________________

MONDEX: Pengenapan System Babel Dalam Era Global Cashless Society

Setelah bertahun-tahun melakukan perencanaan, penelitian dan pengembangan, lembaga-lembaga keuangan dunia pada akhirnya memperkenalkan masyarakat yang ber-sistem pembayaran tanpa uang secara global (Global Cashless Society). MONDEX adalah nama perusahaan yang menyediakan sistem tersebut, dan ternyata sistem ini telah “dibeli” oleh lebih dari 20 negara di dunia. Sistem ini diciptakan pada tahun 1993 oleh Tim Jones, seorang Bankir di kota London bersama dengan Graham Higgins dari NATWEST COUTTS, yaitu sebuah Bank pribadi keluarga Kerajaan Inggris.
MONDEX adalah singkatan dari MONETARY DEXTER, yang menurut Webter’s Dictionary Encyclopaedia berarti “segala sesuatu yang berhubungan dengan uang dan menunjuk kepada lokasi tertentu di tangan kanan manusia”. Sistem MONDEX ini menerapkan teknologi SMARTCARD, yaitu teknologi yang dipakai oleh kartu SIM GSM (kartu handphone) dan kartu kredit, yang memakai microchips yang mampu menyimpan informasi elektronis seperti pembayaran, identifikasi pribadi maupun bermacam-macam informasi. Semua transaksi dimungkinkan kelalui penerapan SET (Secure Electronic Transaction = transaksi elektronik yang aman) (catatan: SET adalah salah satu sebutan bagi dewa Mesir, menunjuk kepada setan atau Iblis). Banyak sistem SMARTCARD lain telah muncul seperti SWIFT (kita akan membahasnya), tetapi sejak MASTER CARD membeli 51 % saham MONDEX, diperkirakan MONDEX akan memegang pimpinan dalam pengembangan dan penerapan Global Cashless Society. Robin O’Kelly dari MONDEX INTERNATIONAL mengatakan: “Dengan dukungan MASTER CARD dan NETWEST COUTTS, tidak ada satupun dapat menghalangi MONDEX menjadi sistem Standart International terkemuka. Ini adalah keadaan yang akan berubah menjadi kenyataan global”. Jelas kita sedang berjalan cepat kepada penggenapan sistem Babel yang akan menguasai seluruh dunia di bawah Antikris.
ELECTRONIC TRANSFER
Pemakaian kartu dalam sistem MONDEX ini dilengkapi dengan PET (Personal Electronic Tranfer). Alatnya berbentuk seperti kalkulator mini yang memungkinkan anda untuk melakukan transaksi atau penukaran uang dengan pemakai kartu yang lain. Sistem ini juga dapat bekerja melalui sarana NORTEL BELL VISTA 360 PHONE, MILLENIUM PAY PHONE, ATM, PC INTERNET, dan seterusnya. Electronic Banking System diterapkan sepenuhnya di dalam sistem MONDEX ini. Berbagai pengujian telah dilakukan secara intensif di kota Guelph dan Ontario (Canada), juga di Amerika dan Inggris. Penyebarluasan MONDEX telah dilakukan pada tahun 1998, dan pada tahun itu juga semua Bank di Canada telah menandatangani kontrak untuk memakai sistem MONDEX ini dan akan memfungsikan, mengembangkan dan memaksimalkannya dengan segera. CIBC (Canadian International Bank of Commerce) bahkan telah membuka kantor cabang di Nortel dan Brampton (Ontario) yang sama sekali tidak menerima pemakaian uang tunai apapun. Dalam perkembangan selanjutnya tercatat lebih dari 250 perusahaan perbankan di lebih dari 20 negara di dunia telah ikut serta dalam sistem MONDEX ini, termasuk nama Indonesia tercatat di dalamnya. Negara-negara Uni Eropa bahkan telah merencanakan untuk menerapkan MONDEX secara penuh sebagai satu-satunya sistem Personal Electronic Transfer resmi mereka.
BIO-CHIP
Pada saat ini pemakaian teknologi kartu (smart-card) dengan microchip sudah diterima secara universal dan global. Dengan sebuah kartu kredit atau kartu debit anda, sebagai pembeli, dapat dengan mudah membeli sesuatu dibagian dunia manapun anda berada. Dan sebagai penjual anda juga dapat dengan mudah menerima transfer pembayaran kartu siapapun dan dari manapun berasal. Sangat mudah, cepat, dan sangat efisien. Tetapi semua kemudahan sistem ini akan bertujuan akhir kepada sebuah sistem dimana microchip bukan hanya dilekatkan pada sebuah kartu tetapi dimasukkan dalam tubuh manusia, seperti apa yang digambarkan dalam Kitab Suci.
Teknologi untuk menyuntikkan microchip dengan alat suntik laser sudah tersedia, antara lain dengan teknologi “Microchip PET Identification System”. Salah satu perusahaan yang sangat berhasil dalam percobaan meng-implementasikan bio-chip kedalam kulit binatang adalah INFOPET. Cara implementasi tersebut akan menghasilkan keberhasilan yang sama bila binatangnya diganti dengan manusia.
Di beberapa negara system ini sudah dicoba kepada manusia, dengan memakai para narapidana. Mereka bisa lari tetapi tidak bisa sembunyi, karena keberadaan mereka terus termonitor oleh GPS (Geo Possitioning Satelite). Ada juga informasi bahwa bio-chip sudah dipakai oleh kalangan jetset dan keluarganya untuk mengantisipasi penculikan pemerasan dan sebagainya. Chip dibawah kulit secara digital akan dibaca oleh scanner untuk identifikasi pemiliknya dan akan mengeluarkan file-file tertentu sesuai kebutuhan dalam kode-kode komputer. Sistem komputer ini diciptakan untuk dapat membaca lebih dari 1 milyar kata sekaligus melalui satelit GPS yang sering disebut “The Beast” dan menara telepon selular.
Perusahaan MOTOROLA dan HITACHI telah mengembangkan dan memproduksi microchip untuk MONDEX SMARTCARD, yang dapat diimplementasikan ke dalam tubuh manusia. BIO-CHIP itu diberi nama BT952000, dirancang oleh seorang pakar teknologi bio-chip, Dr. Carl Sanders sesuai dengan tugas yang diterimanya (untuk mengembangkan alat dalam tubuh manusia yang akan dipakai untuk tujuan ekonomi dan identifikasi) dan dipresentasikan di dalam konperensi ke-17 NEW WORLD ORDER. Konfrensi ini diselenggarakan secara sangat tertutup di Amerika Serikat dan melibatkan orang-orang keuangan dari kelompok Illuminati yang menempati berbagai posisi penting di seluruh dunia. Penyelenggara konfrensi tersebut merupakan kepanitiaan langsung dari organisasi “Illuminati” yang sangat rahasia dan terselubung. Bio-chip yang dipresentasikan tersebut memiliki keunggulan teknologi melalui jam ekperiment yang panjang. Berukuran panjang 7 mm dan lebar 0.75 mm dan memiliki pemancar dengan batteray lithium yang dapat diisi kembali melalui rangkaian thermo-couple yang mendapat energi listrik dari perbedaan suhu tubuh manusia. Hasil penelitian dan riset bertahun-tahun tersebut juga menunjukkan adanya dua tempat yang dianggap paling cocok dan paling aman untuk penanaman bio-chip dalam tubuh manusia, yaitu di DAHI, persis dibawah garis rambut, dan di belakang TANGAN KANAN.
“Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada TANGAN KANANNYA atau pada DAHINYA”
(Wahyu 13:16).
Dalam presentasinya, DR Sanders sempat menyatakan kekhawatirannya pada pemakaian batteray lithium untuk Bio-chip tersebut, karena apabila suatu saat batteray lithium itu pecah atau bocor maka akan mengakibatkan reaksi kimia berupa timbulnya bisul-bisul yang jahat dan berbahaya bagi manusia tersebut.
“Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya keatas bumi. Maka timbullah bisul yang jahat dan berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan menyembah patungnya“
(Wahyu 16:2).
Catatan: DR Sanders adalah penemu alat-alat pengobatan teknologi tinggi, alat-alat pengawasan untuk agen mata-mata, dan alat-alat keamanan tingkat tinggi yang sudah dipakai oleh FBI, CIA, IRS, IBM, GE, Honeywell, dan Teledyne. Dia juga menerima banyak penghargaan dari Presiden dan Gubernur untuk berbagai design dan standart mutu. Beberapa saat setelah meninggalkan proyek bio-chip, ia bertobat dan lahir baru setelah membaca dan merenungkan kitab Wahyu, terutama tentang nubuatan Kitab Suci tentang “Tanda binatang” si Antikris. Saat ini ia pensiun dan aktif dalam berbagai seminar Kristen tentang akhir zaman di Amerika Serikat.
LUCIFER ENTERPRISESelain MOTOROLA dan HITACHI, pada tahun 1996 perusahaan bernama GEMPLUS juga mengambil bagian dalam memproduksi SMARTCARD yang akan dipakai untuk implementasi sistem MONDEX untuk seluruh dunia. GEMPLUS merupakan perusahaan yang saat ini memproduksi kartu SIM GSM (untuk telepon selular) dan US DOT (untuk Departemen Pertahanan AS). Pemasarannya dilakukan oleh MARC (Multitechnology Automated Reader Card) dengan kode proyeknya bernama TESSERA. TESSERA adalah tanda bangsa Romawi yang ditempel di tubuh seorang budak sebagai tanda kepemilikan. Pemilihan nama ini bukan suatu kebetulan, tetapi memperlihatkan bagaimana “visi” Iblis tengah diterapkan dalam rangka penciptaan “ONE WORLD GOVERNMENT” di bawah penguasa tunggal Antikris. Perlu dicatat, perusahaan lain yang mengambil bagian dalam universialisme sistem MONDEX ini adalah AT & T dan LUCENT. Kedua perusahaan Amerika Serikat ini telah membeli license untuk mengoperasikan MONDEX diseluruh Amerika Serikat. Keduanya memakai logo ular naga matahari dan ular naga merah, yang merupakan lambang Iblis sendiri. LUCENT adalah singkatan dari LUCIFER ENTERPRISE, yang bermarkas di Fifth Avenue 666 Manhattan, USA. Perusahan milik Iblis ini telah membeli berbagai saham perusahaan vital diseluruh dunia (termasuk saham PT TELKOM INDONESIA). Mereka kelihatan begitu agresif dan menyolok dalam aktivitas ekonomi dunia.
Produk-produk mereka diberi nama STYX (sungai di Hades = dunia orang mati), JANUS (tuhan berwajah dua), dan INFERNO (cerita tentang Iblis di neraka). Lambang LUCENT terdiri dari lingkaran api neraka. Salah satu dari produk mereka yang paling dibanggakan adalah apa yang dikenal dengan teknologi TTS (Text To Speech), dimana melalui teknologi ini mereka memberi kehidupan kepada benda mati seperti patung atau robot yang menyerupai manusia, untuk berbicara seperti layaknya manusia hidup.
Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang yang tidak menyembah patung binatang itu dibunuh”
(Wahyu 13:15).
TANDA BINATANG 666
Kata bahasa Yunani dalam Kitab Suci Perjanjian Baru untuk tanda binatang adalah CHARAGMA yang berarti garutan, goresan, cap, lencana, atau tanda perbudakan dan perhambaan. Bilangan 666 adalah ungkapan Yunani untuk Chi Xi Stigma, yang berarti menusuk atau menggoreskan sebuah tanda kepemilikan. BIO-CHIP merupakan tanda binatang itu, yang akan di suntikkan kepada semua orang tanpa kecuali untuk dapat MEMBELI dan MENJUAL (melakukan transaksi ekonomi). Kitab Suci menjelaskan hal ini akan terjadi di ujung akhir zaman dan saat ini kita semua telah melihat penggenapan-penggenapannya. Waktu sedang berjalan cepat menuju penguasaan global oleh Antikris, dimana semua manusia harus memakai lambangnya (BioChip-Barcode), yang berarti penundukan kepada kerajaan setan untuk dapat bertransaksi (menjual dan membeli).
“Dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain daripada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya” (Wahyu 13:17).

BARCODE
Tanda binatang untuk setiap produk barang di dunia ini diterapkan UPC (Universal Product Code) BARCODE, sehingga setiap barang apapun berada di dalam kontrol system ekonomi Antikris. Saat ini sudah hampir setiap barang yang kita dapatkan di supermarket tertera BARCODE. Tanpa disadari kita sebenarnya telah mempergunakan tanda binatang itu dalam kehidupan kita sehari-hari, satu tanda dari semakin dekatnya “hari Tuhan”. Setiap BARCODE mengandung angka 666, dan terdiri dari berbagai versi. Tetapi yang paling sering ditemui adalah BARCODE 10 angka yang terbagi menjadi 2 bagian. Versi lain terdiri dari 6 angka. Tetapi dalam setiap versi terdapat 3 garis (3 bar) yang lebih tebal dan di identifikasikan komputer sebagai angka 666. Bar-bar tersebut disebut sebagai bar pemisah karena berfungsi untuk memberi tahu scanner tentang awal, tengah, dan akhir dari pembacaan scanner.
“Yang penting disini adalah hikmat, barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam“
(Wahyu 13:18).
PROYEK LUCID
Nama LUCID atau LUC-ID merupakan kependekan dari kata-kata LUCIFERIDENTIFICATION. Sistem ini merupakan Universal Information Identification System, yang dirancang untuk mampu memonitor keadaan setiap orang. Penemunya adalah Jean Paul Creusat, MD bekerjasama dengan UN-INEA (United Nation International Narcotic Enforcement Officer Association), dan diterbitkan oleh UNIVERSAL BIOMETRIC CARD. Sistem ini sudah diterapkan di UN GLOBAL SECURITY PROGRAMME(Program Keamanan Global PBB).
Dengan menyatunya sistem ini dalam MONDEX maka semua kegiatan masyarakat, setiap transaksi jual beli, dan setiap kecenderungan ekonomi akan dapat terdeteksi dan ter-identifikasi oleh setiap jaringan komputer global Antikris disetiap negara di dunia. Sistem ini memungkinkan intervensi dan kontrol penguasa atas segala kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh setiap orang. Simon Davis, seorang dari peneliti MONDEX mengatakan bahwa saat ini MONDEX sedang memonitor semua transaksi sebagai proyek percontohan yang akan menembus kebiasaan hukum perdagangan bebas.
FREEMASONRYSebagian besar pendiri dan peneliti MONDEX berasal dari bank-bank yang tergabung dalamCLUB OF ISLES (Isles adalah nama kepulauan di Inggris) dan HOUSE OF WINDSOR. Kedua club eksklusif ini didirikan oleh FREEMASONRY, jaringan organisasi Iblis terbesar di dunia dibawah koordinasi ILLUMINATI. Melalui pertemuan-pertemua rahasia mereka menjalankan strategi-strategi globalnya. Tujuan pendirian Banking-Club ini adalah untuk mendukung terciptanya kesatuan ekonomi global sesuai dengan visi Illuminati: THE NEW WORLD ORDER (Tatanan Dunia Baru), yang didasarkan atas sebuah pemerintahan (politik) global, agama global, dan ekonomi global dibawah pimpinan satu pemimpin dunia baru, si binatang itu: Antikris.

Catatan: Suatu dokumen rahasia menyebutkan bahwa Antikris adalah THE LORD OF ISLES, dan bilangan namanya adalah 666. Ia disebutkan akan menjadi figur dunia yang akan disembah oleh banyak bangsa. Dia dan keluarganya adalah orang yang pertama kali menerima implementasi BIO-CHIP di tubuhnya, dimana acara tersebut disiarkan oleh CNN pada bulan Maret 1996. (Kebenaran informasi ini meragukan karena sumber informasi tertutup).
PAGANLogo MONDEX terdiri dari TIGA LINGKARAN yang tersambung, simbol yang umumnya terdapat di perkumpulan-perkumpulan okultisme dan kebathinan New age – Freemasonry. Arti umum dari tiga lingkaran itu adalah tiga dewa Mesir (PAGAN TRINITAS), yaitu: ISIS, OSIRIS, HORUS, yang di dalam Kitab Suci disebut ASHTORETH, NIMROD, TAMMUZ/BAAL. Tiga dewa Mesir (lambang dunia) yang disatukan seperti menirukan Trinitas Kristen. Simbol ini pernah dipakai oleh sebuah kerajaan kuno di Inggris, dan oleh sebuah perkumpulan orang asing yang didirikan NERO pada tahun 55 sM. Beberapa organisasi okultisme dan kebatinan Freemasonry juga memakai simbol ini sampai sekarang.
MONDEX juga memakai logo RANTAI EMAS. Rantai merupakan lambang dari penjara, perbudakan, kekalahan. Juga diartikan sebagai hubungan langsung antara sorga (kegelapan) dan bumi (Menara Babel). Rantai Emas Homer adalah istilah yang dipakai di lingkungan MONDEX, dimana menurut mereka berarti Tuhan dihukum dan diperintahkan untuk turun dari sorga ke bumi.
Simbol MONDEX lainnya adalah KUPU-KUPU. Simbol ini mempunyai beberapa arti mistik, yang terutama adalah: Penangkapan Jiwa. Bahasa Yunani untuk kupu-kupu dan untuk jiwa adalah sama, yaitu Psyche. “Tangkap sebanyak mungkin jiwa untuk neraka”, merupakan tujuan utama Iblis. Secara perlahan tetapi pasti, dunia ini sedang dibawa kepada kesudahannya. Berbagai sistem keuangan global sedang diterapkan, masing-masing dengan kelebihannya masing-masing, tetapi tetap mempunyai tujuan yang sama, yaitu penyatuan sistim ekonomi dunia di dalam The New World Order (Tatanan Dunia Baru), One World Government (Satu Pemerintahan Dunia), melalui penerapan The New Babelonian Global System (Sistem Global Babel Baru). Semakin hari manusia akan dipaksa untuk menggunakan sistem otomatis dan elektronik untuk segala aktivitas penerimaan dan pembayaran, sampai uang kontan dihapuskan sama sekali. Home Banking melalui PC (Personal Computer) dan telepon (Internet) akan menjadi sangat penting perannya, sama seperti adanya ATM yang menggantikan fungsi Bank. Uang kontan semakin lama akan semakin sulit didapat. Di beberapa negara maju anda akan mengalami kesulitan bila anda melakukan pembayaran dengan uang kontan dalam jumlah tertentu, minimal anda akan dikenai biaya tambahan kalau tidak ditolak sama sekali. Uang kontan semakin lama semakin ditarik peredarannya, SMARTCARD akan menggantikannya. Dan kita semua sedang dibawa ke dalam penggenapan sistem Babel, sadar atau tidak. Yeshua Hamasiah sudah meperingatkan kita untuk setiap saat WASPADA dan BERJAGA-JAGA di hari yang semakin sukar dan jahat ini!
Memang kita tidak mungkin menghindar dari pemakaian teknologi Babel ini, bahkan sekarangpun kita sedang memakainya dan semua orang memakainya. Bedanya adalah mereka yang mengerti dan berpengetahuan dengan mereka yang tidak. Yeshua Hamasiah menjanjikan “kemerdekaan” bagi kita yang tinggal di dalam Dia. Sampai batasan waktu tertentu kita memang semakin tidak punya banyak pilihan, klimaksnya pada masa tribulasi dimana kita akan diperhadapkan pada pilihan dan setiap keputusan yang kita ambil membawa akibat bagi kekekalan kita.
Waspada dan berjaga menjadi pesan Yeshua Hamasiah yang harus kita perhatikan. Di hari-hari terakhir di akhir zaman ini bencana alam maupun situasi dunia yang semakin memburuk sering membuat kita tidak waspada dan tidak berjaga-jaga. Dilain pihak ada musuh yang selalu menciptakan krisis yang akan mendesak percepatan kebutuhan global dimana pada akhirnya setiap orang harus menyerahkan semua hak-hak pribadi, kebebasan, dan kepemilikan kepada sebuah sistem global yang mengatasnamakan “kedamaian dan keamanan”. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia memang sedang menuju kepada penggenapan optimal dari berlakunya sistem Babel dibawah pemerintahan Antikris. Tetapi sesaat setelah semuanya itu menjadi kenyataan yang (dalam masa tiga setengah tahun kedua masa tribulasi), Yeshua Hamasiah akan datang kembali dan segera mengakhiri pemerintahan manusia di muka bumi ini. Ia berkata agar kita jangan hidup dengan kekhawatiran terutama dengan keadaan disekitar kita, karena kita tetap mempunyai pengharapan bahwa Ia memberikan kelepasan dan perlindungan yang sempurna bagi orang-orang benar, mereka yang mengasihi, menanti-nantikan Dia, dan tinggal di dalam DIA. Sekarang waktunya untuk berusaha masuk di dalam hitungan orang-orang yang benar. Pikirkan dan responi itu, and fast…! (roy pratomo).
“Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Tuhan, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya, dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik keatas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya”
(Wahyu 14:9-11)

MUHAMMAD: “Aku Gembala Yang Diutus” YESUS: “Akulah Gembala Yang Baik”


Yesus adalah gembala yang berlainan samasekali dengan Muhammad penggembala-kambing. Muhammad adalah manusia solitaire akibat dari kemiskinan dan yatim piatu sejak kecil. Ia jadi perenung tentang banyak hal, ya tentang nasib dirinya dan ya tentang masyarakat Arabnya. Pada dasarnya ia bukan ber-natur gembala, melainkan harus menjadi gembala upahan sementara sambil memimpikan dirinya kelak bisa menjadi nabi (yang diutus) seperti Musa dan Daud, yang dianggapnya  juga sama-sama gembala tadinya. Itu adalah sebuah angan-angan dan pencocok-cocokkan Muhammad pribadi belaka kepada sosok mereka.
Salah satu buku biografi yang terkenal tentang Islam adalah Sejarah Hidup Muhammad karangan MH. Haekal. Disitu digambarkan mimpi dan firasat Muhammad bahwa ia bakal menjadi seorang Nabi. Dikatakan: “Yang menyebabkan dia (Muhammad) lebih banyak merenung dan berfikir, ialah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata (p.60):
“Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.” “Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.”
Kita tidak tahu apa yang diketahui oleh Muhammad mengenai makna “gembala” dalam era dan kisah Taurat dan Mazmur (Zabur). Kita juga tidak tahu apakah beliau tahu bahwa Alkitab membedakan domba dan kambing, sehingga penggembalaan bagi keduanya juga tidak betul-betul persis sama. Musa dan Daud adalah penggembala domba bukan kambing seperti Muhammad. Bedanya khusus terletak dalam bobot proteksi dan care , karena domba memang lebih dependant, lebih pasrah kepada gembalanya ketimbang kambing. Kita bisa menduga bahwa Muhammad itu gembala upahan, dan bukan gembala kambing milik sendiri atau dari orang tuanya. Status itu juga dibedakan oleh Alkitab.
Seorang gembala di zaman dahulu --zamannya nabi-nabi Israel--  tidak bisa dibandingkan dengan gembala yang dikenal di zaman sekarang. Dari seorang gembala dituntut tanggung-jawab yang amat besar, sedemikian sehingga fungsi gembala disamakan oleh masyarakat kuno disana sebagai tugas kepala bani dalam menuntun dan memerintah kaumnya.
Gembala itu harus mengenal setiap mata-air, sumur, wadi dan sungai. Dia harus tahu sifat airnya yang tenang untuk bisa diminum secara aman, dan bukan air deras dimana hewan tersebut mudah hanyut kalau terpeleset atau jatuh. Gembala bahkan juga siap mencari sungai atau menimba air sumur lain bagi dombanya dimusim kemarau. Ia memperhitungkan dimana masih terdapat rumput, menurut musimnya. Ia harus melindungi anak-anak domba yang belum dapat berjalan jauh. Ia memelihara induk-induk domba yang bunting atau yang sedang dalam masa menyusui.
Ia menolong merawat domba yang sakit, terluka pada batu-batu tajam dan duri, bahkan sakit apapun yang menerpa dombanya. Ia menghindarkan dombanya agar jangan seekor pun daripadanya meninggalkan kawanan, baik diperjalanan  ataupun karena takut dengan kilat dan guntur.
Gembala akan membela kawanan domba terhadap binatang buas dan pencuri. Dengan tongkat yang panjang, gembala menuntun kawanan domba. Memberi tanda maju, berbelok, atau berhenti. Ia menunjuk jalan dan sekaligus berteriak memperingati domba yang mau menjauhkan diri.
Domba adalah aset miliknya yang sangat khusus. Dianggap sangat bernilai bukan karena harganya (secara materi), tetapi karena natur gembala yang memang selalu bertanggung jawab terhadap setiap dombanya secara sangat pribadi. Itu sebabnya seorang gembala harus membelanya sampai dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Dalam pengibaratan seperti  itulah Yesus melukiskan dirinya sebagai Gembala Yang Baik. Gembala bagi umat manusia yang digambarkanNya sebagai domba-dombaNya. Dan itu dibuktikanNya dalam seluruh perjalanan kenabianNya.  Ia bukan gembala upahan atau gembala musiman. Ia berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”.
Disini kita melihat bahwa Yesus adalah gembala yang berlainan samasekali dengan Muhammad penggembala-kambing. Muhammad adalah manusia solitaire akibat dari kemiskinan dan yatim piatu sejak kecil. Ia jadi perenung tentang banyak hal, ya tentang nasib dirinya dan ya tentang masyarakat Arabnya. Pada dasarnya ia bukan ber-natur gembala, melainkan harus menjadi gembala upahan sementara sambil memimpikan dirinya kelak bisa menjadi nabi (yang diutus) seperti Musa dan Daud, yang dianggapnya  juga sama-sama gembala tadinya. Itu adalah sebuah angan-angan dan pencocok-cocokkan Muhammad pribadi belaka kepada sosok mereka. Sebab baik Musa maupun Daud tidak pernah memimpikan dirinya untuk menjadi nabi, apalagi dengan mengkaitkan kenabian mereka dengan status  gembala yang pernah dijalaninya. Tuhanlah yang memilih mereka diluar angan-angan dan dugaan! Sesungguhnya pencocokan ini hanyalah pelipur lara saja bagi si anak muda yang memimpikan masa depannya, karena ada jutaan orang-orang dahulu di Timur Tengah yang memang kerjanya sebagai gembala, dan yang selalu bisa “dicocokkan kepada kenabian” bila mau dikait-kaitkan secara umum.
Tetapi di depan semua orang Yahudi, Yesus berkata kontras bahwa Ia bukan gembala upahan (Yoh.10:11), menyusuli kalimat khusus dan sakral tentang peran diriNya, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (ayat 10).
Dia bahkan tidak hanya melihat domba-domba nya sebagai satu kawanan belaka, melainkan justru mengenalnya satu per satu secara pribadi dengan sebutan namanya masing-masing,
“Domba-domba  mendengarkan suaranya (gembalanya) dan ia memanggil domba-domba nya masing-masing  menurut namanya dan menuntunnya keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan didepan mereka dan domba-domba  itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya ....(Yohanes 10:3-4).
Kenapa harus sedemikian pribadinya?
Itulah, karena natur dari seorang gembala yang baik adalah tidak rela dan tidak mengizinkan satupun dari dombanya hilang atau tersesat. Tuhan adalah Bapa Sorgawi, yang adalah Gembala Agung, seperti yang dikonfirmasi Daud dalam kitab Zabur -nya yang paling terkenal:
“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:1-6).
Deskripsi tentang natur Tuhan Elohim ini berbeda jauh dan tidak seperti Allah SWT yang siap menyesatkan seberapapun jiwa-jiwa manusia menurut suka-suka-Nya: “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (Surat 14:4). Yesus sebagai inkarnasi Firman-Tuhan meletakkan nilai untuk satu persatu jiwa secara pribadi dalam keseluruhan totalitas kemanusiaan, karena bagiNya satu jiwa adalah seharga “semua jiwa” dalam skala dimensi-ilahiNya:
“Siapakah diantara kamu yang mempunyai 100 ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor diantaranya, tidak meninggalkan yang 99 ekor dipadang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai  ia menemukannya?” (Luk.5:4). Sambil mengingatkan kita:“Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba” (Matius 12:12).
Gembala yang baik bukan hanya bertugas untuk menyelesaikan satu hari kerja dan mendapatkan upah, tetapi ia bertanggung jawab sepenuhnya, bertarung, dan siap berkurban nyawa bagi domba-dombanya. Kesiapan Yesus untuk berkurban-nyawa ini diulangi Nya sampai empat kali (!) dalam satu pasal yang sama (yaitu ayat 11, 15, 17, 18). Dia tidak main-main dengan slogan, melainkan dia sungguh membuktikannya dihadapan publik tentang apa yang diucapkannya. Itu adalah pernyataan tentang kurban-diriNya diatas kayu salib bagi penebusan dosa manusia! Dan alangkah herannya bahwa apa yang diucapkan dan dibuktikan secara begitu serius dan mutawatir itu namun dinafikan oleh satu-satunya ayat dari Muhammad yang membantah kematiannya di atas kayu salib, tanpa bukti apapun!(Qs 4:157).
Ditempat yang lain dalam Injil, Yesus terus menerus mengindikasikan kematian-kurbannya demi membuktikan kebenaran akan kematiannnya, sekaligus maha-kasihnya bagi domba-dombanya,“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Dan kembali Muhammad tidak memberi bukti bagaimana Allah itu Mahakasih, tetapi tetap berulang-ulang  berkata sebanyak 114 kali bahwa “Allah Maha-kasih dan Maha-penyayang”. 
Akhirnya, Yesus masih menyampaikan satu kepedulian dan passion yang sama untuk menggembala satu kawanan domba lain yang tadinya tidak termasuk dalam kandang yang sama. Itu adalah domba-domba yang menolak diri Yesus sebagai ANAK DOMBA ELOHIM yang menghapus dosa manusia (Yohanes 1:29).  Disinilah Yesus menampakkan hasrat hatiNya untuk menghimpunkan keseluruhan domba-dombaNya kembali ke hadapan Tuhan – tanpa satupun yang dikecualikan! Semua mau diselamatkan dengan cara yang pasti:
“Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
MARILAH KITA RENUNGKAN HAL INI SECARA MENDALAM, dan berdoa agar Tuhan memberi hikmat dan hidayah  bagi kita untuk mampu membedakan gembala upahan dengan  Gembala Yang Baik :
“Tuhan, aku mau menjadi dombaMu yang baik, yang taat, dan mengikuti jalan yang Kaubuka dengan kuasa tongkat gembalaMu yang sanggup mengubah hidupku. Amin”.  

Kebenaran yang terungkap


Alkitab memberikan kita sarana untuk dapat membedakan mana nabi yang benar dan mana nabi yang palsu:
“Tetapi nabi yang lancang berkata-kata di dalam nama-Ku, yang tidak aku perintahkan untuk mengatakannya dan yang berkata dalam nama ilah yang lain, maka nabi itu harus mati. Dan apabila kamu berkata di dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak YAHWEH katakan? Yaitu, Apabila seorang nabi berkata demi nama YAHWEH dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak menjadi kenyataan, itulah perkataan yang tidak YAHWEH katakan – nabi itu telah berbicara dengan lancang, maka janganlah takut kepadanya” Ulangan 18:20-22.
Berdasarkan apa yang dikatakan Tuhan dalam ayat-ayat sebelumnya, kita akan menguji beberapa prediksi yang dibuat Muhammad dalam Qur’an dan tradisi-tradisi Islam untuk melihat apakah ia lulus dari pengujian Tuhan. 
Berkenaan dengan Penaklukkan Roma Terhadap Persia  
Sura 30:2-4: “Telah dikalahkan bangsa Rumawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi).”   
Sebagaimana dinyatakan dalam nubuatan tersebut, Kerajaan Byzantium memang mengalami kemenangan terhadap bangsa Persia yang pada awalnya telah mengalahkan mereka. Namun ada beberapa permasalahan mendasar sehubungan dengan nubuatan ini:
  • Menurut Yusuf Ali, bahasa Arab untuk “dalam beberapa tahun lagi”, yaitu  Bidh'un, mengandung pengertian suatu periode antara 3 sampai 9 tahun (bukan sepuluh atau belasan keatas); namun menurut catatan sejarah kemenangan itu tidak mereka alami hingga hampir 14 tahun kemudian. Orang Persia mengalahkan Byzantium dan menawan Yerusalem pada sekitar tahun 614 atau 615 M. Serangan balasan Byzantium tidak dimulai hingga 622 M dan kemenangan itu tidak dicapai sepenuhnya hingga 628 M, sehingga seluruhnya menjadi suatu periode antara 13 hingga 14 tahun, bukan hanya “beberapa tahun” seperti yang dikemukakan Qur’an.  
  • Sejarawan dan komentator Muslim yang terkemuka, al-Tabari, berpendapat kemenangan Roma terjadi pada 628 M (6 Hijriah), tepat setelah penandatanganan perjanjian  Hudaiybiya:
Menurut Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b. Ishaq – Ibn Shihab al-Zuhri -'Ubaydallah b. 'Abdullah b. 'Utbah b. Mas'ud – ‘Abdullah b. 'Abbas – Abu Sufyan b. Harb, yang mengatakan: “Saudara-saudara, kami hanyalah pedagang. Perang antara kami dengan Rasul Allah telah menghalangi perjalanan kami, sehingga kesehatan kami merosot. Setelah perjanjian damai antara kami dengan Rasul Allah, kami takut kami tidak akan mendapatkan keamanan. Saya pergi ke Syria dengan sekelompok pedagang  Quraysh. Tujuan utama kami adalah Gaza, dan kami tiba pada saat Heraclius menang atas orang Persia yang ada di negerinya – ia mengusir mereka dan mengambil kembali Salib Besarnya dari mereka, yang telah mereka rampas. Setelah menyelesaikan semuanya ini dan setelah menerima berita bahwa salibnya telah diselamatkan dari mereka (saat itu ia tinggal di Hims), ia pergi kesana berjalan kaki sambil bersyukur kepada Tuhan yang telah mengembalikan salib itu kepadanya, dan dapat berdoa di Yerusalem. Karpet-karpet digelarkan baginya, dan dedaunan wangi ditebarkan di atasnya. Ketika ia tiba di Yerusalem dan melaksanakan ibadah – ia disertai para komamndan militernya dan kaum bangsawan Roma – ia bangun dengan bersusah hati di suatu pagi sambil memandangi langit...” (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, diterjemahkan oleh Michael Fishbein [State University of New York Press, Albany 1997], Volume VIII, h. 100-101; penekanan dengan huruf tebal oleh redaksi)
Catatan kaki penerjemah berbunyi:
436. “Pada 627 Heraclius menginvasi kekaisaran Persia, dan pada bulan Desember tahun itu memperoleh kemenangan yang besar dekat Niniweh kuno, tetapi harus mundur tidak lama setelah itu. Namun demikian, pada Februari 628, Kaisar Persia dibunuh, dan putranya yang menggantikannya menginginkan damai. Tetapi sekitar 628 Heraclius menganggap dirinya sendiri telah menang, namun negosiasi mengenai evakuasi kekaisaran Byzantium oleh bangsa Persia tidak selesai hingga Juni 629. Pada September 629 Heraclius memasuki Konstantinopel sebagai pemenang, dan pada Maret 630 mengembalikan Jalan Suci ke Yerusalem" (Watt, Muhammad at Medina, 113-114). Lihat juga Ostrgorsky, History of the Byzantine State, 103-4. (Ibid., penekanan oleh penulis).
Kumpulan Hadis al-Bukhari memberikan keterangan lebih lanjut bahwa kunjungan Abu Sufyan dengan Heraclius terjadi setelah penandatanganan perjanjian Hudaiybiya:
Dikisahkan oleh  Abdullah bin 'Abbas: 
Bahwa Abu Sufyan bin Harb memberitahukannya bahwa Heraclius memanggilnya dan para anggota karavan dari Quraysh yang telah berangkat ke Sham sebagai pedagang, selama kesepakatan damai yang dibuat Rasul Allah dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.  (Sahih al-Bukhari, Volume 4, Buku 53, Nomor 399)
Watt mengemukakan kemenangan utuh Roma pada 630 M, limabelas hingga enambelas tahun setelah nubuatan Muhammad!
  • Teks asli Qur’an tidak mempunyai huruf hidup. Jadi, kata Arab Sayaghlibuna, “mereka akan mengalahkan,” dapat dengan mudah tertukar artinya, dengan mengubah dua huruf hidup, menjadi Sayughlabuna, “mereka (yaitu bangsa Roma) akan dikalahkan.” Oleh karena huruf hidup tidak ditambahkan beberapa waktu setelah peristiwa ini, sangatlah mungkin si penulis dengan sengaja bermain-main dengan teks tersebut, memaksakan teks tersebut seolah menjadi sebuah pernyataan profetis (nubuatan ilahiah).     
Kenyataan ini diperkuat oleh komentator Muslim al-Baidawi. C.G. Pfander menyebutkan komentar Baidawi dalam berbagai bacaan di seputar teks ini:
“Tetapi Al Baizawi mengaburkan keseluruhan argumen orang Muslim dengan memberi informasi pada kita mengenai beberapa varian pembacaan ayat-ayat dari Suratu'r Rum. Ia mengatakan pada kita bahwa ada yang membaca غَلَبَتِ  dan bukannya seperti biasanya, غُلِبَتِ, danسَيُغْلَبُونَ  alih-alih سَيَغْلُبُونَ. Maknanya kemudian akan menjadi: ‘Orang-orang Byzantium telah menaklukkan bagian terdekat negeri itu, dan mereka akan dikalahkan dalam beberapa tahun’. Jika ini adalah pembacaan yang tepat, maka kisah pertemuan Abu Bakr dengan Ubai pasti hanya sebuah dongeng, oleh karena Ubai sudah wafat jauh sebelum orang Muslim mulai mengalahkan Byzantium, dan bahkan jauh sebelum kemenangan-kemenangan Heraclius atas Persia. Ini menunjukkan betapa tradisi-tradisi semacam itu tidak dapat dipercayai. Penjelasan yang diberikan Al Baizawi adalah, orang-orang Byzantium menjadi para penakluk ‘negeri Syria yang terairi dengan baik’ (على ريف آلْشام), dan teks tersebut menubuatkan orang Muslim segera akan mengalahkan mereka. Jika artinya seperti ini, maka tradisi yang mencatat ‘turunnya’ ayat-ayat itu sekitar 6 tahun sebelum Hijrah pastilah salah, dan teks itu paling awal bertanggal 6 Hijriah. Sudah jelas bahwa, oleh karena huruf hidup tidak digunakan ketika Qur’an pertama kalinya ditulis dalam huruf Kufik, tidak seorangpun dapat memastikan yang manakah dari dua pembacaan tersebut yang benar.
Kita telah melihat ada banyak ketidakpatian mengenai: (1) Tanggal ayat-ayat tersebut ‘diturunkan’, (2) Pembacaan yang benar, dan (3) Maknanya, sehingga sangat mustahil untuk menunjukkan bahwa teks tersebut memuat nubuatan yang telah digenapi. Oleh karena itu, teks tersebut tidak dapat dijadikan bukti nubuat kenabian Muhammad”.  (C. G.  Pfander, Mizan-ul-Haqq – The Balance of Truth, revised and enlarged by W. St. Clair Tisdall [Light of Life P.O. Box 18, A-9503, Villach Austria], h. 279-280; penekanan oleh penulis)   
Dengan keadaan ini, seorang Muslim tidak dapat dengan yakin mengatakan pada kita pembacaan teks mana yang benar dan dengan demikian tidak dapat meyakinkan kita bahwa ayat ini aslinya menubuatkan kemenangan Byzantium atas Persia. Bahkan ini memberikan kita nubuat yang (ternyata) palsu dalam Qur’an.
  • Kita menjadi heran melihat nubuat dari Tuhan tidak dapat memerinci waktu kemenangan yang dialami, mengingat Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, yang telah menetapkan akhir dari sebuah permulaan. Ketika Tuhan memerinci suatu kerangka waktu sebagai sebuah bagian yang penting dari nubuatan maka kita mengharapkan ketepatan waktu, bukan menerka-nerka tanpa juntrung. Apabila Tuhan menebak orang Byzantium pada suatu ketika akan menang, yaitu dalam “beberapa tahun” (yang ternyata nyasar kebelasan tahun) dan bukannya menetapkan tahun yang pasti, itu tidaklah konsisten dengan keyakinan akan Dia yang Maha Kuasa dan Maha Hadir. Dengan demikian, tidak mungkin Tuhan yang sejati membuat nubuatan semacam itu.
Menariknya, frase “beberapa tahun” malahan semakin mendiskreditkan nubuatan ini. Abu Bakr meyakini istilah “beberapa tahun” berarti orang-orang Byzantium akan memperoleh kemenangan dalam waktu 3 tahun:  
“Teks ini berkenaan dengan kekalahan orang-orang Byzantium di Syria oleh orang Persia di bawah Khusran Parvis (615 M, enam tahun sebelum Hijrah). Namun demikian, kekalahan orang Persia segera akan terjadi ‘dalam satu atau dua tahun’. Berdasarkan prediksi ini, Abu Bakr membuat taruhan dengan Ubai-ibn-Khalaf  bahwa prediksi ini akan digenapi dalam tiga tahun, tetapi ia dikoreksi oleh Muhammad yang menyatakan bahwa ‘satu dua tahun’ artinya antara 3 dan 9 tahun (Al-Baizawi)”. Orang Muslim mengatakan pada kita bahwa orang Byzantium mengalahkan musuh-musuh mereka dalam tempo 7 tahun. Namun demikian, kenyataannya orang Byzantium mengalahkan Persia pada 628 M (komentari Al-Baizawi). Ini 12 tahun tahun setelah nubuat Muhammad. Akibatnya teks ini tidak memenuhi kualifikasi sebuah nubuat, terutama lagi peristiwanya sangat mudah ditebak”. (Gerhard Nehls, Christians Ask Muslims [Life Challenge, SIM International; Africa, 1992], h. 70-71)   
Saat memasuki Mekkah Sura 48:27 memberikan janji berikut ini:
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” 
Ayat ini diwahyukan sehubungan dengan kegagalan usaha orang Muslim masuk ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf (ritual dalam ibadah Haji yaitu berlari di antara 2 gunung yang dianggap sebagai peringatan peristiwa Hagar menimba air untuk Ismail). 
Dalam perjalanan mereka ke Ka’bah, mereka bertemu dengan utusan Mekkah yang dipimpin Suhail b. Amr yang melarang orang Muslim menyelesaikan perjalanan mereka. Pertemuan ini kemudian berujung pada penandatanganan perjanjian Hudaibiya. 
Beberapa permasalahan timbul dari keseluruhan insiden ini. Pertama, pada penandatanganan perjanjian Hudaibiya, Muhammad sepakat dengan kaum pagan Mekkah untuk mengembalikan pada mereka orang-orang yang telah memeluk Islam. Pada saat yang sama Muhammad juga tunduk kepada tuntutan mereka untuk menggantikan tanda tangannya ‘Muhammad, Rasul Allah’ dengan ‘Muhammad, putra Abdullah’ sehingga ia diijinkan untuk berziarah ke Mekkah pada tahun berikutnya. Berikut ini diambil dari Sahih al-Bukhari, Volume 3, Buku 50, Nomor 891:   
“Ketika Suhail bin Amr datang, Nabi berkata, ‘Kini masalahnya sudah menjadi mudah’. Suhail berkata kepada Nabi, ‘Buatlah perjanjian damai dengan kami’. Jadi, Nabi memanggil juru tulis dan berkata kepadanya, ‘Tulislah: Demi nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah’. Suhail berkata, ‘Mengenai kata Maha Pemurah, demi Allah, aku tidak tahu apa artinya. Jadi tulislah: Demi nama-Mu ya Allah, seperti yang biasa kau tulis sebelumnya’. Orang Muslim berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan menulisnya kecuali: Demi nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah’. Nabi berkata, ‘Tulislah: Demi nama-Mu ya Allah’. Kemudian ia mendikte, ‘Inilah perjanjian damai yang telah dibuat Muhammad, Rasul Allah’. Suhail berkata, “Demi Allah, jika kami tahu engkau adalah Rasul Allah kami tidak akan mencegahmu mengunjungi Kabah, dan tidak akan memerangimu. Jadi, tulislah: ‘Muhammad bin Abdullah’. Nabi berkata, ‘Demi Allah! Aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian tidak mempercayaiku. Tulislah: ’Muhammad bin Abdullah.’ (Az-Zuhri berkata, ‘Nabi menerima semuanya, karena sebelumnya ia telah mengatakan bahwa ia akan menerima semua tuntutan mereka jika itu sejalan dengan ketetapan Allah’, (yaitu dengan mengijinkannya dan para sahabatnya untuk melaksanakan Umroh). Nabi berkata kepada Suhail, ‘Dengan syarat engkau mengijinkan kami mengunjungi Rumah (yaitu Kabah) supaya kami dapat melakukan Tawaf di sekelilingnya’.   Suhail berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan (mengijinkanmu tahun ini) agar tidak memberi kesempatan kepada orang-orang Arab untuk mengatakan bahwa kami telah menyerah kepada kalian, tetapi kami akan mengijinkan kalian tahun depan’. MAKA, NABI MENYURUH UNTUK MENULISKAN HAL ITU.
“Kemudian Suhail berkata, ‘Kami juga mendesak agar kalian mengembalikan pada kami siapapun yang datang pada kalian dari kami, sekalipun ia telah memeluk agama kalian’. Orang Muslim berkata, ‘Dimuliakanlah Allah! Bagaimanakah orang seperti itu dikembalikan kepada pagan setelah ia menjadi Muslim?’” (penekanan dengan cetak tebal oleh penulis). 
Salah seorang yang dari mereka yang dipaksa kembali ke Mekkah dengan kaum pagan adalah Abu Jandal. Dalam  Sirat Rasulullah (The Life of Muhammad, terj.  Alfred Guillaume, Oxford University Press), h. 505, karangan Ibn Ishaq, dikatakan:  
‘Ketika Suhayl (perwakilan orang Mekkah dan tokoh dalam perjanjian tersebut) melihat Abu Jandal, ia berdiri dan menampar wajahnya dan mencengkeram kerah bajunya, dan berkata, ‘Muhammad, kesepakatan diantara kami telah disetujui sebelum orang ini datang kepadamu’. Ia menjawab, ‘Engkau benar’. Ia mulai menariknya dengan kasar dengan mencengkeram kerah bajunya dan menyeretnya, mengembalikannya kepada Quraisy, sementara Abu Jandal menjerit sambil tercekik, ‘Apakah aku akan dikembalikan kepada para penganut politeis supaya mereka dapat membuat aku berpaling dari agamaku wahai orang Muslim?’ Dan itu menambah kemarahan orang banyak’” (penekanan oleh penulis).
Dan:
‘Sementara mereka dalam keadaan ini Abu–Jandal bin Suhail bin ‘Amr datang dari lembah Mekkah gemetaran dan tersungkur di tengah orang Muslim. Suhail berkata, ‘Wahai Muhammad! Inilah persyaratan pertama dalam perjanjian damai kami dengan engkau, yaitu engkau akan mengembalikan Abu Jandal kepadaku’. Nabi berkata, ‘Perjanjian damai itu masih belum ditulis’. Suhail berkata, ‘Aku tidak akan pernah mengijinkanmu tetap menahannya’. Nabi berkata, ‘Ya, lakukanlah’. Ia berkata, ‘Aku tidak akan melakukannya: Mikraz berkata, ‘Kami mengijinkanmu (menahannya)’. Abu Jandal berkata, ‘Wahai orang Muslim! Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang pagan walaupun aku telah menjadi Muslim? Tidakkah kalian melihat betapa aku telah menderita?’
Sebelumnya Abu Jandal telah disiksa dengan sangat berat demi tujuan Allah (Sahih al-Bukhari, Volume 3, Buku 50, Nomor 891)
Kita harus bertanya  apakah Musa pernah mengembalikan seorang petobat (terutama seorang Mesir) kembali kepada Firaun yang menyembah berhala untuk menyenangkannya dan mendapatkan apa yang diinginkannya? Apakah Yesus pernah mengkompromikan kebenaran Tuhan dengan bersepakat dengan orang Farisi dan mengembalikan para pencari kebenaran yang bukan Yahudi agar Ia dapat diterima oleh dewan pemerintahan Yahudi? Apakah Musa atau Yesus akan bertindak sejauh itu dengan menyangkali kerasulan mereka untuk memuaskan tuntutan kaum pagan? Akankah orang-orang ini menolak memuliakan Tuhan yang sejati dalam cara yang diperintahkan Sang Pencipta dan tunduk kepada permintaan orang-orang yang tidak percaya untuk menyebut nama Tuhan sesuai kehendak mereka, seperti yang dilakukan Muhammad? 
Seperti dugaan kita, orang Muslim menjadi marah, terutama Umar b. al-Khattab yang menghardik Muhammad:   
‘Umar bin al-Khattab berkata, ‘Aku menemui Nabi dan berkata, “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” Nabi berkata, “Ya, benar”. Aku berkata, “Bukankah jalan kita benar dan jalan musuh kita tidak benar?” Ia berkata, “Ya”. Aku berkata, “Jadi mengapa kita harus rendah hati dalam agama kita?” Ia berkata, “Aku adalah utusan Allah dan aku tidak melanggar perintah-Nya, dan Ia akan membuat aku berkemenangan”’ (Sahih al-Bukhari, Volume 3, Book 50, Number 891)   
Kemarahan orang-orang Muslim dapat dibenarkan ketika kita menyadari bahwa Muhammad menjanjikan para pengikutnya akan mempunyai akses ke Mekkah pada tahun itu juga. Ketika hal itu tidak terjadi, Muhammad berusaha membenarkan pernyataannya dengan mengatakan, “Ya, apakah pernah aku mengatakan padamu bahwa kita akan pergi ke Kabah tahun ini?” (Ibid) 
Dengan kata lain, oleh karena ia tidak memerinci kapan mereka akan memasuki Mekkah, ini tidak dapat dipandang sebagai nubuat palsu! Ini semata-mata hanyalah sebuah kesalahan oleh karena rombongan orang Muslim sedang dalam perjalanan menuju ke Mekkah ketika perwakilan kaum pagan Arab menghentikan mereka. Pada kenyataannya, salah satu tuntutan Muhammad dalam menandatangani perjanjian itu adalah justru agar kaum pagan mengijinkan orang Muslim menuntaskan perjalanan mereka ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf. Suhail  menolak permintaan Muhammad dan malah membuat kesepakatan sehingga orang Muslim dapat masuk ke Mekkah pada tahun berikutnya. Ibn Kathir kemudian mendukung hal ini dalam komentarinya terhadap Sura 48:27 berikut:
“Dalam sebuah mimpi, Rasul Allah melihat dirinya sendiri memasuki Mekkah dan melaksanakan Tawaf di sekitar Rumah. Ia menceritakan pada para sahabatnya mimpi ini ketika ia masih di Al-Madinah. Ketika mereka pergi ke Mekkah pada tahun Al-Hudaybyyah, tak seorangpun di antara mereka meragukan penglihatan Nabi AKAN MENJADI KENYATAAN TAHUN ITU JUGA. Ketika perjanjian damai itu telah disepakati dan mereka harus kembali ke Al-Madinah pada tahun itu, dan diijinkan kembali ke Mekkah pada tahun berikutnya, BEBERAPA ORANG SAHABAT NABI TIDAK MENYUKAI APA YANG TELAH TERJADI. ‘Umar bin Al-Khattab bertanya mengenai HAL INI, dan berkata, ‘Bukankah engkau telah mengatakan pada kami bahwa kita akan pergi ke Rumah dan melaksanakan Tawaf di sekitarnya?’” (Tafsir Ibn Kathir, Abridged, Volume 9, Surat Al-Jathiyah to the end of Surat Al-Munafiqun, Dirangkum oleh sekelompok sarjana di bawah pengawasan Shaykh Safiur-Rahman Al-Mubarakpuri [Darussalam Publishers & Distributors, Riyadh, Houston, New York, London, Lahore; edisi pertama, September 2000], h. 171; penekanan cetak tebal oleh penulis).
Al-Tabari menulis:
“Sementara Rasul Allah menulis dokumen itu – ia dan Suhayl b. ‘Amr – tiba-tiba Abu Jandal, anak Suhayl b. ‘Amr, datang dengan langkah-langkah pendek tergopoh-gopoh. Ia telah berhasil meloloskan diri menemui Rasul Allah. Para sahabat Rasul  Allah TIDAK RAGU mereka akan menaklukkan, karena ada visi yang dilihat Rasul Allah. Oleh karena itu, ketika mereka melihat apa yang ada di depan mata mereka – perdamaian, langkah mundur, dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan Rasul Allah – mereka sangat berduka akan hal itu sehingga mereka hampir putus asa. Ketika Suhayl melihat Abu Jandal, ia mendatanginya, menampar wajahnya, dan mencengkeramnya pada bagian atas jubahnya. “Muhammad”, katanya, “perjanjian itu ditandatangani antara aku dan engkau sebelum orang ini datang kepadamu”. “Engkau benar”, jawabnya. Suhayl mulai menarik dan menyeret [anaknya Abu Jandal] pada bagian atas jubahnya untuk mengembalikannya pada kaum Quraysh. Abu Jandal mulai berteriak sekuat tenaganya, “Wahai orang-orang Muslim, akankah aku dikembalikan kepada para politeis agar mereka menyiksaku oleh karena agamaku?” Ini membuat orang-orang merasa semakin marah. Rasul Allah berkata: “Abu Jandal, anggaplah sebagai pahala, karena Allah akan memberimu dan juga orang-orang yang tertindas bersamamu, kelepasan dan jalan keluar. Kami telah mengadakan perjanjian dan damai antara kami dengan orang-orang ini; kami telah berjanji pada mereka dan mereka pun telah berjanji pada kami, dan kami tidak akan berkhianat terhadap mereka”. (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, Volume VIII, h. 86-87; penekanan oleh penulis).
Ini membuktikan bahwa Muhammad sebenarnya percaya ia akan memasuki Mekkah, sebuah rencana yang tidak pernah terwujud. Untuk menyelamatkan mukanya, ia harus menyangkal bahwa ia mengatakan orang Muslim akan masuk ke Mekkah pada tahun itu juga!  
Kedua, keadaan diperburuk ketika Muhammad membatalkan perjanjian dengan orang Mekkah dengan menolak mengembalikan petobat-petobat Muslim dari kaum Quraisy. Penolakan ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hal-hal yang tercantum dalam dokumen yang telah disetujui Muhammad dan yang ditandatanganinya:  
“Umm Khulthum Uqba b. Mu’ayt berpaling kepada Rasul dalam periode ini. Kedua saudaranya ‘Umara dan Walid anak-anak ‘Uqba, datang dan meminta Rasul untuk mengembalikannya kepada mereka sesuai dengan kesepakatan antara ia dengan kaum Quraysh di Hudaybiyya, tetapi ia menolak. Allah melarangnya” (Sirat Rasulullah, p. 509; penekanan oleh penulis). 
Dengan demikian Muhammad membenarkan pembatalan sumpahnya dengan mengklaim bahwa itu adalah kehendak Allah. Malangnya bagi orang Muslim, ini akan membuktikan bahwa Tuhan yang disembah Muhammad bukanlah Tuhan dalam Alkitab yang suci, oleh karena mengingkari sumpah sangat tidak diperbolehkan (bdk. Bilangan 30:1-2). 
Berdasarkan semua ini kita harus mempertimbangkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut. Pernahkah Musa tunduk pada permintaan Firaun agar dapat membawa orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir? Pernahkah Yesus menyangkali status-Nya sebagai Mesias agar mendapatkan akses ke Bait Suci? Adakah nabi Tuhan yang sejati berkompromi dengan orang-orang tak beriman agar dapat menggenapi kehendak Tuhan? Apakah para nabi ini terus membatalkan sumpah dan janji mereka agar memperoleh keuntungan yang tidak adil terhadap orang-orang yang tak beriman? 
Satu masalah terakhir berkenaan dengan semua ini adalah, orang Muslim mengklaim bahwa setiap kata dalam Qur’an diwahyukan secara langsung oleh Allah kepada Muhammad melalui Jibril. Berdasarkan asumsi ini selanjutnya orang Muslim berpendapat tidak ada orang yang dapat menemukan perkataan Muhammad tumpang tindih dengan perkataan Allah. Jika demikian, bagaimana orang Muslim menjelaskan kenyataan bahwa Sura 48:27 memuat pernyataan insya Allah, yaitu “jika Allah menghendaki?” Apakah Allah tidak tahu apa kehendak-Nya? Jika demikian, apakah Ia tidak yakin apakah tujuan-Nya akan tercapai atau tidak sehingga Ia harus melengkapi pernyataan-Nya sendiri dengan frase insya Allah?  
Kita dapat mengerti betapa lemahnya manusia yang tidak mengetahui tujuan Tuhan itu boleh melengkapi pernyataan mereka dengan ekspresi “jika Tuhan berkehendak” (bdk. Yakobus 4:13-15). Tetapi jikalau Tuhan sendiri yang membuat kualifikasi semacam itu, ini sangat tidak layak dan tidak masuk akal. 
Lebih jauh lagi, jika Allah pada kenyataannya adalah pihak yang sedang berbicara, lalu siapa yang dimaksudkan-Nya ketika Ia mengatakan “jika Allah menghendaki”? Apakah Ia sedang berbicara mengenai diri-Nya sendiri atau orang lain? Jika Ia sedang berbicara mengenai orang lain, lalu ada berapa Allah? Atau barangkali Allah adalah Sosok yang berkepribadian banyak mengingat ada lebih dari satu Pribadi yang membentuk keesaan Allah? 
Ini membawa kita pada kesimpulan bahwa nubuat Muhammad bukan hanya tidak terwujud, tetapi motivasi-motivasinya dalam menyampaikan wahyu adalah kekuasaan, uang dan ketenaran. Ayat ini juga sekaligus membuktikan bahwa Allah bukanlah pembuat Qur’an.
Mengenai munculnya Antikristus dan akhir dunia  
Muhammad terang-terangan mengklaim bahwa Antikristus (yang disebut Dajjal), akan muncul tidak lama setelah orang Muslim menaklukkan Konstantinopel. Tradisi-tradisi berikut ini diambil dari Sunan Abu Dawud:
Dikisahkan oleh Mu'adh ibn Jabal:   
Nabi (SAW) berkata: Kejayaan Yerusalem akan terjadi ketika Yathrib tinggal reruntuhan, kehancuran Yathrib akan terjadi ketika perang besar datang, hasil akhir perang besar adalah penaklukkan Konstantinopel dan penaklukkan Konstantinopel ketika Dajjal (Antikristus) datang. Ia (Nabi) memukul paha atau pundaknya dengan tangannya dan berkata: hal ini benar sebagaimana engkau ada disini atau saat engkau sedang duduk (artinya Mu'adh ibn Jabal)???    
Dikisahkan oleh Mu'adh ibn Jabal:   
Nabi (SAW) berkata: Perang yang terbesar, penaklukkan Konstantinopel dan kedatangan Dajjal (Antikristus) akan terjadi dalam waktu tujuh bulan.
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Busr:   
Nabi (SAW) berkata: Waktu antara perang besar dan penaklukan kota (Konstantinopel) adalah tujuh tahun, dan Dajjal (Antikristus) akan datang pada tahun ketujuh. 
Berdasarkan hal itu, orang Muslim menaklukkan Yerusalem pada 636 M. Konstantinopel diambil alih oleh orang Muslim pada Mei 1453 M. tetapi nubuat mengenai Yathrib (Medinah) porak poranda dan kedatangan Antikristus yang akan terjadi pada bulan ketujuh setelah penaklukkan Konstantinopel tidak terwujud. Berdasarkan tradisi-tradisi terdahulu, Antikristus diharuskan muncul pada November 1453. 
Boleh jadi ada yang ingin berargumen bahwa peristiwa-peristiwa ini mengacu kepada penaklukan-penaklukan di masa depan. Sebagai contoh bisa jadi ada yang mengatakan bahwa Konstantinopel digunakan sebagai sebuah sinonim bagi kekaisaran Kristen Roma. Oleh karena itu, ini menubuatkan orang Muslim akan mengambil alih Roma sebelum Antikristus muncul.
Masalahnya adalah jika Muhammad berbicara mengenai Roma, sederhananya ia hanya menggunakan kata Roma (bahasa Arab: Ar-Rum). Kenyataannya, Roma/Ar-Rum adalah nama untuk Sura ke 30 dalam Qur’an. Jika ia menyebut Konstantinopel atau bahkan Byzantium ia justru akan membuat kesalahan anakronistik (penempatan peristiwa/ orang/benda pada masa yang salah). Lihat pembahasan di atas. 
Dengan demikian, berdasarkan faktor-faktor yang ada, kita terpaksa menyimpulkan bahwa nubuat-nubuat Muhammad gagal terwujud, sehingga ini mendiskualifikasinya dari klaim kenabiannya.  
Muhammad juga percaya bahwa dunia ini berusia muda dan akan berakhir tidak lama setelah kedatangannya. Kutipan-kutipan berikut ini diambil dari The History of al-Tabari, Volume 1 - General Introduction and from the Creation to the Flood (terj. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), penekanan dengan huruf cetak tebal oleh penulis:  
“Menurut Ibn Humayd-Yahya b. Wadih – Yahya Ya’qub – Hammad – Sa’id b. Jubayr – Ibn Abbas: Dunia ini adalah salah satu dari sekian banyak minggu dunia yang lain – tujuh ribu tahun. Enam ribu dua ratus tahun telah berlalu. (Dunia ini) pasti akan mengalami ratusan tahun, yang dalam masa itu tidak ada orang yang beriman kepada keesaan Allah. Yang lainnya mengatakan bahwa total lamanya waktu adalah enam ribu tahun”.  (Tabari, h. 172-173; penekanan oleh penulis). 
“Menurut  Abu Hisham- Mu'awiyah b. Hisham- Sufyan- al-A'mash- Abu Salih- Ka'b: Dunia ini berusia enam ribu tahun”. (Ibid.)   
“Menurut Muhammad b. Sahl b. 'Askar- Isma'il b. 'Abd al-Karim- 'Abd al-Samad b.   Ma'qil I- Wahb: Lima ribu enam ratus tahun usia dunia ini telah berlalu. Saya tidak tahu raja-raja dan nabi-nabi mana yang telah hidup dalam tiap periode  (zaman) dalam tahun-tahun itu. Saya bertanya pada Wahb b. Munabbih: Berapa lama (durasi total) dunia ini? Ia menjawab: Enam ribu tahun”. (Tabari, h. 173-174; penekanan oleh penulis). 
Menurut at-Tabari Muhammad percaya bahwa akhir dunia akan terjadi 500 tahun setelah kedatangannya:
“Menurut Hannad b. al-Sari and Abu Hisham al-Rifa'i- Abu Bakr b. 'Ayyash- Abu Hasin- Abu Salih- Abu Hurayrah: Rasul Allah berkata: Ketika aku diutus (untuk menyampaikan pesan ilahi), aku dan Waktu bagaikan dua ini, sambil menunjuk jari tengah dan jari telunjuknya”. (Tabari, p. 176; penekanan oleh penulis, lihat juga h. 175-181). 
Tradisi-tradisi serupa ditemukan dalam Sahih Muslim:
Hadis ini telah dilaporkan oleh Sahl b. Sa'd  bahwa ia mendengar Rasul Allah (SAW) berkata: aku dan Waktu Terakhir (sangat erat) seperti ini (dan ia, untuk menjelaskan hal itu) menunjuk (dengan menyatukan) jari telunjuk (yaitu jari) yang dekat dengan jempol dan jari tengah (bersama-sama).
Shu'ba melaporkan: Aku mendengar Qatada dan Abu Tayyab bercerita bahwa keduanya mendengar Anas ketika bercerita bahwa Rasul Allah (SAW) berkata: Aku dan Waktu Terakhir telah diutus seperti ini, dan Shu'ba  mengacungkan jari telujuk dan jari tengahnya saling berdekatan ketika ia sedang menceritakannya.
Anas melaporkan Utusan Allah (SAW) berkata: Aku dan Waktu Terakhir telah diutus seperti ini dan (ketika ia melakukannya) menggabungkan jari telunjuk dengan jari tengah.
At-Tabari mengomentari makna Waktu yang dekat dengan Muhammad bagaikan jari tengah dan jari telunjuknya:  
“Dengan demikian, (bukti mengijinkan adanya) konklusi sebagai berikut: Permulaan hari adalah terbitnya fajar, dan akhirnya adalah terbenamnya matahari. Selanjutnya, tradisi mengenai otoritas Nabi adalah benar. Seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, ia berkata setelah sembahyang siang: apa yang tersisa dari dunia ini dibandingkan dengan apa yang telah berlalu darinya bagaikan sisa hari ini dibandingkan dengan apa yang telah berlalu darinya. Ia juga berkata: Ketika aku diutus, aku dan Waktu bagaikan jari tengah dan jari telunjuk ini terjalin bersama; aku mengumpamakannya seperti ini – yaitu jari tengah – melampaui yang satunya – yaitu jari telunjuk. Selanjutnya, lamanya (waktu) antara sembahyang siang – yaitu, ketika bayangan dari segala sesuatu dua kali lebih besar dari ukuran aslinya, berdasarkan asumsi yang terbaik ('ala al-taharri) – (hingga matahari terbenam)  adalah lamanya waktu satu setengah dari sepertujuh hari, diberi atau diambil sedikit. Demikian pula, ekses panjangnya jari tengah yang melebihi jari telunjuk adalah kira-kira atau serupa dengan hal itu. Ada juga tradisi yang benar mengenai otoritas Rasul Allah, seperti yang dikisahkan Ahmad b. 'Abd al-Rahman b. Wahb kepadaku – yaitu paman kandungnya 'Abdallah b. Wahb- Mu'awiyah b. Salih- 'Abd al-Rahman b. Jubayr b. Nufayr- ayahnya  Jubayr b. Nufayr – sahabat Nabi, Abu Tha'labah al-Khushani: Rasul Alah berkata: Sesungguhnya, Allah tidak akan membuat bangsa ini tidak mampu (bertahan) setengah hari – sehubungan dengan hari dalam seribu tahun.  
“Semua fakta ini jika digabungkan akan memperjelas dua pernyataan yang telah saya sebutkan berkenaan dengan totalitas jangka waktu, satu dari Ibn Abbas, dan yang lainnya dari Ka’b, yang nampaknya lebih tepat sesuai dengan informasi dari Rasul  Allah yaitu yang diteruskan Ibn ‘Abbas kepada kami dengan otoritasnya: Dunia ini adalah satu dari minggu-minggu dunia lain – tujuh ribu tahun”. 
“Akibatnya, oleh karena demikian adanya dan laporan mengenai otoritas Rasul  Allah adalah benar – yaitu, ia melaporkan apa yang tersisa dari waktu yang dimiliki dunia ini selama masa hidupnya adalah setengah hari, atau lima ratus tahun, oleh karena lima ratus tahun adalah setengah hari dari hari-hari itu, dimana satu hari adalah seribu tahun – konklusinya adalah, waktu yang dimiliki dunia ini telah berlalu hingga ke saat pernyataan Nabi berkaitan dengan apa yang telah kami teruskan dengan otoritas Abu Tha'labah al-Khushani dari Nabi, dan adalah 6500 tahun atau kira-kira 6500 tahun. Allah lebih tahu!” (Tabari, h. 182-183, penekanan dengan cetak tebal oleh penulis)
Oleh karena itu, berdasarkan tradisi-tradisi ini Muhammad meyakini bahwa tidak hanya dunia ini berusia kurang dari 7000 tahun tetapi dunia ini akan berakhir pada hari ketujuh, atau tujuh ribu tahun sejak dunia ini diciptakan! 
Dengan demikian, dunia ini mestinya sudah berakhir kira-kira antara tahun 1070-1132 M, kurang lebih 500 tahun setelah kelahiran dan kematian Muhammad. Ini berdasarkan pada kenyataan bahwa menurut at-Tabari dan yang lainnya, kedatangan Muhammad terjadi kira-kira 6500 tahun sejak waktu penciptaan. Jelas ini lagi-lagi adalah nubuat palsu.  
Namun tanggal ini bertentangan dengan tanggal yang diperkirakan Abu Dawood dalam Sunannya. Disana, kita melihat bahwa Antikristus akan muncul tujuh bulan setelah penaklukkan Konstantinopel, sebuah peristiwa yang terjadi pada 1453 M. jika demikian, bagaimana Muhammad dapat mengklaim bahwa dunia akan berakhir 500 tahun setelah kelahiran dan kematiannya? Yang memperburuk adalah tradisi Islam yang mengklaim bahwa Antikristus benar-benar akan muncul dalam masa hidup Muhammad. Kenyataannya berdasarkan tradisi-tradisi, Antikristus adalah seorang pria bernama Ibn Saiyad:
Dikisahkan oleh Ibn 'Umar:   
‘Umar pergi bersama Nabi (SAW) dengan sekelompok orang menemui Ibn Saiyad hingga mereka melihatnya sedang bermain dengan anak-anak laki-laki dekat perbukitan Bani Mughala. Pada waktu itu Ibn Saiyad sedang memasuki masa remajanya dan tidak memperhatikan (kami) hingga nabi memukulnya dengan tangannya dan berkata kepadanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Ibn Saiyad memandangnya dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Utusan bagi orang yang buta huruf”. Kemudian Ibn Saiyad bertanya kepada Nabi (SAW), “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Rasul (SAW) menolaknya dan berkata, “Aku percaya kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya”. Kemudian ia berkata (kepada Ibn Saiyad), “Apa pendapatmu?” Ibn Saiyad menjawab, “Orang-orang benar dan para pembohong mengunjungiku”. Nabi berkata, “Engkau telah bingung dengan masalah ini”. Kemudian Nabi berkata kepadanya, “Aku memikirkan sesuatu tentang engkau, (dapatkah kau mengatakannya padaku apakah itu?)”. Ibn Saiyad berkata, “Itu adalah Al-Dukh (asap)”. (2) Nabi berkata, “Biarlah engkau ada dalam ketidaktahuan. Engkau tidak dapat melewati kekurangan-kekuranganmu”. Mendengar hal itu ‘Umar berkata, “Wahai Rasul Allah! Ijinkan aku memenggal kepalanya”. Tetapi nabi (SAW) berkata, “Jika ia adalah dia (yaitu Dajjal), maka engkau tidak dapat mengalahkannya, dan jika ia bukan, maka tidak ada gunanya membunuhnya”. (Ibn ‘Umar menambahkan): Kemudian Rasul Allah (SAW) sekali lagi pergi bersama Ubai bin Ka’b ke (kebun) pohon-pohon Kurma dimana Ibn Saiyad tinggal. Nabi (SAW) ingin mendengar sesuatu dari Ibn Saiyad sebelum Ibn Saiyad dapat melihatnya, dan nabi (SAW) melihatnya berbaring ditutupi sehelai kain dan mendengar ia menggerutu. Ibu Ibn Saiyad melihat Rasul Allah ketika ia sedang bersembunyi di balik daun-daun pohon Kurma. Ia berkata kepada Ibn Saiyad, “Wahai Saf! (inilah nama Ibn Saiyad) ada Muhammad disini”. Mendengarnya Ibn Saiyad bangun. Nabi berkata, “Suruh perempuan ini meninggalkannya (jangan ia mengganggunya), kemudian Ibn Saiyad akan menyatakan realitas kasusnya”.
Tradisi-tradisi terus mengidentifikasi Ibn Saiyad sebagai Antikristus:  
Dikisahkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir:   
Aku melihat Jabir bin 'Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn Saiyad adalah Dajjal. Aku berkata kepada  Jabir, “Bagaimana engkau bisa bersumpah demi Allah?” Jabir berkata, “Aku telah mendengar 'Umar bersumpah demi Allah berkenaan dengan hal ini di hadapan Nabi dan Nabi menyetujuinya”.
Dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah:
Muhammad ibn al-Munkadir mengatakan bahwa ia melihat Jabir ibn Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn as-Sa'id adalah Dajjal (Antikristus). Aku menunjukkan keterkejutanku dengan berkata: Engkau bersumpah demi Allah! Ia berkata: Aku mendengar Umar bersumpah mengenai itu di hadapan Rasul Allah (SAW), tetapi Rasul  Allah (SAW) tidak berkeberatan mengenai hal itu.  
Namun tradisi-tradisi ini bertentangan dengan tradisi-tradisi berikut dimana Antikristus digambarkan sebagai seorang bermata satu dan dirantai:
Dikisahkan oleh Ibn Umar:   
Suatu ketika Rasul Allah berdiri di antara orang-orang, memuliakan dan memuji Allah karena itu layak bagi-Nya dan kemudian menyebut Dajjal berkata, “Aku memperingatkan kamu akan dia (yaitu Dajjal) dan tidak ada nabi yang memperingatkan bangsanya mengenai dia. Tidak diragukan lagi, Nuh memperingatkan bangsanya mengenai dia tetapi aku mengatakan padamu mengenai sesuatu yang tidak dikatakan nabi manapun kepada bangsa ini sebelum aku. Kamu harus tahu bahwa ia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu”.
Berkisahlah Ubadah ibn as-Samit: Nabi (SAW) berkata: Aku telah mengatakan begitu banyak padamu mengenai Dajjal (Antikristus) sehingga aku takut kamu tidak mengerti. Antikristus itu pendek, berjari pendek, berambut ikal, buta, dan tidak berdiri tegak dan juga tidak berpendirian keras. Jika kamu bingung mengenai dia, ketahuilah bahwa Tuhanmu tidak bermata satu.  
Dikisahkan oleh Fatimah, anak perempuan Qays:   
Rasul Allah (SAW) pernah menunda malam sembahyang berjamaah. Ia keluar dan berkata: perkataan Tamim ad-Dari menahanku. Ia meneruskannya kepadaku dari seorang yang ada di pulau-pulau di laut. Tiba-tiba saja ia mendapati seorang perempuan yang sedang menyerat rambutnya. Ia bertanya: Siapakah engkau?
Ia berkata: Aku adalah Jassasah. Pergilah ke kastil itu. Jadi aku pergi kesana dan menemukan seorang pria yang sedang menyeret rambutnya, ia dirantai dengan besi, dan melompat-lompat antara Surga dan bumi.  
Aku bertanya: Siapakah engkau? Ia menjawab: Akulah Dajjal (Antikristus). Apakah Nabi orang-orang yang buta huruf kini telah datang? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: apakah mereka menaatinya atau tidak? Aku berkata: Tidak, mereka telah menaatinya. Ia berkata: Itu lebih baik bagi mereka.
Disini mungkin ada yang menyela dan mengklaim bahwa tradisi-tradisi menyebutkan ada 30 Antikristus yang akan datang ke dunia:
Dikisahkan oleh Abu Hurayrah:   
Nabi (SAW) berkata: Waktu Terakhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh Dajjal (para penyesat), setiap orang menganggap dirinya sendiri sebagai Rasul Allah. (lihat juga Sahih al-Bukhari, Volume 9, Buku 88, Nomor 237)   
Ini mengakibatkan Ibn Saiyad hanyalah satu dari 30 Antikristus, dan bukan SANG Antikristus yang akan datang tepat sebelum akhir dunia.  
Ada beberapa permasalahan dengan pendapat ini. Pertama, tidak satupun dari tradisi-tradisi ini yang mengklaim bahwa Ibn Saiyad adalah satu dari 30 Antikristus yang akan muncul. Melainkan, tradisi-tradisi mengemukakan bahwa dialah SANG Dajjal atau Antikristus. Kedua, jika kita mengambil tanggal-tanggal baik yang diusulkan at-Tabari atau Abu Dawood, ke-30 Dajjal itu, semuanya, harus muncul baik sebelum 1070-1132 atau 1453 M. Akhirnya berdasarkan Perjanjian Baru, Muhammad sesungguhnya adalah salah satu dari Antikristus-antikristus tersebut:
“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. ... Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa” (1 Yohanes 2:18, 22-23) 
Oleh karena Muhammad menyangkali Yesus adalah Putra Tuhan, maka ia adalah salah satu dari banyak Antikristus yang akan datang, menurut Rasul Yohanes. 
Jika yang sudah-sudah tidak terlalu buruk, tradisi-tradisi lainnya mengatakan Muhammad menubuatkan bahwa akhir segala sesuatu akan datang dalam masa hidup para pengikutnya:
'A'isha melaporkan bahwa ketika orang-orang Arab di gurun menemui  Rasul Allah (SAW) mereka bertanya mengenai Waktu Terakhir, yaitu kapankah datangnya. Dan ia memandang yang termuda di antara mereka dan berkata: Jika ia hidup ia tidak akan menjadi sangat tua sehingga ia akan melihat Waktu Terakhir mendatangimu, ia akan melihatmu sekarat.
Anas menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Rasul Allah (SAW) kapankah Waktu Terakhir akan datang. Di hadapannya ada seorang anak laki-laki dari kaum Ansar yang bernama Mahammad. Rasul Allah (SAW) berkata: Jika anak laki-laki ini hidup, ia tidak akan menjadi sangat tua hingga (ia akan melihat) Waktu Terakhir mendatangimu.
Anas b. Malik menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Utusan Allah (SAW) kapankah Waktu Terakhir akan datang? Maka Utusan Allah (SAW) berdiam diri sejenak, kemudian melihat seorang anak laki-laki di hadapannya yang berasal dari suku Azd Shanilwa dan berkata: Jika anak laki-laki ini hidup, ia tidak akan menjadi sangat tua hingga (ia akan melihat) Waktu Terakhir mendatangimu. Anas mengatakan bahwa anak laki-laki ini seusia kita pada hari-hari itu.  
Anas menceritakan: Seorang anak laki-laki dari Mughira b. Shu'ba tidak sengaja melewati (nabi suci) dan ia seusia saya. Kemudian Rasul Allah (SAW) berkata: Jika ia berumur panjang ia tidak akan menjadi sangat tua hingga datangnya Waktu Terakhir (kepada orang-orang tua dari generasi ini). 
Muhammad dengan jelas mengatakan bahwa anak laki-laki ini tidak akan menjadi sangat tua sebelum Waktu Terakhir mendatangi orang-orang. Marilah sekarang kita bermurah hati dan beranggapan bahwa anak laki-laki itu berusia 10 tahun dan hidup hingga berusia 110 tahun, sehingga Waktu Terakhir akan terjadi ratusan tahun setelah Muhammad membuat pernyataan-pernyataan ini. Namun, berabad-abad telah berlalu dan Waktu Terakhir masih belum mendatangi kita.
Tapi tunggu, masih ada lagi! Berdasarkan kisah-kisah al-Bukhari, Muhammad mengumumkan bahwa semua orang akan mati dalam waktu seratus tahun:
Dikisahkan oleh 'Abdullah bin 'Umar: 
Suatu ketika nabi memimpin kami sembahyang ‘Isya’ selama lima hari terakhir hidupnya dan setelah menyelesaikannya (sembahyang itu) (dengan Taslim) ia berkata: “Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”.
Dikisahkan oleh Abdullah: 
“Suatu malam Rasul Allah memimpin kami bersembahyang ‘Isha dan itulah yang disebut orang Al-‘Atma. Setelah menyelesaikan sembahyang, ia menghadap kami dan berkata: ‘Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah seratus tahun mulai malam ini’” (Lihat Hadis No. 575). 
Hampir 14 abad telah berlalu dan masih ada makhluk hidup di bumi ini! Hadis ini sangat bermasalah sehingga narasi lainnya berusaha untuk menjelaskannya dengan berargumen bahwa Muhammad benar-benar bermaksud tak satupun dari generasinya yang masih hidup setelah seratus tahun:
Dikisahkan oleh 'Abdullah bin 'Umar: 
Nabi melakukan sembahyang ‘Isha’ pada hari-hari terakhirnya dan setelah menyelesaikannya dengan Taslim, ia berdiri dan berkata, ““Apakah engkau mengetahui (pentingnya) malam ini? Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”. 
Orang-orang melakukan kesalahan dalam memahami pernyataan Rasul Allah dan mereka berkutat dalam hal-hal yang dikatakan mengenai para narator tersebut (yaitu ada yang mengatakan bahwa Hari Kebangkitan akan terjadi setelah 100 tahun, dll). Tetapi Nabi berkata, “Tak seorangpun yang hadir di muka bumi malam ini akan tetap hidup setelah genapnya seratus tahun mulai malam ini”; maksudnya, “Ketika abad itu (orang-orang dalam abad itu) akan berlalu”. 
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari laporan khusus ini. Pertama, perhatikan bagaimana para narator langsung mengemukakan bahwa orang Muslim memahami perkataan Muhammad yang menyatakan bahwa dunia akan berakhir dalam waktu seratus tahun. Ini memberikan bukti bahwa makna sesungguhnya dari apa yang disebut Muhammad sebagai nubuat adalah hari terakhir yang akan terjadi dalam seratus tahun. 
Kedua, perhatikan betapa tidak masuk akalnya penjelasan ad hoc ini. Orang yang mengumpulkan Hadis mengharapkan para pembacanya untuk percaya bahwa apa yang dimaksudkan Muhammad adalah tidak satupun dari generasinya yang tetap hidup dalam seratus tahun, sedangkan tidak ada yang mengherankan dari klaim semacam ini. Untuk  mengatakan satu generasi akan mati semua dalam waktu seratus tahun tidak membutuhkan pengetahuan supranatural. Satu-satunya yang dibutuhkan untuk membuat klaim semacam itu hanyalah akal sehat oleh karena harapan hidup pada jaman itu sangat rendah. Hampir-hampir tidak ada orang yang hidup lebih dari seratus tahun. Jika itu dimaksudkan sebagai sebuah pernyataan (“nubuat ilahi”) mengenai harapan hidup orang-orang di sekelilingnya, maka hal ini tentu sangat sepele, tak ada yang penting. Jadi apa tujuannya? 
Walaupun janggal, pernyataan itu sudah pasti salah. Muhammad mengatakan “di atas bumi” – itu adalah tempat yang sangat luas. Walaupun jarang ada orang yang berusia seratus tahun, kemungkinan besar mereka selalu ada sepanjang masa. Bahkan dalam masa hidup Muhammad setidaknya ada satu orang yang setua itu. Abu Afak dilaporkan mencapai usia 120 tahun:
SARIYYAH  SALIM IBN ‘UMAYR 
Lalu muncullah sariyyah Salim Ibn ‘Umayr al-‘Amri terhadap Abu ‘Afak, orang Yahudi itu, pada bulan Syawal pada permulaan bulan keduapuluh sejak hijrah Rasul Allah, semoga Allah memberkatinya. Abu ‘Afak, berasal dari banu ‘Amr Ibn ‘Awf, dan adalah seorang yang tua yang telah mencapai usia seratus dua puluh tahun. Ia adalah seorang Yahudi, dan suka menghasut orang untuk melawan Rasul Allah, semoga Allah memberkatinya, dan membuat syair-syair (satiris). Salim Ibn ‘Umayr  yang adalah salah satu peratap agung dan yang berpartisipasi dalam Perang Badr, berkata: Aku bersumpah aku akan membunuh Abu ‘Afak atau aku mati sebelum dia mati. Ia menunggu kesempatan hingga datanglah suatu malam yang panas, dan Abu ‘Afak tidur di tempat terbuka.  Salim Ibn ‘Umayr mengetahuinya,  lalu ia menusukkan pedangnya ke hatinya dan menekannya hingga menembus tempat tidurnya. Musuh Allah itu menjerit dan orang-orang yang adalah para pengikutnya bergegas mendekatinya, membawanya ke rumahnya dan merawatnya. (Ibn Sa'ad's  Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir, Terjemahan Inggris oleh S. Moinul Haq, M.A., PH.D didampingi H.K. Ghazanfar M.A. [Kitab Bhavan Exporters & Importers, 1784 Kalan Mahal, Daryaganj, New Delhi - 110 002 India), Volume II, h. 31; penekanan cetak tebal oleh penulis). 
Apakah Muhammad benar-benar ingin mengatakan: seratus tahun mulai dari sekarang, tidak ada lagi orang yang usianya lebih dari seratus tahun? Sekali lagi: apa tujuan pernyataan semacam itu? Apa kaitannya dengan berita Islam? 
Lebih jauh lagi, Muhammad menyampaikan pernyataannya itu dengan kata-kata ini: “Tahukah kamu apa pentingnya malam ini?” Untuk alasan utamanya, penafsiran alternatif yang diberikan oleh narator hanya sedikit yang masuk akal. Lagipula, dalam hal apa observasi suatu masa diperlukan, jika tidak seorangpun akan berusia lebih dari seratus tahun menjadi hal yang penting bagi orang Muslim atau Islam? Ini sama sekali tidak relevan, dan tidak relevan adalah lawan dari hal yang penting.  
Di sisi lain, proklamasi Hari Kebangkitan dan penghakiman Allah atas semua orang adalah bagian yang mendasar dalam Islam. Jika itu telah diwahyukan kepada Muhammad dalam doanya bahwa dunia akan berakhir tepat dalam tempo seratus tahun, wahyu semacam itu akan menandai malam ini, dan tidak perlu ditanyakan lagi itu adalah sesuatu yang sangat penting. 
Hanya penafsiran inilah yang benar-benar membuat pernyataan itu masuk akal. Namun demikian, masalahnya, satu-satunya penafsiran yang berarti dari pernyataan itu membawa konsekuensi bahwa Muhammad membuat nubuat yang palsu. Orang Muslim telah berusaha untuk mengalihkan hal ini dengan cara menaruh pernyataan yang tidak penting, tidak relevan – dan kemungkinan besar masih tidak tepat – ke dalam mulut Muhammad.  
Akhirnya, harus selalu diingat bahwa imam al-Bukhari mengumpulkan tradisi-tradisi ini secara kasar 250 tahun setelah perpindahan Muhammad ke Medinah (kira-kira 622/623 M), lama setelah Muhammad mengatakan bahwa dunia akan berakhir. Berdasarkan hal ini, tidaklah mengejutkan jika ia atau orang lain akan memberikan penjelasan untuk menghindar dari keharusan untuk mengakui bahwa Muhammad adalah seorang nabi palsu atau dengan sesat mengklaim bahwa Hari Kebangkitan akan terjadi seratus tahun setelah masa hidupnya.  
Oleh karena itu, tak peduli dari sudut manapun orang melihatnya, kita tetap ditinggalkan dengan kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat diperbaiki dan prediksi-prediksi palsu.
KONKLUSI    
Kita telah menguji Qur’an dan juga tradisi-tradisi Islam dan mendapati bahwa kedua sumber tersebut memuat prediksi-prediksi palsu. (Itu hanyalah bualan spekulatif yang mengatasnamakan Allah, namun yang tidak menjadi kenyataan). Berdasarkan kriteria kenabian yang diberikan Tuhan dalam Ulangan 18 kita menemukan bahwa Muhammad gagal dalam tes ini. Ini berarti bahwa Muhammad bukanlah nabi yang benar dan ia juga bukan nabi seperti Musa.
Dalam melayani Tuhan dan Juruselamat kita yang Agung, Yesus Kristus, Tuhan kita yang bangkit dan hidup selamanya. Amin. Datanglah Tuhan Yesus. Kami selalu mengasihi-Mu.

Total Pageviews

Subscribe via Email